RSS

Sistem kadang berjalan apa adanya, kita tak pernah terpikir untuk mengubahnya. Sistem adalah sesuatu yang membantu, pembantu yang berkuasa. Dunia adalah sistem itu. Sejenak berpikir kritis, dunia yang kelam perlahan beranjak estetis.

End

Sekarang lagi dalam edisi patah hati, sakit hati, dan apapun sinonimnya. Bingung mau meluapkan ke mana, akhirnya cuma memberanikan diri nulis di sini.

Alasan kenapa patah hati nggak perlu diceritakan lah ya. Nangis? Air mata udah sampe tumpeh-tumpeh. Cerita dengan orang terdekat itu udah pasti. Hampir semuanya bilang, "ikhlasin ya, nanti pasti dapet yang lebih baik kok". Waktu dikasih nasehat saya cuma manggut-manggut aja. Tapi, untuk bisa ikhlas itu sulitnya luar biasa.

Saya ngadu, saya cerita semua yang saya rasakan ke Allah. Hal yang paling utama saya minta adalah supaya dikasih keikhlasan. Saya nggak mau punya dendam sama orang. Saya nggak mau benci sama orang. Saya nggak mau punya musuh. Tapi tetep sampe sekarang belum bisa mengikhlaskan semuanya.

Yang jadi pertanyaan adalah apakah semuanya akan sembuh seiring berjalannya waktu?
Will time heals everything? Heals my pain? :)))

Pernah saya berprasangka buruk. Jangan-jangan Allah memang tidak mengabulkan doa saya. Lalu Mona ngasih tau, cara Allah menjawab doa hambanya:
  1. Yes (langsung dikabulkan)
  2. Yes, but not now
  3. I have a better plan for you
Dan saya pikir poin nomer 3 itu yang lagi ditunjukkan sama Allah :)

Tontun juga bilang:
"Yang bisa tenangkan dirimu ya cuma kamu sendiri. Emotion gets in you. You're unable to do anything logical. Calm yourself down."
Jadi emang semuanya dimulai dari diri sendiri. Masalah nggak cuma sekali ini aja dateng, sekarang saya lagi dilatih untuk sabar dan manajemen emosi. Mulai berpikir masa depan yang masih panjang, masa depan yang indah. Ditambah lagi I'm not alone. Masih ada sahabat-sahabat, Ditun, Enji, Pepi, Kalih, Fai, Danni, Tontun, Azhari, dan temen-temen lain. Berharap banget hubungan pertemanan dengannya bakal tetap terjalin sangat baik ke depannya, jadi partner KP, dan mungkin partner TA :)
Baca SelengkapnyaEnd

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Analogi Kancing Baju

             Adi Suwarman, ayah dengan dua putra, adalah seorang aktor film ternama. Belasan judul film telah dibintanginya. Namanya kian melejit saat film terakhir yang ia bintangi diakui oleh perfilman dunia sebagai film motivasi terbaik tahun ini. Segala kesuksesannya ini tak membuat langkahnya terhenti untuk menapak kesuksesan lain. Tahun depan pesta demokrasi siap digulirkan. Tak hanya para politisi yang bersiap mencalonkan diri sebagai Calon Legisltaif (Caleg), Adi Suwarman, dapat dikatakan tak punya latar belakang politik, bersiap mencalonkan diri pula. Salah satu motivasinya adalah aji mumpung. “Gue kan aktor, masak nggak ada yang pilih gue”, begitu kira-kira yang ia pikirkan. Semua berkas dan syarat disiapkan, kemudian langkahnya terhenti. “Oiya, gue kan nggak jadi anggota parpol. Oke deh, besok gue datang ke kantor itu”, dia mantapkan hati untuk bergabung dengan salah satu parpol. Esoknya, ia datang ke kantor parpol dan mengajukan diri untuk jadi caleg dari parpol itu, dan langsung disetujui. “Amazing….”, pikirnya.
                Beberapa minggu kemudian, seorang tetangganya bertanya, “Kalau bapak nggak terpilih, bapak mau jadi artis lagi?”. “Pasti lah….jadi caleg cuma coba-coba kok, dipilih syukur, nggak dipilih ya nggak apa-apa”, senyum Adi Suwarman mengembang. Dalam pikirannya, seorang anggota MPR itu adalah jabatan yang “wah”, uangnya banyak. Nanti kalau sudah menjabat, sesekali terima tawaran main film juga nggak masalah. Setelah nggak menjabat lagi, ya balik main film lagi. Jadi anggota MPR karena ada maunya. Analogi kancing baju.
                    Di lain tempat dan situasi, Bono Suhendra adalah penjual bubur ayam yang sudah mapan. BuBon, nama bubur ayamnya, cukup terkenal di kota itu. Bahkan beberapa kali Bono Suhendra diundang sebagai pembicara dalam seminar kewirausahaan. Kesuksesannya itu tak membuatnya menghentikan langkah. Beberapa waktu ini, Rawon Mix Nasi sedang menjadi trending topic dalam bidang kuliner. Tak jauh dari BuBon, muncul penjual Rawon Mix Nasi. Tak perlu waktu lama untuk mendapatkan pelanggan karena kuliner ini sedang hot dan memang rasanya enak. Bono Suhendra tergerak untuk membuka lapak Rawon Mix Nasi juga, namun di tempat BuBon berdiri. Ya, ia ubah BuBon menjadi rawon karena ada maunya. Ingin ikut dalam trending topic juga ingin dianggap paham semua kuliner. Pada dasarnya yang menjadi masalah bukan dua hal itu, namun tempat ia membuka lapak yang dekat dengan penjual Rawon Mix Nasi dan rasa rawon buatannya yang tidak terlalu enak. Memang sih ramai, namun ini hanya di awal karena pelanggan mulai tahu mana yang enak. Perlahan Rawon Mix Nasinya Bono Suhendra mulai sepi, tidak laku, dan ia kembali menjual bubur ayam. Analogi kancing baju.
              Seorang dosen junior, nama di KTPnya Roni Sutori, cukup dipandang berwibawa. Mahasiswa dan mahasiswi yang menjadi anak didiknya sangat mengaguminya. Cara mengajarnya pun menarik. Terkadang robot, kucing, bahkan eksperimen sedikit berbahaya dibawanya ke kelas. Pokoknya top abis deh. Karena eksentriknya gaya mengajar, materi yang diajarkan dapat ditangkap dengan baik. Ini terbukti dengan susahnya soal ujian, namun dengan mudah dikerjakan mahasiswa dan mahasiswinya. Kekaguman ini berlanjut hingga satu tahun. Tahun kedua ia mengajar, semua berubah, ia menjadi aneh. Ia bersikeras meminta kepada dekan untuk menjadi pengawas ujian. Katanya sih supaya dapat melihat anak didiknya langsung. Dekan pun bingung ketika Roni Sutori menjelaskan bahwa tidak ada peraturan yang melarangnya. Dengan penjelasan apapun Roni Sutori tak bergeming. Dekan dan wakil dekan akhirnya membiarkan supaya ia dapat merasakan rasanya jadi pengawas ujian. Para dosen yang tahu kejadian ini hanya dapat menggumam “Semua kan ada bagiannya masing-masing meski nggak tertulis”. Waktu berlalu dan Roni Sutori menjadi pengawas ujian yang masih dipertanyakan. Ya, dia mengambil kerja orang lain karena ada maunya. Ingin dianggap lebih “wah” karena bisa apa saja dan ingin eksis di mata yang lain. Ujung-ujungnya setelah bosan jadi pengawas ujian, ia kembali lagi menjadi dosen, dosen yang berkurang wibawanya. Analogi kancing baju.
                Analogi kancing baju mungkin analogi yang aneh namun tepat. Ketika di suatu tempat ia terlihat, dan saat pindah ke tempat lain ia juga ingin dilihat. Bahasa sederhananya ingin ngeksis. Analogi ini mungkin juga tepat untuk orang yang keluar dari suatu jabatan dan pindah ke jabatan lain. Setelah jabatan yang kedua selesai, ia kembali lagi ke jabatan pertama. Bahasa sederhananya plin-plan. Kita hidup harus sesuai sistem karena jika melawan sistem, kita akan hancur. Sistem mengatur segalanya asalkan itu benar dan sesuai seharusnya. Ini bukan masalah eksis atau citra jika harus melawan sistem. Ini tentang konsistensi dan kredibilitas. Tiap hal ada bagiannya. Tukang bubur ayam nggak pantas jualan Rawon Mix Nasi juga. Allah pun telah membagi rezeki ke tiap insan dengan adil, ada bagiannya sendiri. Cukuplah kita introspeksi masing-masing apakah kita masih dekat dengan Sang Pencipta atau justru lebih dekat dengan dunia. Urusanmu adalah urusanmu, urusanku adalah urusanku. Keputusan yang kita ambil menentukan nilai diri kita di keesokan hari. Kita bergerak dalam bagian masing-masing dalam sistem yang kita sepakati bersama. Kita sependapat kok, ngeksis dan plin-plan bukanlah tujuan kita, namun memang kita tak dapat kendalikan laku, seperti analogi kancing baju.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Maaf jika ada kesamaan nama dan peristiwa. Semua sangat tidak disengaja dan hanya rekayasa belaka. Ini hanya sebagai renungan bersama tentang peran yang kita ambil dalam hidup :)
Baca SelengkapnyaAnalogi Kancing Baju

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Konteks Dalam Sebaris Teks


               Seperti kata orang, kata-kata itu susah dirangkai. Tepat, susah juga untuk dipahami. Sebuah kata dalam Bahasa Indonesia umumnya mempunyai paling sedikit dua huruf. Dua huruf itu, seperti di, ke, atau ya, akan mempunyai makna bermacam-macam ketika ada kata penjelas lain di depan atau belakang kata tersebut. Di samping itu, saat kata itu berdiri sendiri makna yang dimiliki akan terbias sesuai pemahaman masing-masing yang membacanya. Kata dengan dua huruf saja sudah punya makna yang bermacam-macam, apalagi yang lebih dari itu.
                Sebuah teks memang terkadang tidak punya konteks yang jelas. Seperti kalimat di sebuah twit “Perempuan telanjang itu dibolehkan”, kemudian dilanjut dengan twit berikutnya “jika dilakukan di kamar mandi”[1]. Followers yang hanya membaca twit pertama tentu akan langsung mengkritik, bahkan menghujat. Namun jika hanya membaca twit kedua, tentu tak akan paham maksudnya. Kedua twit tersebut akan berarti jika dibaca bersambungan. Keterbatasan karakter dalam Twitter memang sering mengaburkan konteks bagi orang yang tak suka memahami teks.
             Pandji Pragiwaksono, seorang Stand Up Comedian Indonesia, pernah berkata “Orang Indonesia lebih suka menangkap apa yang diucap daripada apa yang dimaksud”. Kalimat yang sederhana namun mengena. Mungkin kita pernah mengalaminya. Memang tidak nyaman ketika kalimat yang kita tulis atau ucapkan diartikan berbeda. Twitter mungkin adalah media yang paling sering menyebabkan gagal paham terjadi. Dengan 140 karakternya, Twitter menyiapkan sebuah jebakan konteks. Sangat sulit menyelipkan konteks di dalam teks yang dibatasi oleh 140 karakter itu. Hal ini terjadi pada kasus Luna Maya di Twitter beberapa tahun yang lalu[2]. Bahkan di media cetak pun salah konteks kadang tak bisa dihindari. Sebuah artikel dengan judul berbahasa Perancis mempunyai konteks yang berlainan dengan isi artikel itu sendiri[3]. Hal ini bisa terjadi karena perbedaan pemahaman bahasa dari penulis.
                Masih ingat tentang beberapa curhatan Pak SBY kepada media[4]? Mungkin di satu sisi, kalimat-kalimat yang terucap sangat tidak sesuai dengan keadaan beliau sebagai presiden. Presiden yang harusnya memikirkan rakyat justru curhat tentang dirinya pribadi. Namun dibalik itu ada yang dapat disimpulkan bahwa presiden juga manusia yang perlu curhat. Sebuah konteks yang berlainan tergantung sudut pandang yang diambil.
              SMS (Short Message Service) dalam banyak kasus menjadi penyebab timbulnya sebuah perselisihan. Kemungkinan gagal paham dalam komunikasi lewat SMS sangatlah besar. Beberapa hal yang wajib diperhatikan dalam berkomunikasi lewat SMS (media lain juga bisa)[5]. Pertama, selalu positif thinking. Isi SMS tidak bernada. Sekali lagi, ISI SMS TIDAK BERNADA. Intonasi maupun nada pengucapan isi SMS tergantung kepada si penerima, tergantung mood juga sepertinya. Penulisan yang kurang lumrah atau tidak sesuai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) juga meningkatkan resiko terjadinya gagal paham tentang konteks isi SMS tersebut. Kedua, apabila ragu dengan maksud SMS, segera tanyakan maksudnya kepada si pengirim. Sangat tidak disarankan untuk menduga-duga sendiri maksud dari SMS tersebut. Berikutnya adalah dalam beberapa hal emoticon perlu ditambahkan dalam menulis SMS untuk menegaskan maksud dari SMS tersebut.
                Tentang teks dan konteks ini secara jelas juga tersurat di Surah Al Hujuraat ayat 6. Tabayyun atau memeriksa kebenaran dari suatu berita sangatlah penting supaya tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Tak berbeda dengan hal tersebut, memahami konteks dan memeriksa maksud sebuah kalimat juga merupakan hal yang sangat penting. Pemahaman secara konteks dapat dilihat juga dalam Surah Al Maa’uun ayat 4. Jika orang awam hanya membaca ayat tersebut, tentu orang akan gagal paham tentang konteksnya. Ayat-ayat berikutnya juga wajib dibaca untuk memahami konteks yang dimaksud.
                Gagal memahami konteks tidak bisa dianggap sebagai hal sepele. Memahami konteks dari sebuah kalimat sangatlah penting, bukan hanya untuk diri sendiri, juga untuk kepentingan orang lain. Sempatkan untuk memeriksa maksud kalimat sebelum menyambar komentar, ucapan, atau tulisan seseorang. Gagal paham konteks dapat dikurangi dengan mencoba belajar berbicara secara lugas tanpa berputar-putar. Selain itu, mencoba mengerti maksud pembicaraan juga wajib dilakukan. Jika kedua hal ini bertemu, tentu keharmonisan dalam berkomunikasi akan tercipta[6]. Harmonis karena semua dapat memahami konteks dalam sebaris teks.

Referensi:

Baca SelengkapnyaKonteks Dalam Sebaris Teks

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Epilog di Awal Cerita


              Kata orang, hari ini cerah. Kata mereka, hari ini indah. Memang begitulah adanya. Aku duduk di sini, di hadapanmu. Aku, kamu, dia, dan mereka. Kita bersama memulai cerita ini dengan kehangatan. Setidaknya itu yang kurasa hingga saat ini, sebelum awal cerita ini dimulai dengan epilog.
                Aku tahu cerita ceria kita tak bisa ditulis di lembaran kertas yang putih. Sang penyair kondang pun mungkin akan menyerah untuk mencoba menuliskannya. Tawa kita, yang selalu kita bawa, hanya bisa dituliskan di awan yang berarak. Berarak tak tentu yang pasti berpola indah untuk dirasa. Cerita-cerita kita dalam butiran-butiran hari, sebelum cerita ini diisi dengan epilog.
                Seperti kata orang, kata-kata itu susah dirangkai. Tepat, susah juga untuk dipahami. Mungkin memang kita punya frekuensi yang berlainan, tak saling berinterferensi. Tapi yang ajaib, ketika waktu sedang berpihak, kita akan saling beresonansi, kita saling dukung. Aku tahu kita bisa karena biasa. Aku pun tahu kita belum bisa biasa bersama. Masih banyak celah untuk angin sepoi yang perlahan munculkan gemerisik. Perlahan kita terusik, cerita kita mulai tak apik, seperti cerita yang mulai menginjak epilog.
              Hingga hari ini ketika kamu dan dia saling bertemu. Entah seperti apa awalnya, tapi aku tahu akhirnya. Dia mulai bercerita, cerita-cerita yang sebenarnya tak ingin dia ceritakan. Kamu dan dia yang berselisih karena aku, atau kita. Hari ini ketika hujan mulai turun, begitu juga hujan dari matanya. Hingga hari ini, mungkin besok, atau mungkin lusa, selagi epilog belum berakhir.
               Cerita kita sejenak terhenti, bukan berakhir. Aku akan lebih sering mendengarkan cerita tentangmu dari dia, cerita tentang kita yang kamu ceritakan. Coba sejenak kita nilai cerita kita. Ya, mungkin nilai 8 dari 10. Belum sempurna kan? Tentu, kita akan segera menyempurnakannya. Seperti yang dia inginkan, aku ingin kita kembali bercerita bersama. Tawa kita, yang selalu kita bawa, hanya kita yang mampu melukiskannya kembali. Mungkin sekarang kita terhenti karena epilog di awal cerita ini, tapi pasti kita akan segera memulai cerita kita kembali dengan prolog menawan, klimaks di awan, dan epilog kenangan. Seperti yang aku, dia, dan mereka inginkan, begitu juga kamu.
Baca SelengkapnyaEpilog di Awal Cerita

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Our Life is Chemistry


Life is chemistry, there is no life without chemistry
(Prof. M. Utoro Yahya – Dosen Kimia UGM)

    


               Sekilas kalimat tersebut tampak berlebihan. Hidup adalah kimia? Benarkah? Mungkin bagi sebagian orang, hidup itu adalah sesuatu yang tak bisa digambarkan dengan satu kata, namun bagi sebagian orang yang menekuni ilmu kimia, hidup itu adalah kimia. Tubuh, makanan, minuman, dan apa yang ada di sekitar kita adalah kimia. H2O, O2, protein, mineral, juga fotosintesis. Kimia adalah model sederhana dari kehidupan yang tentu sangatlah kompleks.
           Kehidupan itu seperti apa? Secara sederhana, kehidupan itu ada tangis, canda, tawa, masalah, konflik, suka-duka, keruwetan, dan seabrek faktor pelengkap yang lain. Secara sederhana pula, setumpuk hal tadi dapat ditemui di dalam kimia. Seseorang dapat menangis saat pertama kali berkenalan dengan kimia. Canda dan tawa selalu hadir ketika plesetan kata muncul dari Tabel Sistem Periodik Unsur. Masalah dan keruwetan adalah hal umum saat menentukan sebuah mekanisme suatu reaksi. Konflik perebutan elektron tiap atom dalam senyawa adalah hal biasa. Suka-duka karena hasil reaksi yang indah serta kaget karena tumpahnya larutan adalah pengalaman berharga.
                 Harta bisa dianalogikan sebagai elektron. Elektron akan terus beredar kepada siapa saja yang membutuhkan, seperti harta kita yang hanya titipan. Memberi adalah salah satu cara untuk mendapatkan sesuatu. Seperti atom Hidrogen yang biasa memberikan elektronnya ke atom lain, ada saatnya dia mendapatkan sebuah elektron, dan itu adalah keadaan yang sangat istimewa setelah apa yang dia berikan. Ada juga senyawa kompleks. Sifat senyawa ini sangat beragam tiap jenisnya tergantung penyusun dari senyawa tersebut. Kompleks [CoF6]3- dan [Cu(NH3)4]2+ tentu mempunyai sifat yang berbeda, seperti kehidupan yang pastinya berinteraksi dengan berbagai macam orang.
                Sifat istiqomah pun dapat dianalogikan seperti prinsip Buffer. Ibadah baiknya stabil, jika harus turun, penurunannya juga tak boleh banyak. Tapi kenaikan adalah hal yang wajib dicapai. Reaksi fusi dari nuklir juga dapat digunakan untuk menggambarkan keuntungan dari memberi dan waqaf. Sedikit hal yang kita berikan untuk waqaf akan menghasilkan sesuatu yang sangat besar untuk kita yaitu pahala yang terus mengalir. Reaksi berantai istilahnya. Ada juga analogi untuk jodoh. Setiap reaksi mempunyai kecepatan atau kinetika yang berbeda. Begitu juga dengan jodoh yang datangnya tak diketahui waktunya, bisa cepat yaitu orde 2, atau bisa juga orde 0 yang waktunya lambat.
                Model sederhana dari kehidupan, begitulah kimia. Tak melulu keruwetan dan keseriusan, canda pun dapat hadir dari kimia. Seperti senyawa Besi Bromium Iodida yang disusun dari unsur Fe-Br-I. Ya, itu adalah plesetan sebuah nama karena senyawa itu memang belum ada. Namamu juga bisa diplesetkan menjadi senyawa kimia?
                 Plesetan lucu lainnya adalah Natrium Silikat merupakan nama kimia dari nasi. Ya, karena Natrium adalah Na dan Silikat adalah Si, NaSi. Begitu juga dengan nama kimia dari minyak, yaitu B2M. Tak tahu artinya? Sederhana, B2M adalah BBM atau istilah minyak itu sendiri.
               Bukan rahasia lagi bahwa tujuan saintis mengembangkan ilmu adalah untuk lebih mensyukuri kehidupan dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta ilmu. Kimia adalah salah satu ilmu yang secara perlahan membawa kita menemukan hakikat dari kompleksnya hidup. Secara nyata pula kimia dapat mendekatkan kita kepada Sang Pencipta karena hal-hal tentang kimia banyak diulas di dalam Al Qur’an, seperti besi di dalam surah Al Hadiid.
               Hidup kita adalah kimia. Kimia adalah cara untuk mengungkap misteri yang akan tetap misteri (kata seorang dosen Kimia), seperti hidup yang selalu menjadi misteri. Chemistry is still be chemystery. Apa yang terlihat sekarang mungkin hanyalah topeng semata, topeng untuk memperindah persepsi. Kehidupan akan selalu kompleks untuk dijalani. Itu karena…….

Kehidupan nyata tak seindah warna aslinya

(Endang Astuti – Dosen Kimia UGM)
Baca SelengkapnyaOur Life is Chemistry

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Anak Kucing Yang Tak Dianggap


             “Harus seperti ini…..”, “nggak boleh gini…..”, atau “pokoknya harus……” mungkin menjadi kalimat yang sering kita dengar ketika berdiskusi dengan orang yang lebih tua daripada kita. Mungkin juga itu adalah kalimat “sakti” yang digunakan untuk menghentikan sebuah diskusi ketika argumen tidak dapat ditambahkan alasan yang akurat.
                Hal ini sering menjadi tanda tanya, terlebih ketika terjadi di keluarga sendiri. Mengapa mitos dan budaya tak boleh dijelaskan dengan logika atau ilmiah? Mengapa susah untuk membuka pikiran untuk sesuatu yang baru? Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang hingga kini masih tak dapat ditemukan jawabannya.
              Mitos dan budaya memang telah mengakar dan mendarah daging di masyarakat kita. Hingga saat ini sebagian mitos masih menjadi pengetahuan, belum menjadi ilmu. Menghapus mitos dan budaya dapat dianalogikan seperti menghentikan gelombang ombak, sangat susah. Namun bukan hal mustahil untuk meluruskan mitos dan budaya tersebut menjadi hal yang dapat diterima nalar dan logika. Perlu pendekatan dan langkah perlahan supaya tak ada penolakan terhadap apa yang menjadi penjelasan ilmiah dari mitos dan budaya tersebut.
            Pada umumnya, mitos dan budaya yang berkembang sekarang mempunyai beberapa sebab kemunculannya, seperti keterbatasan pengetahuan manusia, keterbatasan penalaran manusia, keingintahuan manusia yang telah terpenuhi sementara, dan keterbatasan alat indera manusia.[1]
            Penolakan penjelasan ilmiah terhadap mitos sering saya alami di keluarga, entah dari ibu maupun nenek. Salah satunya adalah ketika hujan turun. Kata nenek, kalau hujan turun pasti akan ada petir, jadi semua alat elektronik harus dimatikan. Memang benar hujan pasti akan menghadirkan petir, namun itu akan ditentukan oleh seberapa banyak muatan listrik yang dibawa oleh awan. Jika muatan listrik yang dibawa sedikit, maka petir pun akan semakin lemah. Terkadang hujan deras pun tidak ada petir yang nampak karena awan tidak membawa muatan listrik.[2] Hal ini berarti alat elektronik tidak harus dimatikan, asal kita harus cermat mengamati awan saat itu.
            Mitos tentang hujan yang lain adalah saat ada petir televisi harus dimatikan karena petir dapat menyambar antena televisi. Hal ini memang ada benarnya, namun jika melihat keadaan di sekitar rumah yang penuh dengan pohon-pohon tinggi, mitos ini menjadi sedikit janggal. Seperti yang kita tahu, petir akan menyambar benda-benda yang paling tinggi, sedangkan antena televisi mempunyai tinggi yang tak seberapa. Beda cerita kalau rumah kita ada di tengah lapangan.
            Selain mitos, ada juga budaya yang hingga sekarang belum didapat penjelasan yang bisa diterima logika. Seperti contoh, pernikahan adat Jawa. Kata mereka yang pernah memakai, pakaian adat Jawa itu membuat gerah. Kalau memang seperti itu, mengapa masih mau memakai? Kata mereka yang pernah memakai, pakaian adat Jawa adalah budaya yang harus dilestarikan karena sepasang pengantin dianalogikan sebagai raja dan ratu. Ya, budaya dilakukan hanya asal dilakukan, penjelasan mengapa budaya itu harus dilakukan sangat sedikit.
            Artikel ini bukan bermaksud untuk menyerang pihak-pihak tertentu. Uraian di atas hanya ingin memberikan gambaran betapa sering kita menjumpai penolakan terhadap hal-hal ilmiah, bahkan dalam keluarga sendiri. Satu hal yang pasti adalah mitos dan budaya hadir untuk menghindarkan kita dari bencana serta menata kehidupan kita menjadi lebih bermartabat. Berbagai hal seperti ini janganlah menjadi penghambat untuk terus menyebarkan ilmu-ilmu serta penjelasan ilmiah tentang mitos dan budaya di sekitar kita, meskipun mungkin kita akan menjadi anak kucing yang tak dianggap di keluarga sendiri.

Referensi:
Baca SelengkapnyaAnak Kucing Yang Tak Dianggap

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Berkaca Terhadap Jati Diri

           Hidup itu penuh dengan pilihan. Dimulai saat kita masih kecil, kita akan diberi pilihan berlatih berjalan atau langsung berlari. Beranjak dewasa, kita menemui pilihan tentang sekolah. Sekolah favorit, sekolah bagus, atau sekolah rakyat. Tak dapat dipungkiri semua pilihan dalam hidup perlu sebuah pertimbangan untuk menentukan. Pertimbangan berdasar kemampuan, prioritas, juga perkiraan hasil.
         Hal pilih-memilih terus berlanjut hingga kita tiba di jenjang/tingkat yang disebut Mahasiswa. Embel-embel kata "Maha" di depan kata "Siswa" menunjukkan betapa di-"agung"-kannya kita sebagai agent of change. Rakyat secara tidak langsung bergantung pada Mahasiswa untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik berdasar apa yang didapat selama duduk di bangku kuliah.
           Beban di pundak Mahasiswa sebagai agent of change ini terkadang diartikan lain. Fungsi Mahasiswa ini sering diartikan dapat ilmu sebanyak-banyaknya dengan waktu sesingkat-singkatnya. Mahasiswa sering berpikir bahwa nilai bagus adalah mutlak. Apapun cara dianggap pantas untuk mencapai tujuan itu. Seperti menganggap Mahasiswa hanya Kuliah-Makan-Pulang-Belajar-Tidur. Pragmatis mungkin kata yang tepat. Sifat ini cenderung self-oriented karena tujuan yang ada di depannya harus dicapai walau mengorbankan orang lain.
              Di sisi lain, Mahasiswa mempunyai sebuah pegangan atau sering disebut idealisme. Semua dianggap harus sesuai dengan pemikirannya, semua harus sesuai jalurnya. Apapun yang menyimpang akan dianggap salah. Tak dapat dipungkiri, kini idealisme dan pragmatisme sering tercampur aduk sehingga jika ditelaah kita sendiri pun bingung apa yang diharapkan Mahasiswa.
            Seperti contoh Pemira (Pemilihan Raya Mahasiswa) di salah satu universitas di Jogja beberapa bulan yang lalu. Pemira dianggap sebagai jalan tercepat untuk mendapatkan seorang pemimpin. Alasan yang ada adalah struktur masyarakat yang seperti ini kurang mendukung untuk diadakannya sebuah musyawarah. Ya, dapat dianggap ini adalah sebuah pragmatisme. Sedangkan di dalam diri Mahasiswa tentu masih terbersit jiwa untuk membangun Indonesia berdasarkan karakter maupun jati diri bangsa. Seperti yang kita tahu bahwa karakter bangsa adalah tercermin di sila ke-4 Pancasila, "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan". Idealisme Pancasila yang tak akan terlupakan, bahkan oleh Mahasiswa itu sendiri. Tak dapat dielakkan Pemira memunculkan aura persaingan hingga terkadang saling menjatuhkan dengan black campaign.
           Jadi, manakah sebenarnya sosok Mahasiswa kini? Idealis atau cenderung pragmatis? Melihat contoh di atas, pragmatisme dapat diatasi dengan musyawarah. Dimulai dari tingkat terbawah, misal perwakilan prodi atau jurusan, dilanjutkan hingga ke tingkat perwakilan paling atas, universitas. Butuh waktu lama? Pasti. Tapi inilah cara jika idealisme harus tetap dipertahankan. Di sini Indonesia, karakter bangsa timur yang wajib dijunjung.
            Menjadi idealis atau pragmatis itu pilihan. Kembali lagi harus dengan pertimbangan kemampuan, prioritas, serta perkiraan hasil. Secara sederhana, idealis adalah plan oriented, sedangkan pragmatis adalah easy going. Idealis yang harus sesuai jalur yang ditentukan, di luar itu adalah salah. Pragmatis yang nyaman dengan dirinya sendiri, cenderung tak peduli dengan orang lain.
               Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mau menerima budaya luar namun tak meninggalkan budaya sendiri. Jati diri bangsa adalah kesederhanaan sesuai norma yang ada. Idealis dan pragmatis telah berbaur dalam kehidupan sehari-hari. Banyak penjelasan tentang sosok idealis dan pragmatis, terutama di ECC UGM. Bagaimanapun itu, jadilah kita sesuai jati diri kita. Manapun pilihan yang diambil, berkacalah terhadap jati diri kita.
           
Baca SelengkapnyaBerkaca Terhadap Jati Diri

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Superhero Logic, SuperherWOW

          Kembali ke tempat ini. Setelah setengah tahun hilang dari dunia nge-blog, akhirnya bisa kembali lagi. Kayaknya perlu berbenah nich, perlu atur waktu buat nulis lagi. Sarang laba-laba mulai muncul di otakku setelah lama nggak nulis. Ngomong-ngomong tentang sarang laba-laba, jadi pengen mengulang apa yang pernah aku twit di @fbi_1412 lagi dech. Twit GJ lebih dari setahun yang lalu tentang logika para superhero dunia barat :p Ini mereka:

  • Spiderman adalah manusia laba-laba. Jaring bakal keluar dari pantat laba-laba. Tapi kenapa Spiderman jaringnya keluar dari tangan? Untuk men-"sopan"-kan penampilan? It's okay #superherWOW
  • Tahu kan superhero yang nggak pakai topeng? Tepat, Superman. Satu hal yang pasti ditanyakan dari dulu hingga sekarang, kenapa pakai celana dalam di luar? :D Seni mungkin. Satu lagi, meski nggak pakai topeng, tapi identitasnya nggak ketahuan. Bagaimana bisa? Entahlah #superherWOW
  • Manusia serigala atau Werewolf cuma ada saat bulan purnama. Perubahannya menjadi serigala ditandai dengan munculnya bulu lebat di tubuhnya. Jangan-jangan karena gaya tarik bulan purnama yang kuat bulu-bulunya tertarik keluar dari tubuhnya hingga jadi Werewolf #superherWOW
  • Pelari tercepat di dunia, Flash. Lihat betapa cepatnya dia berlari. Tapi yang patut diperhatikan saat dia berbelok. Menurut hukum Fisika, saat dia berbelok dengan kecepatan super, harusnya dia bakal keluar jalur, tersungkur #superherWOW
  • Pengendara sepeda motor? Ya, dia Ghost Rider. Tubuh dan sepeda motornya terbakar. Mungkin si pengendara memang hantu, tapi masak ada motor hantu. Motornya juga nggak terbakar, bannya nggak meleleh #superherWOW
  • Batman, superhero kaya. Lihat saja mobilnya, keren dan canggih. Yang patut jadi pertanyaan, dia nggak bisa terbang tapi pakai jubah di belakang. Beda dengan Superman yang bisa terbang, pakai jubah itu wajar (biar keren, mungkin). Namanya juga Bat (kelelawar). Jangan-jangan dia keluar malam karena malu karena nggak bisa terbang #superherWOW
  • Captain America, adanya cuma di Amerika. Kalau tiap negara punya kapten, di Jepang ada Captain Tsubasa lho :p #superherWOW
  • Superhero hijau? Bukan Kolor Ijo lho. Superhero yang muncul karena kecelakaan laboratorium, Hulk. Dia sebenarnya hanya manusia biasa, tapi saat marah dia akan berubah menjadi besar dan buas. Tiap dia berubah, aku pasti tersenyum. Baju dan semua yang melekat di tubuhnya sobek, tapi kenapa celananya nggak? Elastiskah? #superherWOW
          
    Mungkin itu hanya beberapa superhero yang menurutku di luar logika. Tapi secara keseluruhan, patut diacungi jempol dalam hal kreativitas. Aku tetap menikmati film-filmnya, meski sering senyum-senyum sendiri :D Superhero barat mungkin memang keren, tapi kita jangan lupa dengan superhero kita sendiri yang nggak kalah WOW.
Baca SelengkapnyaSuperhero Logic, SuperherWOW

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Aku, Kamu, dan Perbedaan Kita


              “Lihat aku, aku jadi best seller lho.....” kata sebuah buku novel karya penulis terkenal. “Best seller kalau cuma bikin orang senang berimajinasi, sama aja bohong...” kata buku yang lain. “Aku nich, buku kesehatan pasti banyak orang yang jadi sehat karena aku. Hahaha......” sebuah buku kesehatan tertawa angkuh. Buku yang lain tak kalah angkuh. Mereka saling menyombongkan diri dan menjatuhkan buku yang lain. Riuh di sebuah toko buku.
           Saling mencari kelemahan mungkin adalah hal biasa di jaman sekarang. Saling menjatuhkan untuk berdiri di puncak paling atas. Serta saling sikut untuk buktikan tak ada lagi yang sehebat diri sendiri. Semua diusahakan, dilakukan, dan dipaksakan supaya semua mata memandangnya. Entah mata sinis, setuju, atau acuh.
            Saat kita memandang ke atas, mungkin hanya sebagian kecil yang dapat kita jadikan contoh baik. Sebagian yang lain hanya pendompleng dengan pengakuan bahwa mereka paling peduli. Ke atas, kepada pemerintahan kita. Ada lagi selain saling tuduh, saling hantam, dan saling angkat tangan?
          Aku, kamu, dan perbedaan di antara kita. Tak ada manusia yang tercipta sama, bahkan kembar sekalipun. Kita pun begitu. Tercipta beda dengan karakter yang tak sama. Suatu waktu aku berjalan dan melihatmu berkumpul dengan kalanganmu. Orang mungkin menyebutnya “teknokrat” atau apalah itu. Tapi aku senang menyebutnya sebagai “pemikir yang punya misi”. Di waktu yang lain aku melihat temanmu. Dia “aktivis”, begitu kata orang. Perjuangannya memang tak diragukan. Perjuangan yang harus sesuai sistem dan alur. Perjuangan yang menolak segala non-mainstream, nyleneh, ataupun intermezzo.
          Absurd yang aku ungkapkan di sini? Memang begitulah. Terkadang bicara lugas dan apa adanya sangat ditentang di negeri ini. Lingkunganku tak kalah begitu. Perbedaan akan langsung ditendang, pemikiran akan langsung dibuang. You know that we are different. Kita Indonesia, berbeda tapi tetap satu. So, masih tetapkah kita berselisih?
           Mungkin aku bukan golonganmu, bukan juga kalanganmu. Tapi aku di sini, mendukungmu selalu. Aku tak pernah menjatuhkanmu. Aku hanya kadang berpikir “salahkah jika aku berbeda?”. Kita punya style masing-masing. Kita berjalan dengan kemampuan terpendam kita. Kita tunjukkan bahwa kita dapat saling mendukung, saling melengkapi. Bukan kerja bareng, tapi kerja sama. Saat kau di jalan mainstream, aku berlalu di tapak non-mainstream. Percayalah, kita akan tersenyum bersama karena aku, kamu, dan perbedaan kita ini.
Baca SelengkapnyaAku, Kamu, dan Perbedaan Kita

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS