RSS

Sistem kadang berjalan apa adanya, kita tak pernah terpikir untuk mengubahnya. Sistem adalah sesuatu yang membantu, pembantu yang berkuasa. Dunia adalah sistem itu. Sejenak berpikir kritis, dunia yang kelam perlahan beranjak estetis.

Tawar-Menawar dengan Tuhan (oleh Kelly Donald)

            Kalau aku memikirkan keluargaku, aku menganggapnya “normal”. Dua orangtua bekerja, satu putri, seorang putra, bahkan pagar rumah warna putih. Kehidupan kami stabil dan mantap—sampai suatu hari di bulan Januari.
            Hari itu hari Minggu pagi dan aku baru saja akan berangkat untuk tugasku sebagai baby-sitter. Pintu kamarku tertutup. Tiba-tiba ibuku berlari menaiki tangga, meneriakkan namaku. Kupikir pasti ayah sedang bergurau dan mengejarnya, seperti yang sering kali dilakukannya. Kubuka pintu untuk menonton canda ria itu. Entah karena air mata di mata ibuku atau karena ekspresi ketakutannya, yang jelas aku langsung tahu ada yang benar-benar tidak beres. Dalam sekejap aku sudah di bawah bersama keluargaku, mata kami dipenuhi air mata dan wajah kami ketakutan. Ayahku di ruang bawah tanah, didudukkan di kursi, tubuhnya yang lemas dipegangi oleh kakak laki-lakiku. Ia nyaris tak bisa berjalan, hanya gumaman tidak jelas yang keluar dari mulutnya. Matanya terpejam erat-erat, napasnya berat.
            Ibuku menyuruhku keluar “menunggu ambulans”. Aku tak bisa protes. Paramedis akan tiba dalam dua atau tiga menit lagi, dan ketika itulah seluruh hidupku berubah. Apa yang terjadi? Apa yang akan aku lakukan tanpa ayahku? Kenapa dia? Kenapa aku? Kenapa aku tidak mengatakan padanya bahwa aku mencintainya?
               Suara sirene terdengar di kejauhan. Rasanya seperti jauh sekali.
          Akhirnya mereka tiba. Aku memohon mereka bergerak cepat. Petugas paramedis menghampiri ayahku, dan setelah memeriksanya sebentar, mereka mengangkutnya ke ambulans dan membawanya ke rumah sakit.
           Jam demi jam bergerak seperti bertahun-tahun lamanya. Akhirnya dokter datang dan memberitahu kami apa yang terjadi. Aku sama sekali tidak mengerti istilah-istilah medis yang digunakannya, tapi aku menangkap kata “stroke” di sana-sini. Ayahku, ayahku, terserang stroke? Mana mungkin hal ini terjadi?
         Dua hari lamanya ayahku dirawat di rumah sakit. Selama dua malam itu aku pun tawar-menawar dengan Tuhan. Aku sadar inilah saatnya aku membutuhkan bantuan-Nya. Aku bersumpah jika Dia tidak mengambil ayahku, aku tidak akan meminta apa-apa lagi dari-Nya. Aku berjanji akan memperhatikan ayahku. Aku akan menjanjikan apa saja asalkan ayahku kembali. Aku ingin duniaku yang hancur normal kembali.
             Semoga Tuhan mendengarkanku.
            Ketika kami datang pada hari ketiga, dokter langsung menemui kami. Katanya, dia harus bicara pada kami. Ini dia, pikirku.
           Dia mempersilakan kami duduk dan mulai bicara. Kusimak ucapannya dengan seksama. Akhirnya aku mendengar dia mengatakan “benar-benar pulih”. Tangisku pecah--akhirnya—air mata kebahagiaan. Doa-doaku telah terjawab. Aku mendapatkan kembali ayahku.
            Sejak itu, aku tahu tidak ada satu pun hal yang pasti. Sekarang, setiap kali orangtuaku mengatakan sesuatu, aku mendengarkan. Ketika duduk makan malam, kami menikmati kehadiran satu sama lain. Makan malam bukan lagi saat makan semata, tetapi juga saat untuk mengisi kepala dan hati kami dengan kenangan yang akan kami ingat selamanya. Dan aku akhirnya percaya bahwa kau tidak akan menyadari apa yang kaumiliki sampai milikmu itu nyaris diambil darimu.

*Kisah diambil dari buku Teen Ink

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 comments:

Anonymous said...

pesannya dapet :D

tapi perlu ditambahkan catatan bahwa 'bersumpah tidak meminta apa-apa lagi dari-Nya' sebaiknya tidak dilakukan. mungkin bisa ditengok: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al Mu’min [40] : 60)

Lathifah Fatharani said...

terima kasih :)

Post a Comment