RSS

Sistem kadang berjalan apa adanya, kita tak pernah terpikir untuk mengubahnya. Sistem adalah sesuatu yang membantu, pembantu yang berkuasa. Dunia adalah sistem itu. Sejenak berpikir kritis, dunia yang kelam perlahan beranjak estetis

Pages

Loyalitasmu Memudarkan Simpatikku

Alhamdulillah, setelah lebih kurang 2 bulan istirahat dari menulis, sekarang bisa kembali lagi nyinyir via blog. Artikel ini bukan bermaksud untuk menyerang atau menjatuhkan pihak-pihak tertentu. Dari lubuk hati yang paling dalam, maksud artikel ini hanya sebagai pengingat dan media evaluasi kita bersama. Dalam artikel ini, saya memposisikan diri sebagai orang awam. Jadi maaf jika pandangan saya kurang tepat atau ada khilaf yang saya tidak sadari. Semoga di hari esok kita bisa menjadi lebih baik untuk mencapai tujuan kita.
Alhamdulillah juga, pemilu legislatif Indonesia tahun 2014 sudah berlalu. Di satu sisi, konvoi kampanye di jalanan sudah tidak ada sehingga bagi saya juga sebagian besar masyarakat tidak perlu tersiksa dengan suara mengerikan dari knalpot-knalpot yang bergerilya hampir setiap hari. Di lain sisi, tidak ada lagi kampanye, terutama di televisi, membuat intensitas tertawa dan daya analisis saya sedikit berkurang. Apa alasannya? Intensitas tertawa saya berkurang karena saya mulai jarang melihat kampanye yang justru menghadirkan gelak tawa. Mulai dari kader yang kampanye lewat sinetron, melebur dalam sebuah berita heboh, jadi bintang iklan dengan inisialnya, hingga masuk dalam artikel portal berita online. Karena pemilu mereka tiba-tiba ngeksis layaknya ABG, karena pemilu mereka tiba-tiba sangat baik layaknya karyawan magang.
Lalu hubungannya dengan daya analisis apa? Masih berhubungan sih dengan alasan sebelumnya. Para kader itu melebur di berbagai tempat. Peleburan ini yang terkadang jadi “duel analisis” di keluarga saya (lebih seringnya saya sendiri). Kami sering bermain tebak-tebakan, “Habis ini si kader nyamar jadi apa?”, “Berita ini buatan partai apa?”, “Bagus nggak aktingnya?”, dan “Siapa ya yang nulis bagus banget kayak gini?”. Karena “duel analisis” juga yang terkadang membuat kami sedikit naik darah, tidak parah kok, paling hanya langsung ganti channel.
Model kampanye untuk pemilu tahun ini saya pikir jauh lebih kreatif daripada pemilu sebelumnya. Berbagai media turut berkontribusi atas kampanye yang dilakukan oleh partai maupun kader. Televisi, radio, koran, portal berita online, hingga media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Youtube telah menjadi senjata propaganda untuk saling menyerang. Serangan yang mereka lakukan tampak sangat tersamar, namun ada kalanya mereka melakukan serangan terbuka. Nah, untuk mereka yang melakukan serangan terbuka ini sebagian besar adalah para pemilih pemula (pemilih yang baru kali pertama ikut pemilu). Hegemoni pesta demokrasi ini mereka ciptakan dengan media sosial (medsos). Pernah lihat foto profil teman kalian di Facebook pakai logo sebuah partai? Atau pernahkah lihat status dan twit teman kalian yang mengandung ajakan untuk memilih partai tertentu? Saya yakin, sering.
Loyalitasmu, para pemilih pemula, sedikit memudarkan rasa simpatik yang sebelumnya sangat besar untukmu. Kampanye terbuka kamu abadikan lewat foto dan diunggah ke medsos, kamu tambahi dengan kalimat yang dalam pandangan saya itu justru sedikit takabur. Kamu buat foto dan status atas inisiatif pribadi, namun itu justru hiperbola dan sedikit terlewat narsis. Kamu ubah akunmu dengan nama cukup persuasif, “Pilih ini” atau “Pilih itu”. Saya pun jika jadi kader dengan loyalitas sangat tinggi akan berpikir 2-3 bahkan 4 hingga berkali-kali untuk melakukan hal “agak norak” seperti itu.
Masa kampanye sudah diatur dengan sangat tepat oleh yang berwenang. Tiga hari masa tenang adalah waktu yang menurut saya harus bebas dari berbagai bentuk kampanye, entah itu iseng maupun bermaksud terselubung. Status atau twit yang kamu buat harusnya sudah tak memuat ajakan untuk memilih lagi. Bahkan akunmu harusnya juga sudah diganti dengan nama lain. Nah, di bagian ini yang memudarkan simpatikku (bahkan mungkin orang awam yang lain).
“Aku udah nyolos lho, ini kelingkingku #Partai.......”, “Keluargaku pilih ini lho #Partai......”, juga “Ini kelingkingku bareng adikku, pengen deh dampingan sama kelingking lain #Partai........” serta status dan twit sejenis banyak bersliweran di beranda medsos. Mungkin banyak orang di sana yang berkata “Ah luweh, kowe nyoblos kui yo karepmu” atau “Karepku to arep nyoblos opo, kowe enthuk opo gawe status koyo ngono?”. Apa kamu tak tahu prinsip utama pemilu, LUBERJURDIL? Langsung, Umum, Bersih, Rahasia, Jujur, dan Adil.
Satu prinsip di sana, Rahasia. Mungkin harus kamu kaji ulang apa arti “Rahasia”. Saat masa kampanye, promosi dan unjuk diri apa yang dipilih adalah hal wajar dan tak ada yang mempermasalahkan. Yang jadi sedikit lucu adalah unjuk diri setelah memilih, bahkan mengunggah foto-foto editan yang terkesan sugestif-persuasif. Apakah prinsip “Rahasia” sudah tidak penting untukmu? Apakah dunia harus tahu apa yang kamu pilih? Apakah pilihan yang kamu pilih berdasar hati dan pemikiran matang layak untuk menjadi konsumsi publik? Kalau menurut saya, itu lebay.
Mungkin menjadi pemilih yang adem ayem tanpa unjuk berlebih adalah hal yang cukup untuk menarik rasa simpatik orang lain terhadap partai pilihanmu. Mungkin jika kamu sudah gregetan untuk update status atau twit, lakukanlah dengan wajar tanpa ada unsur sugestif-persuasif, apalagi bernada menyerang. Ceritakan pemikiranmu secara lembut. Hal seperti ini secara langsung maupun tak langsung akan menarik rasa simpatik dari orang lain. Mereka akan merasa pilihanmu bukanlah pilihan yang haus publikasi. Mereka akan percaya pillihanmu adalah pilihan yang tidak lebay karena sedikitnya hal-hal di medsos yang bersliweran.
Saya tidaklah benci dengan kamu. Saya bukanlah hater yang akan selalu mencari celah untuk menjatuhkanmu. Saya hanyalah orang yang ingin kita lebih baik bersama-sama. Saya hanyalah orang yang takut loyalitasmu justru akan memudarkan rasa simpatik orang terhadap pilihanmu. Mungkin kini bisa jadi pelajaran kita bersama, terlebih setelah melihat hasil realita. Berikutnya, loyalitas yang diiringi kreatifitas dengan batasan akan meningkatkan rasa simpatik orang lain, bahkan loyalis pilihan lain. Percayalah. Untuk Indonesia yang lebih baik!
Baca SelengkapnyaLoyalitasmu Memudarkan Simpatikku

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Fakta Unik Keringat

Di zaman yang semakin modern ini, mobilisasi yang tinggi sangat dibutuhkan. Selain karena persaingan individu yang semakin ketat, juga dikarenakan perubahan lingkungan yang menuntut manusia harus serba bisa. Kegiatan sehari-hari yang dilakukan tentu akan membutuhkan energi yang memadai sebagai pendukung. Di sisi lain, kegiatan yang semakin banyak akan menghasilkan keringat yang banyak pula. Sudahkah Anda mengenal keringat? Mengapa keringat di ketiak lebih bau? Ini penjelasannya.

APA ITU KERINGAT?
Keringat yang juga kita kenal sebagai Perspiration, merupakan sebuah proses biologis yang normal dan sehat pada tubuh kita. Secara harfiah diterjemahkan sebagai cairan yang dihasilkan oleh kelenjar Sudoriferous (kelenjar keringat). Seluruh manusia sudah mulai berkeringat sejak mereka berusia beberapa bulan. Adapun bau badan yang dihasilkan dari keringat, umumnya baru terjadi setelah manusia mencapai usia puber. Perkembangan dunia modern, beragam produsen menciptakan antiperspirant untuk mengatasi masalah ini dan menunjang gaya hidup manusia yang semakin efisien, modern, dan dinamis. 

MENGAPA KITA BERKERINGAT?

Banyak faktor yang membuat kita berkeringat. Penyebab paling umum adalah kenaikan suhu tubuh kita karena faktor lingkungan atau selama berolahraga. Terkadang, kenaikan suhu tubuh juga dikarenakan faktor hormonal dan tingkat stres. Produksi hormon Adrenalin memacu tubuh untuk berkeringat. Di saat kondisi tubuh kita kurang sehat, anti-bodi yang berperan melawan infeksi juga meningkatkan suhu tubuh.

Ketika suhu tubuh meningkat, keringat yang dihasilkan sebagai cara alami tubuh untuk menurunkan suhu. Proses ini juga dikenal dengan istilah "Thermoregulation". Pada saat keringat menguap dari kulit terjadi penurunan suhu tubuh.

PENYEBAB KERINGAT

Beberapa pemicu keringat antara lain adalah kegiatan fisik yang intensif dan keadaan ruangan yang bertemperatur tinggi. Ketika hal-hal ini terjadi, otak kita mengirim sinyal ke kelenjar keringat untuk mulai berkeringat untuk menurunkan suhu tubuh kita. Pemicu lainnya adalah perubahan emosi, makanan pedas dan panas, perubahan hormonal, dan infeksi.

Stres dan khawatir adalah emosi yang umumnya memicu proses berkeringat. Perasaan ini memicu produksi hormon Adrenalin dalam persiapan menghadapi hal yang telah diharapkan dan keringat adalah efek samping yang normal.
Keringat yang dihasilkan pada saat kita makan terjadi karena meningkatnya metabolisme tubuh kita seiring dengan proses pencernaan makanan. Makanan pedas, secara khusus, menyebabkan keringat muncul di bagian-bagian tubuh seperti wajah, leher, dan dahi. Ini dikarenakan makanan pedas mengandung Capsaicin yang memicu aktifnya sensor panas dalam mulut kita. Tubuh kita mengartikannya sebagai kenaikan suhu dan berusaha menurunkannya dengan berkeringat.
Ketidakseimbangan hormon pada fase tertentu hidup kita, misalnya pubertas atau menopause, juga menimbulkan pola berkeringat yang tidak normal.

DI MANA KITA BERKERINGAT?
Banyak orang menghubungkan berkeringat dengan ketiak. Pada kenyataannya, keringat di area tersebut hanya mengambil 1% dari total keringat yang dihasilkan tubuh kita. Akan tetapi ketiak adalah daerah dimana panas terjebak dan memperlambat proses penguapan, sehingga menyebabkan rasa basah pada daerah ini dan bahkan dapat menyebabkan noda pada pakaian.
Keringat dihasilkan oleh 2 kelenjar utama: Apocrine dan Eccrine. Kelenjar Apocrine terletak di area ketiak kita, sangat dekat dengan akar rambut ketiak. Kelenjar ini aktif ketika kita sedang berolahraga dan merasakan emosi yang kuat seperti stres dan khawatir, dan menghasilkan keringat yang kaya akan protein dan lemak.
Kelenjar Eccrine terletak di hampir seluruh lapisan kulit kita dan menghasilkan keringat yang mengandung 99% unsur air. Kelenjar ini berperan dalam proses Thermaregulation dan bekerja aktif untuk menurunkan suhu tubuh. Kelenjar ini lebih aktif di area wajah, kepala, tangan dan kaki.

Baca SelengkapnyaFakta Unik Keringat

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Selamanya, Laki-laki Adalah Tersangka

Artikel ini bukan ditujukan untuk menyerang atau menjatuhkan kaum perempuan. Ini hanya sekedar unek-unek dan juga sebagai jawaban atau penjelasan terhadap kritik yang diberikan kepadaku. Maaf jika ada yang merasa tersinggung atau tidak berkenan. Maaf juga bagi yang mengkritik kalau jawaban yang diberikan tidak secara langsung dan hanya tertulis (karena tidak tahu siapa saja yang memberi kritik). Sebelum terjadi salah paham, perlu dipahami bahwa artikel ini hanya pendapat subyektif dengan beberapa rangkuman pendapat orang lain dan fakta ilmiah. Mengapa subyektif? Karena cukup sulit mengambil dari sudut pandang perempuan. Perempuan ingin selalu dimengerti, tanpa terasa laki-laki akan menjadi tersangka selamanya.
Laki-laki dan perempuan telah ditakdirkan untuk hidup berdampingan. Karena keunikan pada pribadi masing-masing, laki-laki dan perempuan akan saling mengisi kekurangan dengan kelebihan masing-masing. Perempuan dalam pergaulan sehari-hari mungkin sering beracuan kepada kalimat “Perempuan ingin dimengerti”. Kalimat ini adalah kalimat lama yang telah bertahan puluhan tahun. Hingga kini, kalimat tersebut masih bertahan karena pada dasarnya perempuan memang susah untuk dimengerti, bahkan oleh dirinya sendiri. Terdapat banyak gambaran yang membuat perempuan susah dimengerti, salah satunya perempuan suka GR[1]. Tak mudah memahami perempuan walau telah lama mengenalnya, bahkan ibuku sendiri.
Perempuan cenderung menggunakan hatinya, sedangkan laki-laki akan menggunakan logika. Perempuan dalam menghadapi masalah akan lebih banyak menggunakan perasaannya. Dalam otak perempuan, lebih banyak serat penghubung dan serat ini lebih besar daripada serat yang terdapat pada otak laki-laki. Hal ini membuat perempuan mempunyai kecenderungan lebih besar untuk menggunakan kedua sisi otak secara bersamaan[2]. Tidak mengherankan jika perempuan bisa melakukan dua hal sekaligus, seperti berbelanja sambil bergosip atau menelepon sambil memasak. Selain itu, perempuan cenderung menggunakan otak sebelah kanan yang merupakan pusat perasaan. Mungkin inilah yang menyebabkan perempuan lebih susah untuk dimengerti dan dinalar dengan otak.
Kecenderungan dalam menggunakan perasaan ini terkadang akan membawa sebuah permasalahan kecil. Mungkin jika dilihat sekilas masalah tersebut hanya masalah kecil, namun dari masalah kecil tidak dapat dipungkiri dapat menjadi masalah besar. Masalah itu adalah kekurangmampuan dalam mengartikan sesuatu. Sesuatu dalam hal ini adalah kata, kalimat, maupun tindakan. Perempuan terkadang tidak mampu mengerti atau menangkap maksud dari sebuah kata atau kalimat secara tepat. Mereka cenderung akan mengartikannya dengan perasaan sendiri tanpa menanyakannya kepada sumber kata atau kalimat tersebut. Terkadang apa yang dimaksud sumber sangat jauh diartikan oleh perempuan. Alangkah baiknya jika menemukan sebuah keraguan, segera tanyakan atau cek kebenarannya. Jangan hanya mengira-ira dengan perasaan karena logika pikiran juga cukup penting. Laki-laki pun cukup bermasalah dengan perasaannya. Maka dari itu, harus adanya keseimbangan antara hati dan logika, seimbang antara Thinking dan Feeling.
Tanpa disadari, perempuan sering melakukan kebohongan[3] dan mempunyai banyak rahasia[4]. Tak hanya kalimat, raut muka dan tindakan sering menyiratkan rahasia. Namun di balik semua itu, perempuan memang harus dimengerti karena mereka menganggap orang lain, terutama laki-laki, adalah orang hebat yang mampu mengerti mereka[5].
Kekuatan akan menjadi kelemahan. Perasaan yang merupakan kekuatan perempuan pada suatu waktu akan menjadi kelemahan. Seorang ibu sangat pandai dalam menebak sifat teman-teman anaknya hanya dari pandangan pertama serta perasaan. Seorang perempuan terkadang dapat mengetahui apa yang akan terjadi hanya dari kegundahan hatinya. Perempuan juga pandai berbicara, open minded, dan pandai menjalin hubungan dengan individu lain. Namun kekuatan itu dapat berbalik menjadi kelemahan. Perempuan cenderung menggunakan emosi ketika memproses informasi dan saat berkomunikasi. Selain itu, perempuan akan kesulitan memahami sesuatu dengan logika. Seorang ilmuwan Perancis berkata “Lebih mudah menerangkan teori Relativitas Albert Einstein daripada memahami istri sendiri”. Perempuan adalah makhluk yang kompleks. Mereka mempunyai kekuatan yang pada suatu waktu akan menjadi kelemahan.
Kehidupan ini adalah kehidupan yang seimbang. Perempuan dan laki-laki telah ditakdirkan hidup berdampingan saling melengkapi. Lebih istimewa lagi, ibu ditakdirkan tiga kali lebih utama daripada ayah seperti yang dikatakan Rasulullah. Ini dikarenakan perempuan lebih lembut dan penuh kasih dengan hati dan perasaannya. Namun, kalimat “Perempuan ingin dimengerti” jangan dijadikan pembenar terhadap setiap tindakan perempuan. Tak ada salahnya untuk mengerti orang lain karena dengan mengerti, maka perempuan akan dimengerti. Jika tidak begitu, maka selamanya laki-laki adalah tersangka yang selalu salah.

Baca SelengkapnyaSelamanya, Laki-laki Adalah Tersangka

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Asu, Bukan Salah Anjing

Mungkin bagi beberapa orang judul tulisan ini cukup dianggap kasar atau kotor. Mungkin bagi beberapa orang juga tulisan ini akan membuat diri tak nyaman untuk membacanya, atau juga mengucapkannya. Maaf jika ada pihak yang merasa tersinggung atau marah atau tidak suka dengan tulisan ini. Sungguh, tulisan ini hanya sebagai informasi yang mungkin pantas untuk dibagikan. Jangan anggap kotor atau kasar kata asu karena itu bukan salah anjing.
Kata pada dasarnya tidak punya arti. Bahkan kata sendiri pada awalnya tak pernah ada. Kata-kata yang kita kenal sekarang ini muncul dan mempunyai arti karena adanya serapan dari bahasa lain, pengaruh lingkungan, pengalaman hidup, dan/atau konvensi (peraturan tak tertulis) yang disetujui bersama. Adanya pengaruh lingkungan dan pengalaman hidup dalam munculnya kata pernah diulas di majalah Bobo terbitan awal tahun 2000an. Di sana disebutkan bahwa ada beberapa kata seperti “Bow-Bow” (lupa artinya) yang terinspirasi dari suara angin (kalau tidak salah ingat). Kata tersebut seiring berkembangnya peradaban mulai tergantikan dengan kata-kata lain. Jadi terkadang sebuah kata muncul tanpa adanya pemikiran mendalam tentang kata itu.
Di Indonesia, kata-kata yang kita gunakan dalam Bahasa Indonesia sekarang sebagian besar merupakan serapan dari bahasa lain[1], seperti Bahasa Melayu (Austronesia), Sansekerta, Inggris, Belanda, dan Arab. Kata-kata serapan ini kemudian diolah sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) supaya mudah ditulis dan dibaca orang Indonesia. Selain serapan, banyak kata yang muncul sebagai hasil konvensi yang disetujui bersama. Sebagai contoh “Prikitiiiiew”. Walau tak tahu persis apa arti kata tersebut, kita sepakat tahu kapan kata tersebut bisa digunakan.
Seorang budayawan kondang, Sudjiwotedjo, dalam twit lamanya pernah berujar bahwa kata, terutama kata kasar atau kotor, akan berbeda arti dan penggunaan tergantung tempatnya. Beliau memberikan contoh kata “Jancuk”[2]. Di Jawa Timur, kata ini sudah dianggap biasa diucapkan dalam pergaulan. Berbeda jika ada orang mengatakan kata ini di Jogja, bisa dianggap kurang ajar. Ada juga kata “Ndlogok” yang berkonotasi kasar bagi orang Solo dan sekitarnya. Padahal berdasar pengalaman, di Jogja kata tersebut berarti orang yang pembicaraannya tak terarah atau tujuannya kurang jelas.
Selain tempat, waktu dan keadaan juga berpengaruh terhadap berbedanya arti sebuah kata, contohnya kata “Jancuk” tadi. Konon kata tersebut merupakan kata pembawa semangat saat masa perjuangan melawan penjajah dulu[3]. “Jancuk” pun kalau diucapkan saat tegur sapa kepada teman justru akan membawa keakraban (bagi arek Jatim lho). Tapi saat marah jangan coba-coba mengucapkannya, akan parah akhirnya. Ada juga kata “Asu” atau “Segawon”. Kalau kita mengucapkannya ketika membacakan kalimat, pasti akan biasa saja. Berbeda ketika diucapkan dengan nada tinggi. Coba baca “Anjing kecil itu sering dipanggil ‘Asu’”, kemudian bandingkan dengan “Dasar kamu, ‘ASU’!”. Akan sangat terasa bedanya jika diucapkan dengan nada yang benar, yang pertama biasa saja sedangkan yang kedua terkesan kasar.
Kata-kata kasar atau kotor yang banyak beredar di sekitar kita pada dasarnya tidaklah kasar atau kotor. Kata-kata tersebut digunakan sebagai kata pelengkap makian juga karena pengaruh manusia sendiri. Manusia yang menganggapnya kasar atau kotor dari dulu hingga sekarang. Padahal kenyataannya beberapa kata mempunyai arti awal yang baik, seperti “Bajingan” dan “Sontoloyo”[4]. “Bajingan” adalah sebutan untuk pengendara gerobak (pedati) yang ditarik oleh lembu/sapi. Sedangkan “Sontoloyo” adalah sebutan untuk penggembala bebek. Seiring berjalannya waktu, kedua kata ini berubah arti dan fungsi menjadi kata kotor yang biasa digunakan dalam makian.
Kata kasar atau kotor sebenarnya tak punya arti apa-apa. Hanya saja adanya persepsi yang sama dari beberapa orang tentang kata tersebut, menghasilkan sebuah konvensi bahwa kata tersebut kasar atau kotor. Kita sebagai manusia yang bisa berpikir tak sepantasnya menggolongkan sebuah kata masuk ke dalam golongan kata kasar hanya karena persepsi pribadi. Kita harus mempertimbangkan bagaimana, kapan, kepada siapa, dan di mana kata tersebut digunakan.
Era modern ini komunikasi sudah berkembang sangat pesat. Namun, justru semakin banyak orang yang kurang cakap dalam berkomunikasi. Banyak orang yang salah paham karena persepsi pribadi yang salah tentang apa yang didengar dan dibaca. Masyarakat kita lebih suka menangkap apa yang diucap daripada yang dimaksud. Cerna lagi apa yang didengar atau dibaca. Terkadang yang diinginkan sumber berbeda dengan yang ditangkap penerima, terutama dalam hal kata yang dianggap kasar atau kotor. Tak selamanya kata kasar atau kotor berarti buruk, terkadang justru baik tergantung keadaan. Jadi, cek lagi kebenaran yang kita terima. Jangan salahkan asu karena itu bukan salah anjing. Coba dari dulu kata “Apel” dianggap kasar dan kotor, pasti sekarang banyak orang misuh[5] dan memaki dengan kata “Apel”. “Dasar kamu, ‘Apel’!".
Baca SelengkapnyaAsu, Bukan Salah Anjing

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kaleidoskop 2013

Setelah partner author blog ini menuliskan pencapaiannya selama tahun 2013, saya juga mau menuliskan apa saja kejadian besar yang terjadi di hidup saya selama tahun 2013 ini.

1. Gagal mencapai resolusi yang saya buat di awal tahun 2013.
Jadi ceritanya di awal tahun saya membuat sebuah resolusi yang ingin saya capai. Bahkan tulisan satu tahun silam masih saya tempel di dinding kamar. Menang NETRIDERS. Netriders adalah kompetisi jaringan untuk peserta Cisco Networking Academy. Peserta lomba dibagi dalam tim dan satu tim terdiri dari dua orang. Di tahun 2012 saya juga mengikuti kompetisi tersebut, tapi gagal. Waktu itu masih cupu dan belajarnya juga kurang serius. Di tahun 2013 saya memutuskan untuk ikut lagi dengan partner tim yang sama seperti sebelumnya. Tahun ini saya belajar serius, mempelajari materi yang belum saya dapatkan sebelumnya. Tapi, partner saya mendadak nggak bisa ikut kompetisi karena dia ada agenda di hari H lomba. Akhirnya saya luntang-lantung mencari orang yang mau jadi partner saya. Dan akhirnya saya dijodohkan sama seorang yang belum saya kenal sebelumnya, Mas Agung dari Semarang. Mas Agung juga siswa di akademi Cisco UGM.

Saya baru ketemu Mas Agung di hari H lomba. Sebelumnya kami cuma berkomunikasi via Facebook saja. Untuk ukuran orang yang baru kenal, kami bisa kerja sama jawab soal dengan baik. Memang sih soal di tahun 2013 jauh lebih simpel daripada tahun sebelumnya, terutama untuk soal practical-nya. Ada secercah harapan di hati saya waktu itu. Dari akademi UGM ada 8 peserta. Dan di tahun ini ada peraturan baru. Kalau tahun lalu dari tiap akademi diambil 3 tim untuk mewakili akademinya, di tahun ini hanya diambil 2 tim saja tapi yang masuk di urutan 20 besar nasional.

H+3, seharusnya hasil kompetisi diumumkan. Masih ingat waktu itu hari Senin. Senin pagi sampai siang belum ada pengumuman. Akhirnya malam hari saya menerima email yang berisi pengumuman 20 besar tim yang lolos nasional dan akan lomba lagi di Semarang. Nama kapten tim saya, Mas Agung, ternyata tidak ada dalam list.

Keesokan paginya saya chat dengan Mas Agung, saling minta maaf kalau belum maksimal saat berkompetisi kemarin. Ternyata Mas Agung sempat menghubungi panitia menanyakan peringkat kami. Di dalam akademi, kami berada di peringkat 3. Dan di nasional kami berada di peringkat 21. Wow, nyaris. Nyaris banget. Tapi itulah hasilnya, mau bagaimana lagi. Mungkin mereka yang lolos belajarnya lebih serius dan lebih bisa dari kami.


2. Patah hati.
Kejadian ini nggak pernah saya duga akan terjadi. Tapi ini benar-benar terjadi di pertengahan tahun 2013. Down. Parahnya lagi saya ditinggal dua sahabat baik saya belajar ke Italia. Jadilah saya merasa lebih dan sangat kesepian, bingung mau cerita dan mengadu kemana. Semenjak itu saya memperluas pergaulan. Saya lebih sering gabung, entah itu hanya ngobrol atau sekedar lunch bareng sama temen yang dulunya saya jarang gabung dengan mereka. Alhasil saya sadar, dunia itu luas. Saya masih punya teman banyak, semuanya tidak berakhir. Di akhir tahun ini saya merasa sudah mulai "enteng" dan mungkin sudah bisa move on. Mungkin ini biasa bagi orang lain. Tapi bagi saya move on merupakan pencapaian berarti.


3. Kerja Praktek, dimana banyak kejadian first time.
Saya Kerja Praktek (KP) di Pertamina Talisman Jambimerang, Jakarta selama sebulan. Tentunya saya butuh tempat tinggal selama sebulan. Sekitar seminggu sebelum KP saya dan partner KP pergi ke Jakarta untuk mencari kos di sekitar kantor. Perjalanan ke Jakarta kami tempuh dengan kereta malam (kayak lagu aja). Dan itu adalah first time saya naik kereta jarak jauh, selain Pramex.

Kantor kami mempunyai Gas Plant yang berada di Sumatera Selatan. Tapi untuk mencapai kesana lebih dekat kalau lewat Jambi saja. Ceritanya kami ditawari sama mentor untuk lihat-lihat plant. Mumpung ada kesempatan dan seluruh biaya ditanggung alias gratis, saya dan partner tidak menolak. Akhirnya di minggu ketiga KP, kami berangkat naik pesawat first flight ke Jambi. Flight-nya jam 05.45 dan kami berangkat dari kos jam 03.30. Saya orang ndeso dan ini adalah first time saya naik pesawat. Ini juga first time saya menginjakkan kaki di tanah Sumatera. Secara, tiap tahun nggak pernah mudik, bener-bener cuma di Jogja. Ke luar kota pol-pol cuma waktu touring. Ini sekalinya pergi jauh, nggak tanggung-tanggung langsung ke Sumatera.

Setelah melewati masa makmur di plant (karena makanan enak dan terjamin), kami kembali ke kantor di Jakarta. Di H-2 masa KP berakhir, ada acara donor darah yang diadakan di kantor. Si partner udah kebiasa melakukan donor darah, makanya saya diajak untuk lihat. Waktu dia mendaftarkan diri, entah kenapa saya juga ikutan daftar. Jujur waktu itu saya takut karena belum pernah donor darah sama sekali. Setelah itu kami melewati tes golongan darah, HB, dan tensi. Dan ternyata si partner yang udah kebiasa donor darah ditolak, karena HB-nya ketinggian. Sementara saya yang nggak tau apa-apa malah lolos dan bisa donor, dan sendiri. Ya, ini first time saya donor darah. Ternyata nggak sakit sama sekali. Emang sih habis donor berasa pusing dan lemes. Tapi yang saya suka adalah sehabis itu dapat "amunisi" enak. 

_________________________________________________________________________________


Kira-kira itu kejadian besar dan berarti di tahun 2013 ini. Sangat banyak pelajaran yang bisa saya ambil, sangat banyak. Saya tahu bagaimana rasanya gagal dan sulitnya untuk bangkit lagi. Saya belajar bagimana harus ikhlas menerima semua kehendak-Nya. Semua yang baik menurut saya belum tentu yang terbaik menurut-Nya. Saya juga belajar bagaimana harus bersyukur atas semua nikmat yang diberikan oleh-Nya. Semoga pengalaman di tahun lalu bisa menginspirasi dan menjadikan saya lebih baik lagi. Ngomong-ngomong resolusi untuk 2014 ini adalah "Skripsi lancar, lulus tepat waktu, dan bisa dapet kerja di tahun ini juga". 

Sekian :)
Baca SelengkapnyaKaleidoskop 2013

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2013: Pencapaian

             Dalam setiap pencapaian pasti ada usaha. Usaha yang menghadirkan rasa lelah. Setiap hal yang tercapai pasti ada rasa capai (lelah) sebagai efek sampingnya. Namun, selelah apapun itu jika merasa puas dengan pencapaian kita, rasa lelah akan sirna. Begitu juga berbagai pencapaianku selama tahun 2013. Mungkin ini bukan hal besar bagi yang membaca, namun sangat berarti bagiku, bagi pencapaian selanjutnya. Kira-kira inilah yang aku ingat selama tahun 2013.
                Awal tahun aku awali dengan introspeksi diri bersama beberapa temanku. Segala macam kekurangan dan kelebihan diri diungkapkan. Sebelum introspeksi, dibuat kesepakatan bahwa tidak ada yang boleh marah, namun pembelaan (penjelasan) masih diterima. Dari introspeksi bersama ini aku tahu bahwa ternyata aku lebih sering diam. Diam ketika ada masalah, diam ketika ada keramaian di sekitar, dan diam menyembunyikan apa yang dirasa. Namun, di sisi lain aku begitu mudah masuk ke dalam pembicaraan. Kata teman-temanku, aku humoris dan bisa membawa suasana. Begitukah?
                Di tahun ini ada sebuah pencapaian yang menurutku sangat bermakna, yaitu aku mulai kembali senang bersepeda. Setelah hampir 9 tahun vakum bersepeda secara rutin, tahun ini kegiatan bersepeda mulai aku lakukan rutin. Selain karena tidak adanya sarana (sepeda yang dulu telah gugur), keterbatasan waktu (sibuk kali ya….) juga menghalangi rutinitas bersepeda. Kini kalau tidak ada halangan, tiap Ahad aku isi dengan bersepeda. Entah cuma keliling kota Jogja, pergi agak jauh menantang alam, atau bikepacker ke kota lain. Track menanjak lereng gunung, dataran rendah pantai, blusukan lewat jalan desa, hingga perjalanan melintasi beberapa kota/kabupaten di DIY-Jateng sudah dijelajahi. Kenikmatan menatap alam dan lingkungan sekitar ketika bersepeda sudah lama aku inginkan. Betapa indahnya ciptaan Sang Pemilik Alam yang bisa dilihat dengan jelas ketika bersepeda. Selain sehat, kita juga dapat selalu mensyukuri semua yang ada di bumi.
                Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan pencapaian besarku yang selanjutnya. Mengapa begitu? Dengan KKN aku dapat lebih dekat dengan masyarakat desa, lebih bersyukur terhadap hidup, dan lebih bermanfaat bagi sekitar. Banyak pelajaran hidup yang aku dapat sebelum, selama, dan setelah KKN. Sebelum KKN, kerja sama anggota kelompok dalam mempersiapkan segala keperluan sangat diuji. Namun dengan kesungguhan hati, semua dapat dilalui dengan lancar. Selama KKN aku mendapat hal yang lebih berharga. Tenggang rasa, kasih sayang, rela berkorban, dan semua hal baik dalam hidup aku dapatkan dari masyarakat desa tempat KKN. Setelah KKN selesai, penghargaan masyarakat di sana sangat aku rasakan. Mereka sangat peduli dan tidak akan melupakan kami. Sungguh indahnya hidup bersama masyarakat.
                Pencapaian yang berikutnya adalah intensitas menulisku mulai meningkat. Jumlah artikel aku tingkatkan sedikit demi sedikit. Walau mungkin kualitas tulisanku belum seberapa, aku yakin dan mau belajar untuk kualitas yang lebih baik. Kata orang, banyaklah menulis walau tidak ada yang peduli, yang penting menulis dan yakin tulisan kita akan mengguncang dunia. Aku bersyukur teman-temanku sangat setia memberi semangat ketika aku malas menulis. Di tahun yang baru nanti, target pencapaianku harus bertambah. Selain karena suka, aku juga ingin mengguncang dunia.
                Tiap pencapaian pasti ada rasa lelah. Lelah hati, fisik, waktu, mental, dan pikiran telah aku rasakan di tahun 2013. Namun aku puas dengan pencapaianku, aku suka dengan yang aku lakukan. Cukup dengan suka dan puas, rasa lelah dalam berusaha akan sirna. Puas untuk tahun 2013 bukan berarti pencapaian akan berhenti dan tak berlanjut di tahun 2014. Kini aku hanya sejenak berhenti di halte untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya. Walau lelah dan harus berkorban, pencapaian itu manis ketika kita menikmati prosesnya.
Baca Selengkapnya2013: Pencapaian

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ring Ring Love, I Hear You

                Seperti angin yang berdesir di saat sepi, atau seperti guntur yang menggedor riuh sore. Suara yang terdengar menandakan mereka ada. Aku tahu tentang sesuatu dari kata orang. Aku mulai tahu eksistensi sesuatu dari kabar di sekitarku. Mulai dari telingaku.
                 Dari mana aku mulai mengenal cinta? Mulai dari suara. Aku mulai mengenalnya dari suara dan cerita. Hal sederhana yang aku dengar munculkan rasa tertentu di sendi-sendi hidupku. Ketika derap masa kecilku mulai terasa, perlahan aku mendengar eksistensi cinta. Perlahan, dering-dering itu terdengar.
                Kata mereka cinta itu indah. Kata mereka cinta itu penuh warna. Kata mereka cinta itu semangat. Kata mereka cinta itu mewah. Kata mereka cinta itu bahan bakar kehidupan. Kata mereka, kata mereka, kata mereka aku dengar.
                Saat beberapa suara mulai kudengar, aku mulai mencintai kedua pahlawanku, ayah dan ibu. Mereka yang tulus mengajarkan cinta, dari cinta diri sendiri hingga cinta kepada kehidupan. Cinta yang mereka beri melalui ucapan cinta mereka, lewat dongeng sebelum tidur, serta alunan simfoni nina bobok penuh sihir.
                Teringat masa kecilku penuh ambisi, ambisi menjadi yang terbaik juga ambisi menjadi yang terdepan. Nakal, setidaknya itu yang aku pikirkan tentang masa kecilku dulu. Ayah berjanji memberi hadiah jika aku juara kelas, dan aku mendapatkan juara itu. Namun aku tak tahu, lebih tepatnya tak mau tahu, saat itu ayah belum punya uang untuk membelikanku hadiah. Aku menangis, aku mengamuk, aku melempar barang yang aku pegang. Ayah dengan senyumnya hanya berkata, “Sabar ya, besok hadiahnya datang”. Aku yang belum paham akan cinta hanya menganggapnya kata-kata penghibur belaka. Kini, saat aku mengerti suara cinta, kata-kata ayah sangat penuh dengan cinta dan kesabaran.
                Ambisi menjadi terdepan yang dulu sering bawaku terjatuh. Sore hari yang terkadang aku isi dengan balapan sepeda. Tak hanya jatuh karena terpeleset, jempol kaki yang terjepit ruji roda juga jari tangan yang terjepit rantai pernah aku alami. Tangan, siku, lengan, kaki, hingga lutut penuh dengan bekas luka masa kecil. Namun ibu dengan kata-kata cinta penuh sihirnya selalu berkata, “Kali lain hati-hati ya”. Ucapan sederhana disertai sentuhan lembut tangannya.
                Dewasa mulai bawaku mendengar cinta lebih banyak. Dering-dering yang sayup aku dengar di sekitarku. Mereka bersahutan, mereka saling berinteraksi. Seperti induk kucing yang mengeong memanggil anaknya yang hobinya main. Perlahan waktu memaksaku mempertajam daya dengarku. Dering itu masih jauh di sana, masih terbawa sosok yang masih samar. Pelan waktu berubah deras, cinta itu kuyakin segera terdengar jelas.
                 Banyak orang berkata hidup ini penuh dengan keseimbangan. Keseimbangan yang bawa cinta hadir. Siang yang berkejaran dengan malam, putih yang kadang bermusuhan dengan hitam, serta kemarau yang sering terhapus hujan. Aku dengar perempuan adalah potongan tulang rusuk dari laki-laki yang menjadi jodohnya. Aku dengar itu adalah keseimbangan juga.
                   Aku mulai mengenal cinta dari suara. Cinta yang hakiki, cinta yang murni bagi seluruh alam, cinta dari Tuhan kepada umatnya. Cinta yang aku dengar lewat suara pelantun kalimat-kalimat Tuhan. Cinta yang bawaku semakin dekat kepada dering-dering cinta kehidupan. Dari suara aku mengenal cinta, dari suara aku mengerti cinta. Cinta kepada-Mu, hidup, dan duniaku selanjutnya.
Baca SelengkapnyaRing Ring Love, I Hear You

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Aku Tak Mengenal Cinta

               Pada awalnya aku buta akan hidup. Tak tahu harus melakukan apa untuk mengerti hidup. Pada dasarnya aku masih belajar hidup. Hidup yang terus kupelajari selama aku hidup. Pada awalnya aku mati rasa akan cinta di dunia ini. Aku tak mengenal cinta. Pada mulanya aku ikut apa kata orang. Cinta itu sengsara, cinta itu duka, cinta itu hanya kata semata. Namun aku tahu semua itu salah. Aku terpikir cara untuk mendalami cinta, sebisa otak kanan dan kiriku.
                Aku tak mengenal dunia. Mulai ketika aku lahir, saat gelap masih menaungiku. Aku tak tahu apa-apa, aku hanya tahu naluriku, meski aku sendiri tak paham akan naluri. Perlahan kedua orang tuaku mengenalkanku pada dunia. Dunia yang lembut, dunia yang sopan, dunia yang keras, dan dunia yang membuatku jatuh. Ibu yang mengenalkanku akan panasnya api dan dinginnya es serta ayah yang mengajariku akan kerasnya jatuh dan lembutnya kasih sayang. Mereka adalah duniaku, dunia yang membesarkan dunia sesungguhnya.
                Aku tak mengenal lingkungan. Kata orang, lingkunganku adalah apa yang ada pada diriku. Saat lingkunganku baik maka bisa disimpulkan bahwa diriku juga baik, begitu pula sebaliknya. Sejak kecil hingga sekarang aku masih coba mengenal lingkunganku yang selalu berubah. Berubah karena waktu, semakin berubah ketika aku masuk ke lingkunganmu. Sejenak terpikir cara untuk mengenal lingkunganmu.
                Aku tak mengenal teman-temanmu. Langkah awal yang aku mulai dengan perlahan. Teman-temanmu yang selalu ada untukmu, mereka yang selalu munculkan senyummu. Aku coba mengenal mereka, aku coba pahami mereka. Perlahan kulemparkan tanya tentangmu, tentang siapa dirimu. Perlahan kupaham akan dirimu, paham akan senyummu.
                Aku tak mengenal hobimu. Dari sudut pandang ini aku tak berani mendekat. Dari sisi ini aku hanya bisa melihat. Kau sibuk dengan hobimu, kau suka dengan hobimu. Aku coba melihatnya, kenali, dan pahami. Itu hobimu, aku coba ikutimu. Meski mungkin aku tak suka, namun aku coba suka dengan hobimu. Kucoba untuk lakukan sama denganmu dan bergembira bersama.
            Aku tak mengenal rumahmu. Istana sederhanamu dengan penghuni bersahaja. Ayah, ibu, dan saudara-saudaramu yang tak kukenal, mereka asing di mataku. Perlahan langkah mengayun, sejenak hati tertegun, apakah nada ini akan terus mengalun? Kucoba buka sapa kepada mereka, mereka menebar senyum. Nada yang kuinginkan pelan mengalun. Pelan namun setia iringiku mengenal penghuni rumahmu.
                Aku tak mengenal dirimu. Tak lebih dari nama dan rupa. Awal aku jumpa hingga gundah perlahan sirna, waktu mulai bawaku mengenalmu. Hampir semua tentang dirimu, teman-temanmu, hobimu, penghuni rumahmu, hingga apa yang kau tahu tentangku. Aku yakin kita akan saling mengenal lebih dalam.
              Aku tak mengenal cinta. Aku buta akan cinta. Kini saat kuberanjak mengerti, aku melihat dan berkenalan dengan cinta. Cinta yang sebenarnya abstrak, namun coba kuurai menjadi nyata, senyata sosokmu. Aku bisu akan cinta. Kini saat kuberanjak mengerti, aku mendengar dan tak ragu ucapkan cinta. Cinta yang dulunya aku ragu, kini aku yakin sekeras batu. Aku mengenal cinta, lewat dirimu, orang tuaku, lingkunganku, dan hidupku. Cinta yang hakiki, cinta murni kepada Sang Pencipta Cinta.
Baca SelengkapnyaAku Tak Mengenal Cinta

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ketika Pilihanku Ternyata Mengecewakanku

            Sudah sejak lama aku memegang dengan teguh kalimat ini, “Kalau kau rapuh, kalau hatimu terluka dan bersedih, kalau kau merasa tak bisa apa-apa sehingga tak ada suara yang bisa diucap atau langkah yang bisa diayun, maka tuliskanlah!”. Sudah sejak lama, aku pun lupa dari mana mendapatkannya. Sudah sejak lama, bahkan aku lupa hingga seorang teman mengingatkanku. “Tuliskan”, sebuah kata yang sejenak membuat hati dan otakku terpaku. Aku harus kembali menulis, meski hati merasa kecewa.
           Ketika pilihanmu ternyata mengecewakanmu, apa yang akan kau lakukan? Beberapa orang akan melakukan hal yang bisa menghiburnya, seperti menyanyi atau nonton film. Beberapa yang lain akan mencoba untuk menerima dan tak akan menyesali apa yang terjadi, berharap bisa menjadi pelajaran. Sedangkan tak sedikit yang akan segera beralih ke rencana lain, masih banyak pilihan yang bisa dipilih. Namun, apakah pilihan yang lain tidak akan mengecewakanmu?
             Pada pandangan pertama ketika aku menjatuhkan pilihan padanya, aku rasakan kecewa itu. Dia ternyata tak ubahnya seperti yang lain, dia tak istimewa. Namun apa daya pilihan yang lain pun tak lebih istimewa. Seperti melihat barang dagangan yang sangat kau dambakan di etalase. Perlahan kau melihatnya dari dekat dan sadar adanya goresan di sana yang mengurangi keelokannya. Namun apa daya hati ini telah sedikit terpaksa tertambat, meski rasa kecewa itu ingin meluap.
           Ingin marah, ingin semua tahu rasa kecewaku, ingin dunia melihatku meski sejenak. Mungkinkah? Aku rasa itu mustahil. Sekitarku, bahkan dunia, mereka lebih mementingkan apa kata kelompok daripada apa yang tertulis. Mereka melihat, mereka mendengar, bahkan mereka sebenarnya paham. Namun yang aku rasa, saat mereka sadar, mereka akan kalah dengan telak. Bahkan mereka yang menuliskan itu di dalam lembaran kertas akan mengakui kekalahannya.
                Aku tak ingin sombong, aku hanya kecil, aku bukan Tuhan. Namun di sini aku coba meneruskan perjuangan tangan kanan Tuhan untuk meluruskan mana yang benar. Itu tertulis, seandainya mereka paham. Kalimat-kalimat dari Tuhan yang tertulis, banyak tafsir yang menjelaskan dengan jelas. Kalimat-kalimat yang mereka buat sendiri, mengapa justru mereka tak paham? Mereka tak mampu menafsirkan kalimat mereka sendiri?
                Ketika pilihanmu ternyata mengecewakanmu, apa yang akan kau lakukan? Aku akan lebih memilih menuliskannya. Beberapa lingkaran kecil adalah penguatku di kala rapuh. Mereka ada dan sependapat denganku. Aku dan mereka, lingkaran kecil di sana, lebih suka menuliskan apa yang dirasa. Apa yang tertulis akan abadi, apa yang tertulis akan dikenang, meski hati merasa kecewa.
                Baiklah, semua telah terjadi dan berlalu. Mungkin kini aku kecewa, tapi esok atau tahun depan aku harap senyumku bisa menunjukkan bahwa sekitar, bahkan mungkin dunia, lebih paham apa yang mereka tulis dan lakukan. Aku tetap ada untuk mereka, aku tak ingin menjauh. Aku ada karena mereka, begitu juga tulisanku ini ada karena mereka. Ketika pilihanku ternyata mengecewakanku, apa yang akan aku lakukan? Aku akan menuliskannya.
Baca SelengkapnyaKetika Pilihanku Ternyata Mengecewakanku

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS