© |
Seorang cowok sedang duduk santai
di depan rumahnya. Wuuss, seorang cewek melintas cepat dengan sepedanya. Terkesima
dengan cantiknya, si cowok tanpa pikir panjang lalu mengambil sepedanya yang
ada di garasi. Dia berdandan ala orang yang suka olahraga. Baju tanpa lengan,
celana pendek, dan handuk kecil di leher. Kayuhannya lemah mengejar si cewek.
Pantas saja, dia sudah lama tak pernah bersepeda. Pelan tapi pasti, “mangsa”nya
terkejar. Berkenalan, itu targetnya. Sejak hari itu, si cowok gemar bersepeda
pagi lagi.
Pasti sudah biasa ya lihat atau
baca setting cerita seperti itu. Ya,
itu sepenggal adegan di sebuah FTV yang beberapa minggu lalu aku tonton. Tak
sengaja sih awalnya, tapi kok lama-lama susah beranjak dari sofa. Apa karena
ada sepeda yang ambil bagian? Entahlah. Yang pasti ada satu hal menarik yang
jadi renunganku.
Pernah nggak kita suka sesuatu,
yang jadi kesukaan orang yang kita sukai? Hmm, pasti sebagian besar dari kita
pernah. Si dia suka komputer, kita lalu otodidak belajar komputer. Si dia suka
bersepeda, kita susah payah gerakin kaki mengayuh sepeda. Si dia suka minum
bajigur, kita lalu paksain suka bajigur. Mungkin kalau cuma sebatas suka dengan
si dia, kita tak mungkin susah payah memaksa diri untuk suka sesuatu yang asing.
Tapi beda cerita kalau level kita sudah lebih jauh. Apa itu?
CINTA. Ya, kalau kita sudah mulai
merasakan cinta, sesuatu yang asing pun jadi terasa familiar. Sesuatu yang
berat akan keliatan mudah (hanya keliatan, lho). Pantang menyerah untuk suka
sesuatu itu. Alasannya supaya si dia terkesan dan menghargai usaha kita.
Bukankah cinta perlu usaha dan pengorbanan? Dengan itu, kita berharap si dia
juga merasakan hal yang kita rasakan. Tapi, kalau seperti itu, akan terlihat
seperti terpaksa kan? Kita yang awalnya tak suka, lalu memaksa diri untuk suka.
Seperti anak SD yang tak suka matematika, tapi dipaksa mendapat nilai bagus di
ulangan matematika. Padahal dalam bidang menggambar, dia nomor satu.
TERPAKSA, bukanlah cinta yang
sesungguhnya. Bukan cinta yang alami. Aneh nggak sih kalau cinta kepada manusia
saja kita harus menyiksa diri? Terus bagaimana cinta yang alami? Ya, rasakan
saja dengan hati. Jika kita suka kesukaannya supaya kita dekat dengannya, lalu
berharap cinta akan hadir perlahan, maka itu terlihat kurang kece. Kita
terpaksa untuk melakukan hal yang tak disukai, dan dia terpaksa merasakan cinta
yang kita coba tunjukkan.
Cinta yang alami mungkin seperti
ini. Misal diskusi sama si dia tentang sebuah novel. Dia cerita lebar-panjang,
dan kita tertarik. Nah, saat itu cinta datang secara alami. Kalau pun nanti
kita tertarik untuk membaca novelnya sendiri, itu satu langkah berarti.
Perkembangan kita untuk suka membaca.
Di lain kasus, saat dia bercerita
tentang manfaat Sholat Dhuha. Dia ceritakan pengalaman kerennya setelah
membiasakan Sholat Dhuha. Kita tergerak karena ceritanya, dan mulai
membiasakan. Nah, setelah kita merasakan manfaatnya, ucapkanlah Alhamdulillah
karena nikmat harus kita syukuri. Itu juga salah satu cinta yang alami? Ya,
kita anggap saja begitu.
Cinta kepada sesama manusia itu
harusnya memang hadir tanpa paksaan. Cinta harusnya mengalir begitu saja. Suka
kesukaannya tanpa kita sadari. Tapi, ada satu cinta yang akan membuat terlena
saat kita benar-benar merasakannya di hati. Kita akan melakukan segala hal yang
Dia sukai tanpa pernah terpaksa. Cinta apakah itu?
CINTA KEPADA SANG PENCIPTA. Cinta
yang sangat nikmat. Cinta yang paling tinggi derajatnya. Sudahkah kita cinta
kepada Allah? Seberapa besar cinta kita kepada Allah?
Allah suka kepada kebaikan. Allah
juga suka jika kita melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Jika hati kita
dipenuhi dengan cinta kepada Allah, tentu kita tak akan terpaksa untuk
melakukan semua yang Allah sukai. Begitu pun jika kita terpaksa melakukan yang
Allah perintahkan, tentu itu masih lebih baik daripada tidak melakukan sama
sekali. Paling tidak, kita mencicipi bagaimana rasanya cinta yang hakiki.
Jadi, masih ngaku cinta si dia,
tapi terpaksa untuk suka semua kesukaannya? Pikir lagi deh, mungkin itu bukan
cinta. Ya bisa saja cuma ketertarikan sesaat. Kalau beneran cinta, harusnya
kita tanpa sadar suka kesukaannya, tanpa terpaksa. Tak ada keindahan cinta
karena terpaksa. Pun jika kita tak suka, lebih baik jujur bilang apa
adanya. Toh si dia juga akan memaklumi. Cinta kan memang saling melengkapi.
Tapi
tunggu dulu. Letakkan derajat cinta kita kepada Allah di atas cinta-cinta yang
lain. Kalau cinta kepada makhluk saja kita bisa berkorban, kenapa cinta kepada
Allah kita justru tak mau berkorban? Mari tata kembali hati kita.