RSS

Sistem kadang berjalan apa adanya, kita tak pernah terpikir untuk mengubahnya. Sistem adalah sesuatu yang membantu, pembantu yang berkuasa. Dunia adalah sistem itu. Sejenak berpikir kritis, dunia yang kelam perlahan beranjak estetis.

Bahagia Itu Sederhana: Mencium Asap

(Photo by @imaduddinYH)
             Pekan lalu, tepatnya 17 Oktober 2013, adalah hari dimana sebuah pelajaran hidup dapat diambil. Bermula dari keinginan untuk mengisi hari tasyrik dengan kegiatan yang seru. FYI, hari tasyrik adalah tiga hari tepat setelah Hari Raya Idul Adha. Pada hari itu umat Islam masih berada pada suasana perayaan Hari Raya Idul Adha. Jadi, diharamkan untuk berpuasa.

Sesungguhnya hari itu (tasyrik) adalah hari makan, minum, dan zikrullah
(HR. Muslim)

                Aku dan teman-teman akhirnya berpikir bagaimana kalau bikin kegiatan masak bareng. Inilah yang tidak dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Dengan daging qurban yang didapat tiap keluarga, diputuskan untuk menyisihkan sebagian daging untuk masak bareng ini. Kami sangat antusias, apalagi untuk urusan masak dan makan.
                 Pada awalnya kami kebingungan mau diapakan daging yang kami punya. Dimasak rendang, BBQ, atau digoreng biasa? Kami anggap itu sudah biasa. Tiba-tiba salah satu teman mengusulkan untuk masak bulgogi. Jujur, kami sering mendengar nama itu tapi tak pernah tahu rasanya. Karena penasaran, akhirnya kami langsung setuju begitu saja. Tak terpikir bagaimana rasa masakan nanti.
                Keterbatasan bahan dan bumbu membawa kami improvisasi diri. Karena sebagian daging telah diberi bumbu rendang, maka dibuat bulgogi with rendang flavour and ginger. Inovasi yang pada akhirnya kami tahu ini tak salah dicoba.
              Pada intinya, bulgogi adalah daging yang dimarinet kemudian dipanggang. Karena sesuatu hal, kami menggunakan penggorengan teflon untuk memanggangnya. Bumbu dioles sebanyak yang kami kira selama dipanggang. Dibolak-balik hingga daging menjadi golden browny. Asap yang muncul membawa imajinasi akan lezatnya daging di depan mata kami.
                Asap, sebuah materi yang muncul karena adanya api. Kehidupan ini patutnya dijalani seperti api yang membara, berkobar semangat di jalan-Nya. Usaha yang kita lakukan dapat diperkirakan hasilnya dari asap yang muncul. Bahagia itu sederhana, mencium asap. Jika kita mencium asap dengan aroma yang sangat harum dan lezat, dapat kita perkirakan hasil yang didapat pun akan lezat. Sebaliknya jika asap yang tercium sangat tidak enak, maka hasil usaha kita pun akan tak mengenakkan. Namun sebelum terlambat, kita dapat mengubahnya ke arah yang lebih baik.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada  pada diri mereka. (Ar Ra’d 13:11)

                Seperti memasak bulgogi, daging tak akan matang tanpa usaha kita untuk memanggangnya. Dengan api usaha kita, daging yang keras pun akan lunak. Asap yang muncul adalah indikasi masakan kita lezat atau tidak. Jika asap yang tercium tak mengenakkan hidung, alangkah lebih baik untuk mengubah rencana masak. Siapa tahu jalan yang lain adalah jalan terbaik.
              Mencium asap mungkin adalah langkah antisipasi terhadap usaha hidup yang kita lakukan. Waspada terhadap tindakan akan menghindarkan dari hasil yang tak diinginkan. Usaha yang sungguh-sungguh akan mendatangkan nikmat, seperti bulgogi yang kami masak. Asap yang tercium sangat harum, rasa masakannya pun lezat. Lezat tak sekedar rasa, tapi lezat karena ini hasil usaha tangan sendiri. Cukup bahagia untuk itu, sebahagia mencium asap hasil usaha.
Baca SelengkapnyaBahagia Itu Sederhana: Mencium Asap

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bahagia Itu Sederhana: Meluncur Turun

                
                 Hari Ahad pagi, tepatnya 13 Oktober 2013, adalah hari yang mungkin telah lama ditunggu kedatangannya. Bukan karena ada hadiah jatuh dari langit, bukan karena ada orang spesial, juga bukan karena aku bisa tidur seharian. Hari tersebut adalah hari dimana target atau impian akan dicoba untuk diraih. Bukan impian yang terlalu “wah”, hanya impian kecil demi kesehatan, bersepeda (gO_Owess) dari Kota Jogja menuju Universitas Islam Indonesia (UII) Jalan Kaliurang KM 14,5. Ini adalah target kedua, setelah beberapa bulan sebelumnya gO_Owess menuju Prambanan dengan jarak tempuh total sekitar 40 KM.
             Pagi itu suasana sangat cerah. Perjalanan dimulai dari titik 0 Kota Jogja menuju Timoho. Selanjutnya gO_Owess dilanjutkan menuju Masjid Kampus UGM untuk beristirahat dan berdoa meminta kekuatan dari Sang Pencipta. Kira-kira pukul 09.00 perjalanan menuju UII dilanjutkan. Walaupun jarak tempuh total gO_Owess kali ini hampir sama dengan target gO_Owess pertama, namun medan yang menanjak menjadikannya tantangan tersendiri. Kota Jogja mempunyai ketinggian sekitar 114 m dpl, sedangkan UII mempunyai ketinggian sekitar 350 m dpl. Dapat dibayangkan seberapa menanjak perjalanan yang ditempuh.
                Beberapa kilometer ditempuh, jalan masih cukup landai. Namun, mulai KM 7 jalan mulai menunjukkan peningkatan kemiringan yang cukup signifikan. Kecepatan kayuh dan rotasi pedal mulai menurun. Gear mulai dialihkan ke posisi kecil, napas mulai terengah-engah. Tercatat dua kali istirahat dilakukan untuk sekedar mengisi tenaga dan melemaskan otot kaki yang terisi asam laktat. Perjalanan menanjak laksana perjalanan dalam kehidupan.
                Kehidupan ini laksana bersepeda. Perjalanan menanjak ini seperti kehidupan setiap manusia. Mungkin pada awalnya terasa biasa saja, terasa tak ada beban dan cobaan. Namun, seiring waktu berlalu, perjalanan hidup akan semakin berat dan penuh cobaan.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al Baqarah 2:214)

                Perjalanan gO_Owess yang menanjak pastinya terasa sangat berat, apalagi kaki sudah terasa panas karena asam laktat yang kian menumpuk. Akan tetapi dengan keyakinan bahwa pertolongan Allah itu amat dekat, perjalanan ini pasti akan menemui hasil yang indah. Kayuh, kayuh, dan kayuh, hingga gerbang UII terlihat di depan mata. Sebuah kebahagiaan dan kebanggaan dapat menaklukkan UII yang berada di “khayangan” dengan gO_Owess.
                Kenikmatan memang harusnya dinikmati. Kenikmatan di puncak ini cukup dinikmati untuk sesaat karena tak ada kenikmatan dunia yang abadi. Setelah perjalanan menanjak yang berat, akhirnya ditemui sebuah puncak penuh nikmat, dan kemudian setiap orang harus meluncur kembali ke bawah untuk mulai perjalanan menanjak yang lain. Ya, gO_Owess ini dilanjutkan dengan meluncur turun kembali ke Kota Jogja.
                Bahagia itu sederhana, meluncur turun. Sebuah bayaran yang mahal untuk gO_Owess menuju “khayangan” yaitu meluncur turun tanpa mengayuh sepeda. Semilirnya angin serta pemandangan yang indah menambah kebahagiaan saat meluncur turun. Namun, kebahagiaan juga merupakan sebuah cobaan dari Sang Pencipta karena jika terlena, justru celaka yang ditemui.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Al Anbiyaa’ 21:35)

              Perjalanan gO_Owess menuju UII ini mungkin dapat menjadi analogi sederhana dari perjalanan kehidupan yang sebenarnya. Jalan menanjak, mencapai puncak, kemudian kembali ke bawah untuk memulai perjalanan menanjak yang baru. Kehidupan tak ubahnya sebagai tempat belajar umat manusia. Belajar untuk terus menjadi yang terbaik di hadapan Sang Pencipta. Belajar melalui cobaan-cobaan yang diberikan-Nya hingga suatu saat tiba pada kebahagiaan, yaitu meluncur turun.
               Target kedua telah tercapai. Kebanggaan ada di dalam diri, namun harus aku redam karena perjalanan yang lain masih menanti. Setelah Prambanan dan UII ditaklukkan, target berikutnya adalah Pantai Selatan dengan jarak sekitar 30 KM dan Solo dengan jarak sekitar 60 KM. Apakah target ini akan tercapai? Lihat saja nanti. Pertolongan Allah itu amat dekat.
Baca SelengkapnyaBahagia Itu Sederhana: Meluncur Turun

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sahabat Atau Musuh?

© sharingdisana.com
Sahabat, sebuah kata yang menampakkan ketenangan, kesejukan, dan kebahagiaan. Tenang ketika rasa galau berhasil diusir oleh ekspresi lucunya. Sejuk karena nasihat-nasihatnya dapat mendinginkan hati yang terbakar. Juga bahagia yang terbawa bersama hadirnya di kala senja sore tak bersahabat. Itu yang selalu aku rasakan untuk setiap waktu bersama sahabat, hingga semuanya berubah.
Tak tahu persisnya, yang kutahu hanya akhirnya. Dia mulai menjauh, dia berubah. Meski kebaikannya masih ada, tapi ketenangan, kesejukan, dan kebahagiaan yang selalu dia hadirkan mulai tak tampak lagi. Saat itu, hanya satu pertanyaan yang aku pikirkan, “Ada apakah di antara kita?”. Mungkinkah ada sebuah tembok tak terlihat yang menghalangi semua sifatmu yang dulu? Ataukah mataku mulai rabun akan silaunya semua sifatmu yang dulu? Entahlah.

Musuh, mungkin itu yang aku rasakan setelahnya. Di mataku dia jahat, tak terlalu jahat memang, atau mungkin hanya pendapat subyektifku saja. Di benakku dia keras, seperti tegas yang biasa memang, atau hanya otakku yang mulai mensintesis hormon benci untuknya. Semua di mataku menurut orang lain tak sama di mata mereka. Kata mereka, sahabatku tak berubah. Ucap mereka, sahabatku tetap sama. Entahlah.
Di hari-hariku yang terus berlalu, tak jarang aku hanya diam ketika dia menyapa. Sering kali aku tak menatapnya ketika kita bertemu di lorong sempit menuju kantin. Terkadang aku berpikir, “Dia sahabat atau musuh?”. Jika musuh, dia tidak menjatuhkanku. Namun jika sahabat, aku mulai berpikir negatif tentangnya. Lama aku mencari jawaban itu. Kucoba bertanya kepada langit malam, debu yang membisu, dan beberapa orang yang kuanggap tepat. Hasilnya sama, tak ada jawaban. Kucoba lebih lama untuk berpikir, menyendiri untuk merenung. Hingga aku mulai sadar akan sesuatu. Aku telah dibutakan oleh perhatian.

Sahabatku yang dulu selalu ada untukku. Sahabatku yang dulu selalu bawa hatiku tenang. Sahabatku yang dulu selalu penuhi waktuku dengan perhatian. Perhatian yang bawaku buta akan sebuah kata, “Hilang”. Perhatiannya yang besar telah menggiring pikiranku untuk memandangnya seperti itu. Hingga suatu hari sedikit perhatiannya hilang, dan itu mengacaukan pikiranku. Hanya sedikit perhatiannya padaku yang hilang dan dia berikan kepada sahabatnya yang lain. Aku merasa sangat bodoh dengan ingin merajai perhatiannya. Dia bebas punya berapapun sahabat, begitu juga aku. Sahabat tak boleh dibatasi karena sahabat itu seperti ranting. Semakin kuat kepedulian sebagai batangnya, semakin banyak juga ranting sahabat yang muncul, semakin kokoh pula pohon kehidupan yang kita coba jaga bersama.

Musuh adalah sahabat yang belum jadi, kata Mario Teguh. Kalimat itu benar adanya. Tak dapat dipungkiri, terkadang musuh lebih perhatian daripada sahabat kita sendiri. Musuh akan coba mencari tahu semua kelebihan dan kekurangan kita. Itu semua dilakukan untuk menjatuhkan kita. Namun, tak sedikit musuh yang dapat menjadi sahabat setelah mengetahui kelebihan kita. Anime Pokemon pun mengajariku tentang sahabat. “Musuh hari ini adalah sahabat di esok hari. Tapi sahabat hari ini adalah sahabat untuk selamanya”. Persahabatan tak kenal adanya kasta, harta, maupun tahta. Semua sama, semua adalah kita. Sekarang aku sadar, dia tetap sahabatku. Tak ada istilah “mantan sahabat” bagiku. Bagaimana denganmu? Dia sahabat atau musuhmu? Yang manapun itu, dia tetap sahabat di hatimu.

Cara yang terbaik menghancurkan musuh adalah menjadikannya sahabat
-Abraham Lincoln-

Baca SelengkapnyaSahabat Atau Musuh?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ketika Debu Pun Menjauh

                
                Terkadang hal seperti ini selalu datang. Saat dimana orang-orang di sekitar menganggap remeh diriku. Aku mungkin tak dapat mendengar semua yang mereka ucapkan, tapi sedikit aku tahu yang mereka pikirkan. Perlahan mereka menjauh, perlahan mereka mengeluh, perlahan debu pun menjauh.
                Suatu waktu aku berdiri di depan mereka. Aku coba menjadi pelayan yang baik untuk mereka. Kucoba memberikan apa yang mereka pinta. Kucoba dengan sekuat hati. Namun yang kurasa mereka memandangku sebelah mata. Otoriter, begitu katanya. Egois, juga katanya. Terlalu memaksa, itu pula yang dikatakannya, bahkan mereka.
            Mungkin di saat seperti itu aku terlihat konyol, satu di antara mereka. Tapi yang tak mereka tahu bahwa aku terus mencoba melayani mereka. Mereka yang penuh dengan permintaan, mereka yang penuh dengan prasangka, dan mereka yang penuh dengan perasaan.
            Ketika debu pun menjauh, aku hanya bisa terdiam. Apakah langkahku salah? Apakah tempatku tak tepat? Apakah hidupku ini tak berarti? Kesendirian ini memaksaku menepi, memaksaku untuk mencerna jalan hidupku kembali. Mereka menjauh, bahkan debu pun menjauh. Seakan aku tak dihargai, seakan mereka paling berarti.
          Kini aku hanya ingin membebaskan diri. Melepaskan diri dari prasangka mereka. Prasangka dan persepsi akan membunuh kita jika tak disertai bukti. Kini aku hanya ingin berpikir apa arti hadirku. Apakah aku tak diinginkan? Ataukah aku memang bukan untuk mereka?
                Kesendirian tak selalu menyakitkan. Ada waktu dimana kita dapat merenung tentang diri kita. Sendiri tak selalu berarti tak ada siapapun yang menemani. Masih ada Allah yang selalu menemani, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Waktu yang tersisa ini mungkin adalah waktu yang tepat untuk mulai mengubah prasangka mereka. Aku bukanlah apa yang mereka pikir. Ketika mereka menjauh, ketika debu pun menjauh, prasangka mereka bukanlah kenyataan.

Kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapapun tentang kenyataan
-Pramoedya Ananta Toer-
Baca SelengkapnyaKetika Debu Pun Menjauh

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Random

Suatu sore, galau. Udah niat mau telepon Fai, tapi tak putus karena suatu hal. Dan mendadak dia sms:

"Entah kebaca di mana tiba-tiba inget:
Aku seharusnya bersyukur hanya kehilangan orang yang tidak benar-benar mencintaiku, dia yang harusnya bersedih karena kehilangan orang yang benar-benar mencintainya.
Haha ojo galau neh yo mbak"

Sedikit mengobati, makasih Fai :)
Baca SelengkapnyaRandom

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

End

Sekarang lagi dalam edisi patah hati, sakit hati, dan apapun sinonimnya. Bingung mau meluapkan ke mana, akhirnya cuma memberanikan diri nulis di sini.

Alasan kenapa patah hati nggak perlu diceritakan lah ya. Nangis? Air mata udah sampe tumpeh-tumpeh. Cerita dengan orang terdekat itu udah pasti. Hampir semuanya bilang, "ikhlasin ya, nanti pasti dapet yang lebih baik kok". Waktu dikasih nasehat saya cuma manggut-manggut aja. Tapi, untuk bisa ikhlas itu sulitnya luar biasa.

Saya ngadu, saya cerita semua yang saya rasakan ke Allah. Hal yang paling utama saya minta adalah supaya dikasih keikhlasan. Saya nggak mau punya dendam sama orang. Saya nggak mau benci sama orang. Saya nggak mau punya musuh. Tapi tetep sampe sekarang belum bisa mengikhlaskan semuanya.

Yang jadi pertanyaan adalah apakah semuanya akan sembuh seiring berjalannya waktu?
Will time heals everything? Heals my pain? :)))

Pernah saya berprasangka buruk. Jangan-jangan Allah memang tidak mengabulkan doa saya. Lalu Mona ngasih tau, cara Allah menjawab doa hambanya:
  1. Yes (langsung dikabulkan)
  2. Yes, but not now
  3. I have a better plan for you
Dan saya pikir poin nomer 3 itu yang lagi ditunjukkan sama Allah :)

Tontun juga bilang:
"Yang bisa tenangkan dirimu ya cuma kamu sendiri. Emotion gets in you. You're unable to do anything logical. Calm yourself down."
Jadi emang semuanya dimulai dari diri sendiri. Masalah nggak cuma sekali ini aja dateng, sekarang saya lagi dilatih untuk sabar dan manajemen emosi. Mulai berpikir masa depan yang masih panjang, masa depan yang indah. Ditambah lagi I'm not alone. Masih ada sahabat-sahabat, Ditun, Enji, Pepi, Kalih, Fai, Danni, Tontun, Azhari, dan temen-temen lain. Berharap banget hubungan pertemanan dengannya bakal tetap terjalin sangat baik ke depannya, jadi partner KP, dan mungkin partner TA :)
Baca SelengkapnyaEnd

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Analogi Kancing Baju

             Adi Suwarman, ayah dengan dua putra, adalah seorang aktor film ternama. Belasan judul film telah dibintanginya. Namanya kian melejit saat film terakhir yang ia bintangi diakui oleh perfilman dunia sebagai film motivasi terbaik tahun ini. Segala kesuksesannya ini tak membuat langkahnya terhenti untuk menapak kesuksesan lain. Tahun depan pesta demokrasi siap digulirkan. Tak hanya para politisi yang bersiap mencalonkan diri sebagai Calon Legisltaif (Caleg), Adi Suwarman, dapat dikatakan tak punya latar belakang politik, bersiap mencalonkan diri pula. Salah satu motivasinya adalah aji mumpung. “Gue kan aktor, masak nggak ada yang pilih gue”, begitu kira-kira yang ia pikirkan. Semua berkas dan syarat disiapkan, kemudian langkahnya terhenti. “Oiya, gue kan nggak jadi anggota parpol. Oke deh, besok gue datang ke kantor itu”, dia mantapkan hati untuk bergabung dengan salah satu parpol. Esoknya, ia datang ke kantor parpol dan mengajukan diri untuk jadi caleg dari parpol itu, dan langsung disetujui. “Amazing….”, pikirnya.
                Beberapa minggu kemudian, seorang tetangganya bertanya, “Kalau bapak nggak terpilih, bapak mau jadi artis lagi?”. “Pasti lah….jadi caleg cuma coba-coba kok, dipilih syukur, nggak dipilih ya nggak apa-apa”, senyum Adi Suwarman mengembang. Dalam pikirannya, seorang anggota MPR itu adalah jabatan yang “wah”, uangnya banyak. Nanti kalau sudah menjabat, sesekali terima tawaran main film juga nggak masalah. Setelah nggak menjabat lagi, ya balik main film lagi. Jadi anggota MPR karena ada maunya. Analogi kancing baju.
                    Di lain tempat dan situasi, Bono Suhendra adalah penjual bubur ayam yang sudah mapan. BuBon, nama bubur ayamnya, cukup terkenal di kota itu. Bahkan beberapa kali Bono Suhendra diundang sebagai pembicara dalam seminar kewirausahaan. Kesuksesannya itu tak membuatnya menghentikan langkah. Beberapa waktu ini, Rawon Mix Nasi sedang menjadi trending topic dalam bidang kuliner. Tak jauh dari BuBon, muncul penjual Rawon Mix Nasi. Tak perlu waktu lama untuk mendapatkan pelanggan karena kuliner ini sedang hot dan memang rasanya enak. Bono Suhendra tergerak untuk membuka lapak Rawon Mix Nasi juga, namun di tempat BuBon berdiri. Ya, ia ubah BuBon menjadi rawon karena ada maunya. Ingin ikut dalam trending topic juga ingin dianggap paham semua kuliner. Pada dasarnya yang menjadi masalah bukan dua hal itu, namun tempat ia membuka lapak yang dekat dengan penjual Rawon Mix Nasi dan rasa rawon buatannya yang tidak terlalu enak. Memang sih ramai, namun ini hanya di awal karena pelanggan mulai tahu mana yang enak. Perlahan Rawon Mix Nasinya Bono Suhendra mulai sepi, tidak laku, dan ia kembali menjual bubur ayam. Analogi kancing baju.
              Seorang dosen junior, nama di KTPnya Roni Sutori, cukup dipandang berwibawa. Mahasiswa dan mahasiswi yang menjadi anak didiknya sangat mengaguminya. Cara mengajarnya pun menarik. Terkadang robot, kucing, bahkan eksperimen sedikit berbahaya dibawanya ke kelas. Pokoknya top abis deh. Karena eksentriknya gaya mengajar, materi yang diajarkan dapat ditangkap dengan baik. Ini terbukti dengan susahnya soal ujian, namun dengan mudah dikerjakan mahasiswa dan mahasiswinya. Kekaguman ini berlanjut hingga satu tahun. Tahun kedua ia mengajar, semua berubah, ia menjadi aneh. Ia bersikeras meminta kepada dekan untuk menjadi pengawas ujian. Katanya sih supaya dapat melihat anak didiknya langsung. Dekan pun bingung ketika Roni Sutori menjelaskan bahwa tidak ada peraturan yang melarangnya. Dengan penjelasan apapun Roni Sutori tak bergeming. Dekan dan wakil dekan akhirnya membiarkan supaya ia dapat merasakan rasanya jadi pengawas ujian. Para dosen yang tahu kejadian ini hanya dapat menggumam “Semua kan ada bagiannya masing-masing meski nggak tertulis”. Waktu berlalu dan Roni Sutori menjadi pengawas ujian yang masih dipertanyakan. Ya, dia mengambil kerja orang lain karena ada maunya. Ingin dianggap lebih “wah” karena bisa apa saja dan ingin eksis di mata yang lain. Ujung-ujungnya setelah bosan jadi pengawas ujian, ia kembali lagi menjadi dosen, dosen yang berkurang wibawanya. Analogi kancing baju.
                Analogi kancing baju mungkin analogi yang aneh namun tepat. Ketika di suatu tempat ia terlihat, dan saat pindah ke tempat lain ia juga ingin dilihat. Bahasa sederhananya ingin ngeksis. Analogi ini mungkin juga tepat untuk orang yang keluar dari suatu jabatan dan pindah ke jabatan lain. Setelah jabatan yang kedua selesai, ia kembali lagi ke jabatan pertama. Bahasa sederhananya plin-plan. Kita hidup harus sesuai sistem karena jika melawan sistem, kita akan hancur. Sistem mengatur segalanya asalkan itu benar dan sesuai seharusnya. Ini bukan masalah eksis atau citra jika harus melawan sistem. Ini tentang konsistensi dan kredibilitas. Tiap hal ada bagiannya. Tukang bubur ayam nggak pantas jualan Rawon Mix Nasi juga. Allah pun telah membagi rezeki ke tiap insan dengan adil, ada bagiannya sendiri. Cukuplah kita introspeksi masing-masing apakah kita masih dekat dengan Sang Pencipta atau justru lebih dekat dengan dunia. Urusanmu adalah urusanmu, urusanku adalah urusanku. Keputusan yang kita ambil menentukan nilai diri kita di keesokan hari. Kita bergerak dalam bagian masing-masing dalam sistem yang kita sepakati bersama. Kita sependapat kok, ngeksis dan plin-plan bukanlah tujuan kita, namun memang kita tak dapat kendalikan laku, seperti analogi kancing baju.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Maaf jika ada kesamaan nama dan peristiwa. Semua sangat tidak disengaja dan hanya rekayasa belaka. Ini hanya sebagai renungan bersama tentang peran yang kita ambil dalam hidup :)
Baca SelengkapnyaAnalogi Kancing Baju

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Konteks Dalam Sebaris Teks


               Seperti kata orang, kata-kata itu susah dirangkai. Tepat, susah juga untuk dipahami. Sebuah kata dalam Bahasa Indonesia umumnya mempunyai paling sedikit dua huruf. Dua huruf itu, seperti di, ke, atau ya, akan mempunyai makna bermacam-macam ketika ada kata penjelas lain di depan atau belakang kata tersebut. Di samping itu, saat kata itu berdiri sendiri makna yang dimiliki akan terbias sesuai pemahaman masing-masing yang membacanya. Kata dengan dua huruf saja sudah punya makna yang bermacam-macam, apalagi yang lebih dari itu.
                Sebuah teks memang terkadang tidak punya konteks yang jelas. Seperti kalimat di sebuah twit “Perempuan telanjang itu dibolehkan”, kemudian dilanjut dengan twit berikutnya “jika dilakukan di kamar mandi”[1]. Followers yang hanya membaca twit pertama tentu akan langsung mengkritik, bahkan menghujat. Namun jika hanya membaca twit kedua, tentu tak akan paham maksudnya. Kedua twit tersebut akan berarti jika dibaca bersambungan. Keterbatasan karakter dalam Twitter memang sering mengaburkan konteks bagi orang yang tak suka memahami teks.
             Pandji Pragiwaksono, seorang Stand Up Comedian Indonesia, pernah berkata “Orang Indonesia lebih suka menangkap apa yang diucap daripada apa yang dimaksud”. Kalimat yang sederhana namun mengena. Mungkin kita pernah mengalaminya. Memang tidak nyaman ketika kalimat yang kita tulis atau ucapkan diartikan berbeda. Twitter mungkin adalah media yang paling sering menyebabkan gagal paham terjadi. Dengan 140 karakternya, Twitter menyiapkan sebuah jebakan konteks. Sangat sulit menyelipkan konteks di dalam teks yang dibatasi oleh 140 karakter itu. Hal ini terjadi pada kasus Luna Maya di Twitter beberapa tahun yang lalu[2]. Bahkan di media cetak pun salah konteks kadang tak bisa dihindari. Sebuah artikel dengan judul berbahasa Perancis mempunyai konteks yang berlainan dengan isi artikel itu sendiri[3]. Hal ini bisa terjadi karena perbedaan pemahaman bahasa dari penulis.
                Masih ingat tentang beberapa curhatan Pak SBY kepada media[4]? Mungkin di satu sisi, kalimat-kalimat yang terucap sangat tidak sesuai dengan keadaan beliau sebagai presiden. Presiden yang harusnya memikirkan rakyat justru curhat tentang dirinya pribadi. Namun dibalik itu ada yang dapat disimpulkan bahwa presiden juga manusia yang perlu curhat. Sebuah konteks yang berlainan tergantung sudut pandang yang diambil.
              SMS (Short Message Service) dalam banyak kasus menjadi penyebab timbulnya sebuah perselisihan. Kemungkinan gagal paham dalam komunikasi lewat SMS sangatlah besar. Beberapa hal yang wajib diperhatikan dalam berkomunikasi lewat SMS (media lain juga bisa)[5]. Pertama, selalu positif thinking. Isi SMS tidak bernada. Sekali lagi, ISI SMS TIDAK BERNADA. Intonasi maupun nada pengucapan isi SMS tergantung kepada si penerima, tergantung mood juga sepertinya. Penulisan yang kurang lumrah atau tidak sesuai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) juga meningkatkan resiko terjadinya gagal paham tentang konteks isi SMS tersebut. Kedua, apabila ragu dengan maksud SMS, segera tanyakan maksudnya kepada si pengirim. Sangat tidak disarankan untuk menduga-duga sendiri maksud dari SMS tersebut. Berikutnya adalah dalam beberapa hal emoticon perlu ditambahkan dalam menulis SMS untuk menegaskan maksud dari SMS tersebut.
                Tentang teks dan konteks ini secara jelas juga tersurat di Surah Al Hujuraat ayat 6. Tabayyun atau memeriksa kebenaran dari suatu berita sangatlah penting supaya tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Tak berbeda dengan hal tersebut, memahami konteks dan memeriksa maksud sebuah kalimat juga merupakan hal yang sangat penting. Pemahaman secara konteks dapat dilihat juga dalam Surah Al Maa’uun ayat 4. Jika orang awam hanya membaca ayat tersebut, tentu orang akan gagal paham tentang konteksnya. Ayat-ayat berikutnya juga wajib dibaca untuk memahami konteks yang dimaksud.
                Gagal memahami konteks tidak bisa dianggap sebagai hal sepele. Memahami konteks dari sebuah kalimat sangatlah penting, bukan hanya untuk diri sendiri, juga untuk kepentingan orang lain. Sempatkan untuk memeriksa maksud kalimat sebelum menyambar komentar, ucapan, atau tulisan seseorang. Gagal paham konteks dapat dikurangi dengan mencoba belajar berbicara secara lugas tanpa berputar-putar. Selain itu, mencoba mengerti maksud pembicaraan juga wajib dilakukan. Jika kedua hal ini bertemu, tentu keharmonisan dalam berkomunikasi akan tercipta[6]. Harmonis karena semua dapat memahami konteks dalam sebaris teks.

Referensi:

Baca SelengkapnyaKonteks Dalam Sebaris Teks

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Epilog di Awal Cerita


              Kata orang, hari ini cerah. Kata mereka, hari ini indah. Memang begitulah adanya. Aku duduk di sini, di hadapanmu. Aku, kamu, dia, dan mereka. Kita bersama memulai cerita ini dengan kehangatan. Setidaknya itu yang kurasa hingga saat ini, sebelum awal cerita ini dimulai dengan epilog.
                Aku tahu cerita ceria kita tak bisa ditulis di lembaran kertas yang putih. Sang penyair kondang pun mungkin akan menyerah untuk mencoba menuliskannya. Tawa kita, yang selalu kita bawa, hanya bisa dituliskan di awan yang berarak. Berarak tak tentu yang pasti berpola indah untuk dirasa. Cerita-cerita kita dalam butiran-butiran hari, sebelum cerita ini diisi dengan epilog.
                Seperti kata orang, kata-kata itu susah dirangkai. Tepat, susah juga untuk dipahami. Mungkin memang kita punya frekuensi yang berlainan, tak saling berinterferensi. Tapi yang ajaib, ketika waktu sedang berpihak, kita akan saling beresonansi, kita saling dukung. Aku tahu kita bisa karena biasa. Aku pun tahu kita belum bisa biasa bersama. Masih banyak celah untuk angin sepoi yang perlahan munculkan gemerisik. Perlahan kita terusik, cerita kita mulai tak apik, seperti cerita yang mulai menginjak epilog.
              Hingga hari ini ketika kamu dan dia saling bertemu. Entah seperti apa awalnya, tapi aku tahu akhirnya. Dia mulai bercerita, cerita-cerita yang sebenarnya tak ingin dia ceritakan. Kamu dan dia yang berselisih karena aku, atau kita. Hari ini ketika hujan mulai turun, begitu juga hujan dari matanya. Hingga hari ini, mungkin besok, atau mungkin lusa, selagi epilog belum berakhir.
               Cerita kita sejenak terhenti, bukan berakhir. Aku akan lebih sering mendengarkan cerita tentangmu dari dia, cerita tentang kita yang kamu ceritakan. Coba sejenak kita nilai cerita kita. Ya, mungkin nilai 8 dari 10. Belum sempurna kan? Tentu, kita akan segera menyempurnakannya. Seperti yang dia inginkan, aku ingin kita kembali bercerita bersama. Tawa kita, yang selalu kita bawa, hanya kita yang mampu melukiskannya kembali. Mungkin sekarang kita terhenti karena epilog di awal cerita ini, tapi pasti kita akan segera memulai cerita kita kembali dengan prolog menawan, klimaks di awan, dan epilog kenangan. Seperti yang aku, dia, dan mereka inginkan, begitu juga kamu.
Baca SelengkapnyaEpilog di Awal Cerita

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS