RSS

Sistem kadang berjalan apa adanya, kita tak pernah terpikir untuk mengubahnya. Sistem adalah sesuatu yang membantu, pembantu yang berkuasa. Dunia adalah sistem itu. Sejenak berpikir kritis, dunia yang kelam perlahan beranjak estetis.

Apa Kau Tak Merasakannya?

               Pada dasarnya kita sama. Apa kau tak merasakannya? Sifat yang selama ini kita tunjukkan mempunyai persamaan. Apa kau tak merasakannya? Persamaan di dalam langkah kita yang kerap diwarnai adu argumen. Apa kau tak merasakannya? Kita yang sering tak sependapat dengan apa yang saling kita ucapkan. Apa kau tak merasakannya?
                Pada dasarnya kita sama. Aku pun sebelumnya tak menyadari, namun seiring waktu berlalu aku mulai tahu, sifat kita sama. Meski tak seutuhnya sama, hampir sama lebih tepatnya. Ini yang terkadang membuat kita berbeda pendapat karena pikiran kita ternyata sangat luas. Hal ini yang kerap membawa kita kepada keadaan paling diam, keadaan saling mendiamkan. Mungkin karena ego kita yang cukup tinggi. Hal ini pula yang sering hadirkan salah paham di antara kita. Mungkinkah ini karena kita lebih banyak diam tanpa berkata?
                Apa kau tak merasakannya? Kata orang, sahabat itu ada kala suka dan duka. Kalimat ini tak sepenuhnya salah karena kita masih sering berbagi. Apa kau tak merasakannya? Kata orang, sahabat itu saling melengkapi. Kalimat ini pun tak sepenuhnya salah karena kita masih sering untuk saling mendengar. Namun kalimat ini akan terasa salah karena sifat kita yang hampir sama. Setidaknya untuk permulaan hubungan kita.
                Beberapa sifat yang aku rasa hampir sama denganmu. Pertama, ego yang cukup tinggi. Masing-masing dari kita cukup sering untuk bertahan dengan hal yang menurut kita benar, meski dalam pandangan orang lain hal tersebut belum tentu benar. Dalam hal yang lain, aku lebih suka menyebut sifat kita ini sebagai “introvert”. Kenapa? Karena kita lebih nyaman untuk bercerita kepada orang-orang tertentu saja. Yang kedua, lebih suka untuk merasakan. Aku mulai tahu ini, aku mulai merasakannya. Kita lebih suka merasakan hal yang kita alami daripada bercerita tentang apa yang terjadi. Pada akhirnya kita hanya bisa menuliskannya.
                Berikutnya, kita sama-sama ingin menerima perhatian. Aku pun sadar akan hal itu, aku pun ingin menerima itu. Namun yang membuat ini sedikit “kacau” adalah hal sedikit ini kita gabung menjadi sesuatu yang sedikit lebih besar. Keempat, kita masih bertanya tentang arti “sahabat”. Atau mungkin kita belum menerima kata “sahabat”?
                Pada dasarnya kita sama. Persamaan ini yang kadang munculkan sebuah perlawanan. Seperti dua magnet yang mempunyai kutub yang sama, pasti akan saling bertolakan dan berlawanan. Mungkin seperti inilah kita, masih berkutat dengan arti kata “sahabat”. Pelan tapi pasti, waktu itu akan tiba dimana kita akan saling mengerti sifat masing-masing. Mungkin lebih lama dari waktu yang diperlukan sahabat Rasulullah untuk memahami si ahli surga. Mungkin juga akan perlu waktu seumur hidup.
            Pada dasarnya sifat kita sama. Apa kau tak merasakannya? Unik memang. Tak hanya perbedaan yang membuat kita saling mengerti, namun semoga persamaan kita ini juga akan membuat kita saling mengerti. Mungkin tidak untuk sekarang, mungkin juga tidak untuk waktu dekat ini, atau mungkin juga untuk waktu yang lama. Apa kau tak merasakannya? Apa karena golongan darah kita yang tak cocok? Apapun itu, semoga kita dapat merasakannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment