RSS

Sistem kadang berjalan apa adanya, kita tak pernah terpikir untuk mengubahnya. Sistem adalah sesuatu yang membantu, pembantu yang berkuasa. Dunia adalah sistem itu. Sejenak berpikir kritis, dunia yang kelam perlahan beranjak estetis.

Yang Salah (kadang) Jadi Benar

Sejak kapan kita mengenal Bahasa Indonesia? Aku yakin jawabnya "sejak kita lahir", tapi itu jika kita lahir di Indonesia. Kalau lahirnya di luar negeri, ya lain cerita. Pertama kali aku dapat pelajaran formal Bahasa Indonesia, kalau nggak salah di bangku TK. Yang secara informal, dari majalah-majalah atau koran-koran, TV juga sih.........

Setelah bertahun-tahun dapat "suapan" pelajaran itu, entah kenapa ada beberapa ungkapan yang aku rasa nggak sesuai dengan apa yang dimaksud. Seperti "air putih", apa benar air itu berwarna putih? Yang aku tahu air itu nggak berwarna atau dengan kata lain bening. Kalau yang dimaksud itu adalah susu atau air lain yang berwarna putih, itu benar. Tapi sebutan "air putih" untuk air bening yang biasa kita minum itu rasanya nggak tepat. Sebutan ini sepertinya sudah puluhan tahun digunakan (atau mungkin ratusan tahun?) di masyarakat kita. Sekarang yang jadi pertanyaan, siapa yang pertama kali nggunain sebutan "air putih" itu??

Ada lagi, "menanak nasi". Sebenarnya yang ditanak itu nasinya atau berasnya? Atau beras yang sudah jadi setengah nasi?

Ungkapan yang lain adalah "diam adalah emas". Nggak selalu diam itu baik, bukan berarti juga kita harus banyak cakap. Tapi ungkapan ini kini jadi "tameng" bagi para "oknum" yang nggak mau buka mulut tentang apa yang ia lakukan. Kata mereka "'diam itu emas', lebih baik diam daripada nanti kena batunya". Boleh sih kalau itu karena ia nglakuin hal baik (biar nggak takabur), tapi kalau hal yang dilakuin itu buruk dan merugikan, sulit untuk diselidiki apa kesalahannya (mirip koruptor tuch!).

Yang lain lagi seperti "waktu adalah uang". Ungkapan ini benar, tapi penggunaannya yang kadang salah. Seperti bos-bos perusahaan yang marah-marah hanya gara-gara karyawannya datang telat. Kalau telatnya lebih dari 10 menit sih wajar, tapi kalau baru 1 atau 2 menit dan bosnya marah, apa itu wajar? Dengan nggunain "waktu adalah uang", mereka marah, dan bisa juga mereka memecat karyawannya itu (mungkin bosnya itu nggak suka sama karyawaannya itu).

Masih ada lagi sih yang lain, seperti "lidah adalah pedang" dan "mulutmu, harimaumu". Sekarang aku jadi kepikiran, kalau "diam adalah emas", "waktu adalah uang", "lidah adalah pedang", dan "mulutmu, harimaumu", mungkin kelak di masa depan orang akan investasi diam (bukan emas), beli beras dengan waktu (bukan uang), perang dengan lidah (bukan pedang), dan kebun binatang akan diisi dengan mulut (bukan harimau). Entahlah...................


NB: ini hanya pemikiranku saja, jika ada yang salah atau kurang berkenan, aku mohon maaf............

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 comments:

Didin Bakir said...

hehe.. benar juga gan!
kapan kapan tanyain sama guru bahasa indonesia ente aja gan!

Post a Comment