RSS

Sistem kadang berjalan apa adanya, kita tak pernah terpikir untuk mengubahnya. Sistem adalah sesuatu yang membantu, pembantu yang berkuasa. Dunia adalah sistem itu. Sejenak berpikir kritis, dunia yang kelam perlahan beranjak estetis

Wajahmu Goyahkan Hatiku

© mistanazri90.blogspot.com
Siapa sih manusia di dunia ini yang nggak punya wajah? Pasti semua punya, kecuali para slender man. Wajah adalah salah satu bagian tubuh yang sangat berguna. Buat apa? Ya buat ngenalin orang. Bisa sih ngenalin orang dari lihat kaki, tangan, atau bentuk perutnya. Tapi kurang etis, nggak sopan. Paling masuk akal ya lihat wajahnya.
Kenapa wajah tiap orang berbeda, sehingga kita bisa membedakan si ini dan si itu? Walaupun anak kembar, tapi pasti ada sedikit bagian yang membedakan dengan kembarannya yang lain. Ini dikarenakan susunan DNA tiap manusia berbeda, sehingga susunan asam aminonya juga berbeda. Nah, karena wajah, juga bagian tubuh lain, dibentuk oleh asam amino, jadi ya bentuk wajah tiap orang berbeda. Maka dari itu, kita bisa ngenalin tiap-tiap orang.

Wajah, pada kasus tertentu, dapat menimbulkan efek psikologis yang cukup mengganggu. Setidaknya ini yang pernah aku rasakan. Ini terjadi saat hari pertama aku masuk Sekolah Dasar (SD). Seperti anak pada umumnya yang punya rasa ingin tahu berlebih, aku pandangi wajah temanku satu per satu, sambil menghapal nama mereka. Hingga tiba pandanganku terpaku pada salah satu teman gadis, “yang tercantik di kelas” begitulah pikiranku saat itu. Pandanganku tak beralih hingga dia keluar kelas, berlalu, dan menghilang. Dan selama hari itu, terkadang kelebatan wajahnya merusak konsentrasiku.
Keesokan harinya pun, hal kemarin terulang kembali. Tiap memandang wajahnya, konsentrasiku rusak. Apapun yang aku kerjakan, pasti tertunda. Aku akui, aku kepikiran wajahnya. Dia yang manis, dia yang cantik. Ya, ini pikiranku saat itu. Pikiran anak SD. Hari pun terus berlalu, pelan-pelan kuhalangi keinginanku untuk memandang wajahnya. Pelan-pelan kukuatkan hati. Dan, pada akhirnya hatiku tetap tak mampu.

Lama waktu berlalu, hal yang hampir serupa kembali terjadi. Saat itu hari pertama masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sebagaimana terjadi di semua sekolah, hari pertama pasti diisi dengan perkenalan. Satu per satu memperkenalkan diri, hingga tiba giliran seorang gadis berkerudung putih maju. Wajahnya tak terlalu cantik, tapi manis untuk dipandangi. Saat itu aku belum sadar apa yang akan terjadi. Tapi tak berselang lama, senyum di wajahnya mengganggu pikiranku. Ah, seperti 6 tahun lalu, walau gadis yang berbeda.
Selayaknya anak ingusan yang perlahan menginjak puber, ada rasa tertarik kepadanya. Ada keinginan untuk memandang wajahnya. Tapi konsekuensinya, konsentrasiku harus terganggu. Apa yang aku kerjakan, menjadi kurang fokus. Seperti saat aku SD, kucoba untuk menguatkan hati. Perlahan kucoba menghapus bayangan wajahnya. Dan pada akhirnya, aku tetap tak mampu.

Kini, masa remaja telah kulewati, level kuliah telah kupijak. Aku telah belajar sebuah pelajaran penting, “Jika hatimu masih lemah, jangan memandang wajah seorang gadis terlalu lama. Itu berbahaya!”. Semenjak masuk Sekolah Menengah Akhir (SMA), aku tak mau kejadian “pandangan pertama” itu terulang kembali. Sudah cukup efek psikologis itu menyerang. Perlahan kucoba menahan pandanganku. Sehari, sepekan, sebulan, hingga bulan datang bergantian, hatiku mulai tertata. Pikiranku bisa fokus untuk pelajaran. Yah, mungkin untuk beberapa momen, hatiku menjadi lemah. Tapi, anyway, setidaknya sudah lebih baik dan hatiku lebih tenang dari 2 level sekolah sebelumnya.
Sekarang, di saat hatiku lebih kuat, aku merasa menahan pandangan sangatlah penting. Walau mungkin ada saatnya aku khilaf memandang wajah seorang gadis -agak- terlalu lama, saat itu juga kukuatkan kembali hatiku. Tapi salah nggak sih kalau aku justru menyalahkan gadis itu, kenapa wajahnya terlalu manis? Apapun itu, jika ingin hidup lebih nyaman, tahanlah pandangan. Selain itu, juga bisa bikin pikiran lebih fokus, nggak kepikiran wajahnya terus. Dan yang lebih penting, nggak dapat marah dari Sang Penguasa Alam.

Hei gadis, tahukah kamu, kalau terkadang wajahmu goyahkan hatiku? Oke, mari kita tundukkan kepala dan menahan pandangan kita bersama.

Baca SelengkapnyaWajahmu Goyahkan Hatiku

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cinta Karena Terpaksa?

© ngasih.com
Seorang cowok sedang duduk santai di depan rumahnya. Wuuss, seorang cewek melintas cepat dengan sepedanya. Terkesima dengan cantiknya, si cowok tanpa pikir panjang lalu mengambil sepedanya yang ada di garasi. Dia berdandan ala orang yang suka olahraga. Baju tanpa lengan, celana pendek, dan handuk kecil di leher. Kayuhannya lemah mengejar si cewek. Pantas saja, dia sudah lama tak pernah bersepeda. Pelan tapi pasti, “mangsa”nya terkejar. Berkenalan, itu targetnya. Sejak hari itu, si cowok gemar bersepeda pagi lagi.
Pasti sudah biasa ya lihat atau baca setting cerita seperti itu. Ya, itu sepenggal adegan di sebuah FTV yang beberapa minggu lalu aku tonton. Tak sengaja sih awalnya, tapi kok lama-lama susah beranjak dari sofa. Apa karena ada sepeda yang ambil bagian? Entahlah. Yang pasti ada satu hal menarik yang jadi renunganku.

Pernah nggak kita suka sesuatu, yang jadi kesukaan orang yang kita sukai? Hmm, pasti sebagian besar dari kita pernah. Si dia suka komputer, kita lalu otodidak belajar komputer. Si dia suka bersepeda, kita susah payah gerakin kaki mengayuh sepeda. Si dia suka minum bajigur, kita lalu paksain suka bajigur. Mungkin kalau cuma sebatas suka dengan si dia, kita tak mungkin susah payah memaksa diri untuk suka sesuatu yang asing. Tapi beda cerita kalau level kita sudah lebih jauh. Apa itu?

CINTA. Ya, kalau kita sudah mulai merasakan cinta, sesuatu yang asing pun jadi terasa familiar. Sesuatu yang berat akan keliatan mudah (hanya keliatan, lho). Pantang menyerah untuk suka sesuatu itu. Alasannya supaya si dia terkesan dan menghargai usaha kita. Bukankah cinta perlu usaha dan pengorbanan? Dengan itu, kita berharap si dia juga merasakan hal yang kita rasakan. Tapi, kalau seperti itu, akan terlihat seperti terpaksa kan? Kita yang awalnya tak suka, lalu memaksa diri untuk suka. Seperti anak SD yang tak suka matematika, tapi dipaksa mendapat nilai bagus di ulangan matematika. Padahal dalam bidang menggambar, dia nomor satu.

TERPAKSA, bukanlah cinta yang sesungguhnya. Bukan cinta yang alami. Aneh nggak sih kalau cinta kepada manusia saja kita harus menyiksa diri? Terus bagaimana cinta yang alami? Ya, rasakan saja dengan hati. Jika kita suka kesukaannya supaya kita dekat dengannya, lalu berharap cinta akan hadir perlahan, maka itu terlihat kurang kece. Kita terpaksa untuk melakukan hal yang tak disukai, dan dia terpaksa merasakan cinta yang kita coba tunjukkan.
Cinta yang alami mungkin seperti ini. Misal diskusi sama si dia tentang sebuah novel. Dia cerita lebar-panjang, dan kita tertarik. Nah, saat itu cinta datang secara alami. Kalau pun nanti kita tertarik untuk membaca novelnya sendiri, itu satu langkah berarti. Perkembangan kita untuk suka membaca.
Di lain kasus, saat dia bercerita tentang manfaat Sholat Dhuha. Dia ceritakan pengalaman kerennya setelah membiasakan Sholat Dhuha. Kita tergerak karena ceritanya, dan mulai membiasakan. Nah, setelah kita merasakan manfaatnya, ucapkanlah Alhamdulillah karena nikmat harus kita syukuri. Itu juga salah satu cinta yang alami? Ya, kita anggap saja begitu.
Cinta kepada sesama manusia itu harusnya memang hadir tanpa paksaan. Cinta harusnya mengalir begitu saja. Suka kesukaannya tanpa kita sadari. Tapi, ada satu cinta yang akan membuat terlena saat kita benar-benar merasakannya di hati. Kita akan melakukan segala hal yang Dia sukai tanpa pernah terpaksa. Cinta apakah itu?

CINTA KEPADA SANG PENCIPTA. Cinta yang sangat nikmat. Cinta yang paling tinggi derajatnya. Sudahkah kita cinta kepada Allah? Seberapa besar cinta kita kepada Allah?
Allah suka kepada kebaikan. Allah juga suka jika kita melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Jika hati kita dipenuhi dengan cinta kepada Allah, tentu kita tak akan terpaksa untuk melakukan semua yang Allah sukai. Begitu pun jika kita terpaksa melakukan yang Allah perintahkan, tentu itu masih lebih baik daripada tidak melakukan sama sekali. Paling tidak, kita mencicipi bagaimana rasanya cinta yang hakiki.

Jadi, masih ngaku cinta si dia, tapi terpaksa untuk suka semua kesukaannya? Pikir lagi deh, mungkin itu bukan cinta. Ya bisa saja cuma ketertarikan sesaat. Kalau beneran cinta, harusnya kita tanpa sadar suka kesukaannya, tanpa terpaksa. Tak ada keindahan cinta karena terpaksa. Pun jika kita tak suka, lebih baik jujur bilang apa adanya. Toh si dia juga akan memaklumi. Cinta kan memang saling melengkapi.
Tapi tunggu dulu. Letakkan derajat cinta kita kepada Allah di atas cinta-cinta yang lain. Kalau cinta kepada makhluk saja kita bisa berkorban, kenapa cinta kepada Allah kita justru tak mau berkorban? Mari tata kembali hati kita.

Baca SelengkapnyaCinta Karena Terpaksa?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jujur Sepanjang Umur

© wulandianpertiwi.blogspot.com
“Son, jawaban nomor 3 apa? Cepet, keburu ketahuan!” tanya Dudung sedikit memaksa. Soni hanya menggelengkan kepala tanda dia juga tak tahu jawabannya.
“Nomor 11 jawabannya B. Kalau 12 sampe 15 apa?” mata Bara menatap tajam ke arah lawan bicaranya. Martin hanya mengacungkan jari telunjuknya kepada Bara. Itu berarti jawabannya A.
“Luv, Esterifikasi itu apa sih? Emang Pak Bakrie pernah ngajarin?” wajah Srikandhi tampak sangat bingung. Luvi, gadis berkerudung yang duduk di pojok belakang, hanya tersenyum melihat raut kebingungan gadis tomboy yang duduk di depannya itu.
Kelas XI IA 2 tampak sedikit ramai. Bu Ratna, pengawas ujian kelas itu, sedang ke kamar mandi. Tangan beliau kejatuhan kotoran cicak, jadi dengan tergesa-gesa Bu Ratna berlari ke kamar mandi untuk membersihkannya. Pak Wardi, pengawas yang lain, tampak tidur pulas. Ihh, ilernya hampir mengalir.
Suasana di kelas sebelah sungguh sangat berkebalikan. Pengawas ujian di kelas XI IA 3 terkenal cukup sangar. Ya, ada Pak Budi dan Bu Mustini. Kabarnya, mata mereka tak akan pernah lepas mengamati gerak-gerik tiap siswa. Terbukti, Bu Mustini menegur Maman. Yang ditegur tampak sangat kaget.
“Itu tangannya ngapain masuk-masuk ke laci? Nyimpen HP ya?!” mata Bu Mustini melotot tajam. Seandainya beliau tidak pakai kacamata, mungkin bola matanya sudah copot entah ke mana.
“Ng, ng, nggak kok bu. Ini tangan saya gatel, jadi garuk-garuk ke laci. Hehe…..,” jawab Maman sekenanya.
Niza, siswa yang duduk di baris paling belakang, hanya tersenyum. Dia merasa heran, kenapa setiap kelasnya diawasi oleh Bu Mustini, teman-temannya tampak tertekan saat mengerjakan ujian. Padahal beliau ‘kan tidak menggigit.

***

Siapa yang tak pernah mengalami suasana seperti itu? Kelas akan tenang saat pengawas ujiannya ada, sedangkan saat pengawasnya pergi, kelas seketika berubah riuh. Entah tanya jawaban, buka buku, atau tidur, yang pasti waktu singkat itu sangat berharga. Hayoo siapa yang tak pernah mengalami suasana itu? Ngaku saja…… :3
Saat di lembar jawaban ujian masih banyak tempat kosong, apalagi waktu yang tersisa hanya tinggal beberapa menit, pikiran kita hanya terfokus kepada jawaban. Apapun cara dilakukan, mulai dari berpikir keras bagi yang berilmu, hingga bertanya kepada teman bagi yang menyerah. Namun, apakah kita ingat kepada satu kata yang penting saat ujian? Ya, kata itu adalah JUJUR.
Jujur berarti tidak berbohong saat melakukan sesuatu, misal dalam mengerjakan tugas. Tugas dikerjakan sendiri tanpa menjiplak milik orang lain. Jujur juga dapat diartikan tidak curang dalam bertindak, misal dalam mengerjakan ujian sekolah. Menjawab soal sesuai kemampuan diri sendiri tanpa tanya sana-sini.
Kata orang, jujur adalah sesuatu yang sudah sangat langka ditemui di sekitar kita. Di mana-mana banyak kebohongan demi kenyamanan diri sendiri. Mulai dari anak yang berbohong kepada orangtuanya, hingga pejabat gendut yang menjadi koruptor kelas paus. Jujur adalah sebuah kata positif yang kini sering disandingkan dengan arti negatif. “Jujur hancur”, barangsiapa bicara jujur, kelak dia pasti hancur. Begitulah yang banyak dikatakan orang.

Pernah melihat pengendara motor yang menerobos lampu merah, padahal di sana tertulis “Belok kiri ikuti lampu”? Jika dipikir ulang, apakah tulisan itu tidak terlihat? Atau mungkin si pengendara memang buta huruf? Namun jika ternyata dia bisa membaca, betapa sangat sedih guru SD yang telah mengajarinya membaca saat kecil. Mungkin sang guru akan merasa sangat bersalah jika siswanya ternyata tak bisa membaca rambu lalu lintas.
Apa yang membuat kita terkadang nyaman dengan kebohongan? PENGAWAS. Ya, tak terlihatnya seorang pengawas di mata kita, terkadang membuat hati kita enggan melakukan sebuah kejujuran. Kita masih berpikir bahwa kita butuh pengawas yang konkret, pengawas yang nyata, yang dapat kita lihat dengan mata kepala sendiri. Apakah kita lupa kepada Dia Yang Maha Mengawasi?
Pengendara motor yang menerobos lampu merah tadi mungkin tak diawasi polisi, namun ada Dia yang kemampuannya jauh di atas polisi. Pejabat koruptor mungkin luput dari pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), namun ada Dia yang pengawasannya jauh lebih teliti dari KPK. Seorang anak yang berbohong kepada orangtuanya atau mencontek saat ujian mungkin lepas dari mata pengawas, namun ada Dia Yang Maha Mengawasi setiap perbuatan kita.
Setebal dan serapat apapun topeng yang menutupi perbuatan kita, Dia Yang Maha Tahu pasti dapat menguliti apa yang ada di balik topeng itu. Sekiranya aib kita akan dibuka, Dia Yang Maha Kuasa dengan mudah melakukannya. Topeng kebohongan, meski itu seajaib topeng penguasa culas, Dia Yang Maha Berkehendak pasti akan membukanya, entah di dunia maupun nanti di akhirat. Dia, Allah Yang Maha Segalanya adalah pengawas kita yang sebenarnya.

Bohong kini telah menjadi sesuatu yang mainstream di masyarakat, bahkan sejak Tentara Gajah menduduki Makkah. Jadi, dengan jujur, kita telah menjadi manusia yang antimainstream, manusia yang luar biasa. Lebih dari itu, orang jujur akan mendapatkan tiga hal yang istimewa. Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata, “Orang-orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal: KEPERCAYAAN, CINTA, dan RASA HORMAT”. Masih ragukah kita untuk melakukan kejujuran? Saat kita ragu, ingatlah bahwa ada Allah yang selalu mengawasi. Namun, apakah kita cukup dengan melakukan kejujuran? TIDAK. Kita harus menjadi INSPIRATOR.
Inspirator? Ya, seseorang yang menyebarkan inspirasi kebaikan kepada orang lain. Kita harus mengajak orang lain untuk melakukan kejujuran bersama kita. Tak hanya dengan kata-kata, kita bisa menunjukkan kejujuran dengan bukti tindakan kita. Misal kita berhenti di lampu merah saat ada tulisan “Belok kiri ikuti lampu”, meski ada yang sewot membunyikan klakson, cuek saja, toh kita benar. Mau tak mau pengendara di belakang kita akan berhenti. Walau terpaksa, yang penting mereka mau melakukan kejujuran bersama kita.Atau dengan mengembalikan dompet yang kita temukan kepada si pemilik. Juga menyerahkan kembalian yang seharusnya kepada pembeli, jika kita penjual. Hal kecil ini tak pelak bisa menginspirasi orang lain. Jadilah inspirator kejujuran setiap hari dan budayakan kejujuran sebagai kebutuhan.

Jujur itu adalah suatu tindakan yang dapat menenangkan hati. Berlaku jujur tak perlu pengawas yang kasat mata, cukup ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baik pengawas. Jujur juga akan terasa nikmat jika kita berlaku jujur bersama dengan orang lain di setiap harinya. Sebagai inspirator, perlahan kita ubah jujur menjadi lifestyle. Tak perlu risau dengan istilah “jujur hancur”, keyakinan kita akan membuat “jujur mujur”, jujur akan membawa kita pada keberuntungan. Oiya, jujur jangan hanya kemarin, hari ini, atau esok saja. Jujur itu tak mengenal umur, siapapun, jujur sepanjang umur.

“Kejujuran adalah amanah,
sementara dusta adalah suatu pengkhianatan.”
(Abu Bakar Ash-Shiddiq)

Baca SelengkapnyaJujur Sepanjang Umur

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kalian Mirip Ya

© storiette.mjeducation.com
Aku punya teman, sebut saja namanya Mifta. Banyak teman yang bilang kami mirip, walau kemiripannya hanya di beberapa hal. Tapi, karena seringnya teman-teman mengatakan kami mirip, semakin lama mereka menganggap kami “anak kembar” (atau justru Doppelganger?). Anggapan “anak kembar” itu tidak hanya dari teman-teman, bahkan dari orang yang notabene masih baru dalam mengenal kami.
Dulu sewaktu aku dan Mifta menjalani KKN, pondokan kami terpisah. Suatu hari Mifta sedang pergi karena sebuah urusan. Nah, saat itu aku datang ke pondokannya. Simbah yang punya pondokan ngobrol lama denganku. Tapi semakin lama, aku semakin heran, kok manggilnya Mifta terus. Akhirnya cucunya datang dan bilang, “Mbah, ini bukan Mas Mifta. Mas Mifta baru pergi”. Dan semenjak itu, aku tambah penasaran, kenapa bisa terlihat mirip sekali >.< Untung saat dulu aku mampir ke rumah Mifta, orangtuanya nggak salah bedain anaknya sendiri :D
Pernah nggak sih punya teman, yang kata orang mirip banget denganmu? Banyak orang bilang mirip, padahal kamu sendiri bingung miripnya di bagian mana. Bagaimana perasaanmu? Sebel karena merasa dimirip-miripin? Atau justru senang karena ada orang yang mirip? Anyway, fenomena miripnya seseorang dengan orang lain memang banyak ditemui, salah satunya aku rasain sendiri. Tapi, tahu nggak sih apa yang sebenarnya menyebabkan hal itu terjadi? Kenapa seseorang bisa mirip dengan orang lain, padahal mereka bukan saudara? Mungkin ini bisa menjawab rasa penasaran yang ada..........

DNA / GEN MIRIP
Sel manusia tersusun atas DNA. Pada dasarnya, DNA mempunyai struktur yang terdiri dari Fosfat, Deoksiribosa, dan Asam nukleat. Asam nukleat mempunyai 4 macam, yaitu A (Adenin), G (Guanin), C (Sitosin), dan T (Timin). Yang paling mempengaruhi struktur DNA adalah susunan asam nukleatnya. Susunannya bisa AGTGAGTG, ACTGCAGT, atau milyaran kemungkinan yang lain. Susunan DNA yang seperti itu akan mempengaruhi “instruksi” kepada asam amino pembentuk wajah. Karena perbedaan DNA hanya dipengaruhi oleh 4 asam nukleat itu, bisa saja susunannya mirip dengan DNA orang lain (tidak mungkin sama jika bukan saudara kandung). Nah, bayangkan saja ada 7 milyar lebih penduduk bumi, pasti ada beberapa orang yang mirip dengan kita (kata orang, manusia punya 7 “kembaran”)[1].
FYI, susunan asam nukleat itu yang digunakan pada tes DNA. Jika susunan asam nukleat DNA uji mendekati 100% kemiripannya dengan DNA sampel, berarti besar kemungkinan mereka mempunyai hubungan saudara sedarah.

KESAMAAN PENAMPILAN atau HAL YANG DISUKAI
Si A punya jambang yang lebat, begitu juga si B. Kemudian orang bilang mereka mirip. Kasus seperti ini sering sekali terjadi. Ketika ada dua orang mempunyai kesamaan penampilan atau hal yang disukai, orang di sekitar menganggap mereka mirip. Seperti aku dan Mifta. Kami memakai kacamata yang modelnya hampir mirip, potongan rambut juga sedikit mirip. Itu dari penampilan. Dari segi hobi, kami suka futsal, juga suka ngobrol nggak jelas. Bahkan kadang jalan pikiran kita sama, walau kadang banyak absurd-nya. Mungkin dari beberapa hal itu yang menyebabkan kami dianggap “anak kembar”. Tapi jangan anggap semua orang yang punya kesamaan hobi sebagai “anak kembar”. Nanti pemain sepakbola bingung bedain mana kawan dan lawan.
Nb: Kesamaan penampilan juga terlihat dari seorang bintang iklan “minuman penolak angin” dan presiden suatu negara di Asia Tenggara.

KESENGAJAAN
Banyak orang terobsesi untuk menjadi sama dengan tokoh atau artis idolanya, mulai dari hobi sampai penampilan. Bahkan yang ekstrim, sengaja menjalani beberapa kali operasi plastik supaya wajahnya mirip dengan tokoh idola. Seorang pemuda di Filipina, dikabarkan rela menjalani 23 kali operasi demi mempunyai wajah sama dengan Superman[2]. Ini hanya salah satu contoh. Masih banyak di luar sana, orang-orang yang terobsesi untuk mirip dengan idolanya.

MEMBAYANGKAN ORANG LAIN
Untuk hal yang satu ini, mungkin saja terjadi ketika kita sedang terbayang-bayang wajah orang lain, terlebih orang yang sangat spesial. Contoh kasus ketika si A melihat seorang gadis di jalan. Saat gadis itu tersenyum, si A merasa gadis itu mirip si B. Padahal orang lain belum tentu sependapat. Nah, mungkin saja ketika si A melihat gadis itu, dia sedang terbayang-bayang wajah si B. Atau mungkin juga senyum si B mirip dengan senyum gadis itu. Ini tergantung persepsi dari masing-masing orang.
Nb: Apakah seseorang yang sedang jatuh cinta, akan melihat setiap orang mirip dengan kekasihnya?

JODOH
Jodoh dalam hal ini disempitkan menjadi kekasih, entah kekasih sementara atau kekasih dalam rumah tangga. Kata seorang kakak senior, “Jodoh itu adalah seseorang atau sesuatu yang membawa kebaikan saat kita bertemu dengannya”. Kebaikan ini akan membawa kebahagiaan bagi pasangan kekasih yang telah lama hidup bersama. Kebahagiaan ini akan terpancar dari wajah atau ekspresi pasangan tersebut. Ekspresi dari wajah inilah yang menyebabkan interaksi dan komunikasi antara pasangan, yang kemudian membentuk sisi dan guratan-guratan di wajah[3]. Kemiripan ini bisa terlihat ketika mereka sedang tersenyum atau tertawa. Kemiripan ini akan semakin terlihat jika pasangan selalu bahagia. Pernah lihat pasangan tak bahagia yang punya kemiripan wajah?
Ada juga penelitian yang menyebutkan kemiripan DNA-lah yang membuat pasangan menemukan jodohnya[3]. Kemiripan ini (tak selalu kesamaan wajah, bisa juga kesamaan hobi) yang mungkin membuat pasangan saling tertarik. Atau karena perempuan adalah potongan tulang rusuk dari laki-laki, jadi DNA mereka mirip? Apapun itu, jodoh adalah rahasia Allah. Berdoa saja, dan serahkan jodoh kepada-Nya.

So, adakah teman yang mirip denganmu? Kalau ada, yang manakah penyebabnya? Kalau temanmu itu lawan jenis, bisa jadi itu calon jodohmu. (^^)


Referensi:
[1] Benarkah Manusia Punya 7 Kembaran, Mitos atau Fakta?
[2] Demi Mirip Superman, Pria Ini Jalani 23 Operasi
[3] Fenomena Wajah Pasangan yang Mirip, Mitos atau Fakta?
Baca SelengkapnyaKalian Mirip Ya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jangan Ambil Dia Dariku

© mymoen.wordpress.com
Punya teman dekat itu rasanya pasti super duper menyenangkan. Sedang sedih atau bahagia, mau badmood ataupun goodmood, selalu ada orang yang bisa diajak ngobrol, bertukar pikiran. Apalagi jika teman itu sudah dianggap sebagai seseorang yang spesial, lihat wajahnya dari jauh pun hati sudah terasa adem. Tak berjumpa rasanya hampa, saat bertemu muka tak bisa berkata-kata. Ah, otak dan hati kadang tidak sinkron.
Teman dekat atau seseorang yang spesial, sebut saja “si dia”, terkadang secara sepihak kita klaim sebagai “ini milikku”. Padahal tak ada batasan seseorang mau berteman dengan siapapun. Pernahkah ada seseorang yang membicarakan tentang si dia di hadapanmu dan orang itu tertarik dengan si dia? Apa yang dirasa? Hati terasa sesak? Atau biasa saja? Mungkin ego ini terlalu besar untuk sekadar berkata “aku tak apa kok”.
Sebenarnya apa sih yang menyebabkan kita seakan tak rela jika si dia “diambil” oleh orang lain? Ini jawabannya.......

SUKA
Saat kita suka dengan si dia, seakan setiap waktu ingin selalu bertemu dengannya. Jika ada orang lain yang juga suka, hati kecil kita seakan tak rela untuk membiarkannya. Seperti saat sedang kuliah, kita sangat suka untuk duduk di baris ketiga dari depan. Apapun kuliahnya, pokoknya harus duduk di baris itu. Jika suatu saat ada orang lain yang suka dengan baris itu dan duduk di sana, ada perasaan tak rela. Ingin sekali mengusir orang itu, tapi itu bukan bangku milik kita. Pada akhirnya, hanya bisa bersabar.
Tapi, apakah hanya karena rasa suka lalu membuat kita egois seperti itu? Tidak. Perasaan tak ingin kehilangan akan semakin kuat, jika kita telah lama mendapatkan..........

PERHATIAN
Perhatian dari si dia? Iya, tepat sekali. Si dia yang selalu ada untuk kita, selalu dekat dengan kita, secara tak langsung akan kita anggap sebagai perhatian. Wajah seriusnya saat mendengarkan kita bicara dan kebaikan hatinya saat kita mengalami kesusahan, adalah sedikit bentuk perhatiannya. Lalu ketika ada orang lain yang mendapat perhatian dari si dia, hati terasa sesak. Rasanya ada yang hilang. Tapi sekali lagi, hanya bisa bersabar.
Tak hanya perhatian, perasaan tak ingin kehilangan akan bertambah karena ini...........

INGIN MEMILIKI
Jika merasa suka, maka kita ingin memilikinya. Jika si dia terus bersama kita, maka perhatiannya tak akan terbagi dengan orang lain. Seperti saat suka dengan sepatu di toko, kita ingin memilikinya. Apapun caranya seakan pantas untuk dilakukan. Tapi ketika ada orang lain yang juga suka dan ingin memiliki sepatu itu, kita tak mungkin untuk melarangnya. Pada akhirnya, jika tak berhasil memilikinya, kita hanya bisa bersabar.
Suka dengan si dia dan ingin mendapat perhatian yang penuh darinya, akan munculkan rasa ingin memiliki. Tapi, apakah hanya itu? Masih ada, yaitu.........

TAKUT
Takut jika nanti si dia tak bahagia saat bersama orang lain, takut jika nanti si dia sakit dan tak ada yang peduli, juga takut nanti si dia jadi kesepian, adalah beberapa perasaan takut yang mungkin muncul jika si dia “diambil” orang lain. Dengan berkurangnya frekuensi perjumpaan dengan si dia, kita tak bisa sepenuhnya tahu yang dia rasakan. Dan pada akhirnya, hati terasa tak tenang.
Setelah 4 hal di atas, ada satu hal terakhir yang menyebabkan kita tak rela si dia “diambil” orang lain, yaitu.........

CINTA
Karena cinta, orang akan berkorban tanpa peduli apa akibatnya. Karena cinta juga, si dia akan lebih penting daripada diri sendiri. Cinta terkadang hadir dari rasa suka. Cinta hadir karena perhatian yang tulus dari si dia. Dan jika ada orang bilang “cinta tak harus memiliki”, itu bohong. Cinta itu harus memiliki, cinta itu harus selalu dekat dengannya. Jika tak memiliki, bagaimana kita bisa cinta?
Lalu, cinta akan hadir karena ketakutan kita. Takut jika si dia terjadi apa-apa, takut si dia berduka, juga takut si dia marah kepada kita. Itulah yang disebut peduli.
Cinta adalah sesuatu yang alamiah hadir di hati setiap manusia. Tak ada daya untuk mematikannya. Yang bisa dilakukan hanya menjaga cinta itu supaya tidak merusak hati. Serahkan saja cinta itu kepada Allah, biarkan Allah yang memeramnya hingga matang pada waktunya. Dan jika kita tak rela orang lain “mengambil” si dia dari sisi kita, bersabarlah. Gunung tak akan lari ke mana, jodoh pun tak akan tertukar dengan orang di samping kita. Ingat, mungkin saja si dia akan pergi dari kita, tapi Dia Yang Maha Segalanya akan tetap bersama kita.
Baca SelengkapnyaJangan Ambil Dia Dariku

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sahabat, Aku Bangga Padamu

© suryarahadianto.wordpress.com
Suatu kali kutuliskan kisahmu dalam sebuah cerpen. Kisah hidup yang sederhana, tapi begitu menyentuh dan bermakna. Pernah juga kujadikan prinsip-prinsip hidupmu sebagai bahan perbincanganku dengan adik angkatan di kampus. Prinsip hidup yang mungkin sama dengan beberapa orang. Tapi, ada rasa yang begitu “jleb” ketika kau yang mengatakannya. Beberapa kali juga, aku menjadikanmu contoh betapa hebatnya kuasa Allah. Jatuh-bangun kaulalui,  tapi tak sekalipun kaumenggugat Sang Pencipta. Teman, aku bangga untuk menceritakan kehebatanmu. Teman, kuharap kau tak keberatan kisahmu kubagi dengan dunia.
“Teman” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti orang yang menjadi pelengkap atau orang yang melakukan sesuatu bersama-sama[1]. Aku lupa kapan tepatnya kita bertemu pertama kali. Yang pasti sejak saat itu, aku mulai mengenalmu, bahkan lebih dari aku mengenal diriku sendiri. Kelebihan dan kekurangan diri tak ragu untuk kita bagi. Ya, itu karena kita yakin, kita ada untuk saling menguatkan. Kita akan saling melengkapi. Kelemahanku dengan kelebihanmu, begitu juga sebaliknya.
Waktu pun terus berlalu, suka-duka kita bagi tanpa ragu. Mulai dari pengalaman manis saat kita juara lomba penelitian, hingga yang paling pahit saat kita adu argumen tanpa saling mengalah. Seingatku, tiga hari kita tak saling sapa. Ah, mungkin sejak itu aku mulai memanggilmu sahabat. Ya, karena sahabat selalu ada ketika kita sedang senang, bahkan saat sedih, sahabat akan datang tanpa diundang. Berkali-kali kautahu kalutnya hatiku. Entah dari mana, padahal wajahku tak pernah menunjukkan itu.
Sendiri membuat manusia lebih banyak mengeluarkan hormon stress, meningkatkan resiko bunuh diri, dan mengurangi kualitas tidur (Inspire’s Minimagz #25)[2]. Karena itulah, aku sangat bersyukur Allah telah menghadirkanmu sebagai sahabat. Lewat canda-tawamu, sejenak aku dapat melupakan gundah. Lewat kehangatan kata-katamu, kaubimbing aku bangkit. Walau aku tahu, terkadang hatimu lebih berduka daripada hatiku.
Kini, kita telah beranjak dewasa. Kita telah punya jalan masing-masing untuk menggapai cita-cita. Mungkin tak lama lagi, kita akan saling mengucap “selamat jalan”. Mungkin tak lama lagi, kau akan berjumpa teman baru. Apapun masa depan kita nanti, aku tetap bersyukur telah berjumpa sahabat sepertimu. Apapun yang terjadi nanti, kita ada untuk saling menguatkan. Ya, itulah sahabat.
Banyak kisah yang telah kita lalui. Tapi hingga sekarang, entah kenapa aku masih cukup malu untuk mengatakannya, mengatakan kalimat “Sahabat, aku bangga padamu”. Atau mungkin aku terlalu angkuh? Yang pasti untuk sekarang, aku hanya bisa berbagi kehebatanmu kepada dunia. Aku suka ketika orang lain bersemangat setelah kuceritakan kisah hidupmu. Aku bahagia ketika prinsip hidupmu menginspirasi orang lain. Kuceritakan kehebatan dirimu karena aku bangga padamu. Sahabat, terima kasih untuk pelajaran hidup yang kaubagi. Kelak akan kukatakan kepadamu, “Sahabat, aku bangga padamu”. Kelak sebelum waktu memisahkan kita.

Referensi:
[1] Teman
[2] Firstly Friendstastic
Baca SelengkapnyaSahabat, Aku Bangga Padamu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Karya, Doa, dan Cinta

© bibeh.com
Beberapa hari yang lalu, aku terlibat sebuah perbincangan tentang rasa suka terhadap perempuan. Teman-temanku, yang pada dasarnya sudah aneh, ternyata mempunyai pengalaman unik ketika masih menjadi pelajar SMA. Pengalaman ini berkisar tentang bagaimana mereka mengekspresikan rasa suka terhadap seorang teman perempuan. Ada yang membacakan puisi karangan sendiri di depan kelas ketika pelajaran Bahasa Indonesia. Ada juga yang hanya berani melihat dari jauh sosok yang disukai. Pun ada juga yang ternyata menyimpannya di dalam hati dan baru terbongkar setelah lulus SMA. Selain uniknya cara, yang lebih unik adalah perempuan yang disukai itu tidak tahu jika disukai. Ternyata laki-laki pintar menyimpan perasaan, atau perempuan yang tidak peka? Ah, apapun itu.
Rasa suka, atau yang lebih tinggi tingkatannya disebut cinta, adalah sebuah hal yang alamiah lahir dari diri manusia. Tak ada seorang pun yang dapat menolak hadirnya perasaan suka, karena pada dasarnya laki-laki dan perempuan diciptakan “tarik-menarik”. Yang dapat dilakukan hanyalah menahan rasa suka itu supaya tidak semakin membesar di luar kendali.
“Aku suka sama kamu” adalah kalimat yang sudah lazim terdengar di keseharian kita. Laki-laki mengatakannya kepada teman perempuan, atau juga sebaliknya. “Mau jadi pacarku?” adalah kalimat berikutnya yang dikatakan setelah si lawan bicara menjawab “Aku juga suka sama kamu”. Uhh, gemes pengen tempeleng mereka. Apalagi kalau yang berkata seperti itu anak SD.
Suka, bilang “cinta”, pacaran, kemudian putus, adalah adegan yang umum terlihat di FTV. Eh, di kehidupan nyata juga ada. Bahkan ada yang pagi jadian, sore sudah berakhir dengan mulus. Short time date, huh? Siapa yang salah dengan ini semua? Ah, yalah yalah, tidak perlu saling menyalahkan.
Teringat sebuah kisah cinta super romantis yang pernah ada di dunia, sepasang suami-istri penuh keberkahan, Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad[1]. Dikisahkan bahwa suatu hari setelah mereka menikah, Fatimah berkata kepada Ali.
“Maafkan aku. Sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda.”
“Kalau begitu, mengapa engkau mau menikah denganku? Dan, siapakah pemuda itu?” tanya Ali terkejut.
Sambil tersenyum, Fatimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah dirimu.”
Dikisahkan kemudian bahwa Ali juga mempunyai perasaan yang sama, bahkan mereka telah saling jatuh cinta sedari kecil tanpa seorang pun dari mereka yang mengatakannya. Cinta dalam diam memang indah pada akhirnya, jika cinta hanya dikatakan lewat doa.
Suka maupun cinta memang baiknya dijaga sebaik mungkin hingga waktunya tepat. Ini semata untuk menjaga perasaan masing-masing. Banyak kasus bunuh diri karena cinta yang ditolak, atau yang lebih ngeri adalah menyiksa diri karena putus dari pacar. Hue, kok ngeri ya........ Tapi, kapan waktu yang tepat untuk menyatakan cinta? Seperti Ali dan Fatimah, saat diri telah siap untuk membangun sebuah keluarga. Namun jika belum siap, terus bagaimana? Sekali lagi, dijaga hatinya, dijaga rasa sukanya, dijaga cintanya. Sampaikan perasaan kita lewat doa. Biarkan Allah yang menyampaikan perasaan itu kepada hati yang tepat.
Jika mengingat kembali perbincangan dengan teman-temanku tadi, rasa suka mereka masih dalam keadaan wajar. Mengekspresikan rasa suka sesuai kemampuan dan potensi dirinya, melalui puisi, cerpen, gambar, atau apapun itu. Nah, mungkin untuk sekarang, mari kita maksimalkan potensi kita. Hasilkan karya terlebih dulu. Dan yakinlah, pada akhirnya, si dia akan tersenyum ketika kita datang dengan karya-karya sukses kita, ketika kita menemui orangtuanya.

Referensi:
[1] Kisah Cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra
Baca SelengkapnyaKarya, Doa, dan Cinta

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Aku Tidak Akan Membuatmu Kecewa

© teropongbisnis.com
“Untuk satu tahun ke depan, kami percaya, kamu bisa mimpin temen-temen di media,” kata kakak-kakak senior di kampus waktu itu.

Menjadi kepala Departemen Media dan Jurnalistik bukanlah keinginanku, bahkan terpikir pun tidak. Kali pertama terjun di organisasi, aku tak ada keinginan untuk bergabung di departemen media. Aku pikir, media itu useless, isinya cari berita, nulis, nge-layout, nggak jelas gitu. Tapi Allah berkehendak lain. Melalui seorang kakak senior, Allah menentukan aku masuk departemen media.
“Setelah melihat kemampuan, bakat, serta potensi, sepertinya adek cocok masuk departemen media” adalah kalimat yang akan selalu aku ingat. “Ah, cuma basa-basi aja”, pikirku saat itu. Tapi setelah mulai merasakan atmosfer departemen media, aku akhirnya sadar. Aku rasa ini yang selama ini aku cari. Ke-nggak jelas-an diskusi tapi bermakna, pikiran kreativitas tanpa batas, serta open minded-nya teman-teman di departemen media, telah memaksaku “jatuh hati” di jalan media.
Well, setelah setahun masa “penjajakan” dengan media, akhirnya aku dipercaya memimpin teman-teman di media. Sebenarnya aku keberatan. Apalah aku ini, hanya seorang mahasiswa yang sering disebut “aneh”. Aku keberatan, aku takut mereka nanti tertular “aneh”. Kalau sudah begitu, aku kan yang salah. Hikz.... Tapi, kenapa kakak-kakak senior percaya aku bisa memimpin departemen media? Apakah karena aku memang bisa? Atau karena sudah tak ada orang lagi yang pantas?
“Kepercayaan” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti harapan dan keyakinan akan kemampuan seseorang atau sesuatu[1]. “Kepercayaan” sangat mahal harganya, bahkan tidak dapat dibeli dengan uang sekalipun. “Kepercayaan” hanya bisa didapat apabila kita sukses melakukan amanah-amanah yang diberikan (Inspire’s Minimagz #29)[2], atau istilah kerennya Integritas. Betapa susahnya untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain, bahkan banyak tokoh-tokoh nasional yang harus berkorban sebelum dirinya mendapat kepercayaan.
Tersebutlah seorang Panglima Besar Jenderal Soedirman. Beliau yang sangat lekat dengan “Perang Gerilya”nya, telah membuktikan bahwa para petinggi negeri saat itu tidak salah memberi kepercayaan kepadanya. Setelah memimpin prajurit perang di daerah, Soedirman memilih jalan gerilya untuk berperang. Bung Karno menolak ikut. Namun, Soedirman dengan tubuh ringkih menahan sakit paru-paru, tetap bersikukuh melancarkan gerilya. Beliau tidak peduli dengan sakitnya. Ini semata untuk membakar semangat dirinya, juga semangat para prajurit[3].
“Kalau Panglima Tertinggi tidak bisa memimpin, mohon izin Panglima Besar akan memimpin perang gerilya ini,” kata Soedirman kepada Bung Karno.
“Kau masih sakit, Dirman!” sergah Bung Karno. Nada suaranya meninggi.
“Yang sakit itu Soedirman, Panglima Besar tidak pernah sakit,” ujar Soedirman.
Perjuangan dan pengorbanan yang luar bisa untuk membela tanah air, itulah Panglima Besar Jenderal Soedirman. Tak salah Bung Karno memberi kepercayaan kepada Soedirman untuk memimpin Perang Gerilya. Terbukti, kepercayaan itu tidak disia-siakan oleh Jenderal Soedirman.
Masih banyak tokoh-tokoh yang diberi kepercayaan, kemudian berhasil menjaga kepercayaan itu. Bung Tomo yang dipercaya rakyat Surabaya untuk memimpin perlawanan terhadap penjajah. Ada juga Cut Nyak Dhien yang berjuang bersama rakyat mengusir penjajah dari tanah Aceh. Tak ketinggalan Sultan Harun dari Kerajaan Ternate yang dipercaya memimpin prajurit melawan penjajah Portugis dan Spanyol[4]. Betapa besar pengorbanan mereka untuk mendapat dan menjaga kepercayaan yang diberikan.
Pikiranku akhirnya terbuka setelah merenungkan kisah-kisah para tokoh besar itu. Aku menemukan jawaban kenapa aku dipercaya untuk memimpin departemen media. Ya, mungkin kakak-kakak senior telah melihat perjuangan dan pengorbananku di departemen ini, atau bisa dibilang Integritas. Hehe..... Walau pada akhirnya aku tahu alasan yang sebenarnya. Tidak ada lagi orang yang mau jadi kepala departemen media. It’s okay, tak apa, dengan ini aku bisa belajar dan mendapat hikmah ketika menjadi pemimpin.
Kepercayaan itu mahal, dan tak mudah mendapatkannya. Tak perlu muluk-muluk seperti para pahlawan untuk mendapat kepercayaan dari orang lain. Kita bisa mulai dari hal kecil, seperti saat meminjam buku milik teman atau menyelesaikan amanah yang diberikan orangtua. Meminjam buku milik teman, menjaganya dengan baik, kemudian mengembalikannya tepat waktu tanpa rusak, adalah salah satu cara mendapat kepercayaan dari teman. Begitu juga saat orangtua memberi amanah kepada kita. Dengan menyelesaikannya secara baik, tentu orangtua kita tak ragu untuk memberikan kepercayaan. Setelah kita mendapat kepercayaan, hal yang harus dilakukan adalah menjaganya. Seperti halnya buah, “kepercayaan” rentan busuk apabila tidak dijaga dengan baik.
“Kepercayaan”, tak hanya sebuah kata berisi sebelas huruf. “Kepercayaan” adalah hal yang penting dalam hidup kita. Jadi, mari kita bangun kepercayaan itu dari hal kecil, mulai sekarang. Kalau tidak kita mulai, siapa yang akan percaya kepada kita? Kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi orang akan percaya kepada kita? Saat nanti mereka berkata dengan penuh keyakinan “Aku percaya kamu”, dengan yakin kita balas “Aku tidak akan membuatmu kecewa”, seperti yang aku katakan kepada kakak-kakak senior waktu itu.

Referensi:
[1] Percaya
[2] Honey Honesty
[3] Kupilih Jalan Gerilya: Roman Hidup Panglima Besar Jenderal Soedirman
[4] Perlawanan 3 Kerajaan Islam Terhadap Bangsa Barat
Baca SelengkapnyaAku Tidak Akan Membuatmu Kecewa

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kebetulan Yang Sengaja

© cahayapurnama.com
“Wah, kebetulan kita ketemu di sini”, “Aku traktir yuk, kebetulan baru dapet rezeki”, dan “Kebetulan aku ada agenda, jadi ngobrolnya ditunda dulu ya” adalah beberapa contoh kalimat yang sering aku dengar tentang “kebetulan”. “Kebetulan” diartikan sebagai sebuah peristiwa atau momen yang tidak direncanakan. Jika ada dua orang secara kebetulan bertemu, itu berarti mereka tidak pernah merencanakan bertemu di tempat itu. Tapi, benarkah “kebetulan” selalu tanpa rencana? Adakah “kebetulan” yang sudah direncanakan?
“Kebetulan” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti keadaan yang terjadi secara tidak terduga (tidak direncanakan). “Kebetulan” mempunyai kata dasar “betul” dengan imbuhan ke-an. Jika sinonim kata “betul” adalah “benar”, maka kenapa “kebetulan” tidak sama dengan “kebenaran”?[1] Antonim dari “kebetulan” juga bukan “kesalahan”. Jadi, bagaimana struktur kata “kebetulan” yang benar? (Aduh, kok bingung ya?)
Kata “kebetulan” sudah biasa terdengar di dalam percakapan sehari-hari. Karena sudah biasa itulah, kita menjadi tidak paham dengan konsekuensi yang menyertainya. Dengan terbiasanya kita menggunakan kata “kebetulan”, dapat mengindikasikan adanya peniadaan terhadap unsur sebab-akibat dari sesuatu[2]. Atau dengan kata lain, kita menganggap yang terjadi di keseharian kita adalah sesuatu yang tidak disengaja (tanpa sebab), seperti “Wah, kebetulan kita ketemu di sini”.
Ternyata, “kebetulan” mempunyai sebuah teori yang disebut Teori Kebetulan. Teori ini kali pertama dikemukakan oleh Empidocles dan Demokritus, yang kemudian dilanjutkan oleh Charles Darwin. Teori Kebetulan mempunyai prinsip bahwa sesuatu terjadi tanpa sebab, bahkan Bumi dianggap terbentuk secara tidak sengaja. Oiya jadi ingat, Darwin pernah melakukan sebuah “pembuktian” tentang teori ini (video “Keruntuhan Teori Evolusi”, Harun Yahya). Sebuah kain yang kumal dan kotor diletakkan di sebuah kotak terbuka. Setelah ditinggal selama semalam, ternyata di atas kain itu ada seekor tikus. Darwin menganggap bahwa tikus itu “kebetulan” berasal dari kain yang kumal dan kotor. Ini sama saja dengan menghitung kemungkinan sebuah pesawat terbentuk dari timbunan sampah yang tertiup topan. “Tidak masuk akal”.
Ada cerita menarik yang aku dapat dari sebuah kajian beberapa bulan lalu. Pak ustadz bercerita tentang seorang pria yang sedang berjalan di sebuah lapangan sepakbola. Ketika pria itu sedang berjalan, seekor burung melintas di atas kepalanya dan memberikan “hadiah” berupa kotoran. Apakah ini kebetulan? Tidak.
Pria itu berjalan di lapangan sepakbola, bisa dibayangkan sendiri luasnya. Tapi kenapa kotorannya bisa tepat menimpa pria itu? Dengan menilik kecepatan pria itu berjalan, kecepatan burung terbang, sudut terbang burung, serta berbagai faktor lain, apakah masih pantas disebut kebetulan? Coba bayangkan jika pria itu tiba-tiba berhenti, atau burung itu melambatkan kecepatannya, atau sudut terbang burung bergeser 1o saja. Apakah ini tetap kebetulan? Maha Besar Allah dengan segala ciptaan-Nya.
Tidak ada satu pun peristiwa dalam hidup kita yang disebut kebetulan. Semua yang terjadi sudah menjadi takdir bagi setiap yang menjalaninya. Ya, takdir yang sudah dituliskan Sang Pencipta. “Kebetulan” hanya muncul dari ucapan manusia, karena pada dasarnya manusia tidak tahu segalanya. Hanya Sang Pencipta yang tahu segalanya, sesuatu yang tersembunyi, juga sesuatu di masa depan. Tidak ada peristiwa yang lepas dari pengamatan dan izin-Nya, bahkan daun yang jatuh dari ranting pohon.
Yuk, sedikit demi sedikit kita kurangi penggunaan kata “kebetulan”. Kata “kebetulan” bisa diganti dengan “Alhamdulillah”. Jadi, jika nanti kita bertemu dengan orang yang tidak diperkirakan, ucapkan saja “Wah, Alhamdulillah kita ketemu di sini”. Ingatlah bahwa semua terjadi karena Allah. “Ketidaksengajaan” sebenarnya dibuat “sengaja” oleh Allah supaya kita dapat mengambil pelajaran. Well, mari kita hidup di jalan “kebenaran”, bukan terpaku pada sempitnya “kebetulan”.

Referensi:
[1] Benar vs Betul
[2] Mereduksi Kata Kebetulan
Baca SelengkapnyaKebetulan Yang Sengaja

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS