RSS

Sistem kadang berjalan apa adanya, kita tak pernah terpikir untuk mengubahnya. Sistem adalah sesuatu yang membantu, pembantu yang berkuasa. Dunia adalah sistem itu. Sejenak berpikir kritis, dunia yang kelam perlahan beranjak estetis.

Latah Kreativitas: Uang Instan dengan Goyang

Art by Kendari (Kaskus)
                Latah merupakan salah satu sindrom yang umum ditemui di wilayah Asia, terutama Indonesia. Secara harfiah, latah adalah ucapan atau perbuatan yang terungkap atau tidak terkendali. Penderita suka meniru ucapan atau perbuatan orang lain tanpa sadar karena yang berkuasa pada diri penderita adalah alam bawah sadarnya. Terdapat beberapa penyebab latah, antara lain adanya pemberontakan dalam diri, kecemasan yang melanda, atau kondisi lingkungan yang menyebabkan penderita ketularan.[1]
                Fenomena latah di Indonesia telah lama masuk ke dalam dunia industri hiburan, terutama dunia pertelevisian. Selain latah dalam arti sebenarnya, latah dalam hal kreativitas[2] juga telah menjadi budaya. Untuk hal ini, latah cenderung disebabkan oleh rasa tidak mau kalah dari orang lain, juga karena sifat dasar orang Indonesia yang suka ikut-ikutan. Di sisi lain, latah kreativitas ini disebabkan kurangnya rasa percaya diri sehingga takut jika dikatakan tidak mengikuti tren.
              Latah kreativitas yang paling nyata akhir-akhir ini adalah munculnya berbagai acara dengan masing-masing goyang yang menjadi ciri khas.[3] Acara-acara ini seakan tidak mau kalah untuk membuat goyangan khas meskipun jika dicermati goyangan-goyangan tersebut tidak jauh berbeda. Penonton, atau lebih tepatnya disebut peserta, rela ikut serta dalam goyang tersebut entah pribadi tersebut merasa malu atau tidak. Pada intinya, peserta-peserta tersebut secara tidak sadar ikut-ikutan dalam acara tersebut karena peserta sebelumnya.
                Munculnya acara dengan berbagai goyang ini mungkin merupakan salah satu “mata pencaharian” bagi segelintir orang. Peserta seperti menjadi ketergantungan terhadap acara ini. Mereka rela berdandan seunik mungkin, atau bisa dikatakan “kebangetan”, untuk selanjutnya bergoyang dengan peraturan yang telah ditentukan. Apakah mereka merasa dipermalukan? Entahlah. Yang pasti, beberapa peserta mengaku mereka mengantri di depan studio dari jam 12 siang, sedangkan acara dimulai jam 8 malam. Apakah ini bisa dianggap acara memengaruhi orang untuk malas bekerja? Entahlah.
                Jika sedikit perhitungan dilibatkan, maka akan muncul sebuah angka yang saya pikir cukup “wah”. Misal dalam satu hari sebuah acara menyediakan 5 juta rupiah untuk hadiah goyang. Jika tiap orang mendapat 1 juta rupiah, maka ada 5 orang bertambah kaya 1 juta rupiah tiap harinya. Sehingga dalam satu bulan, ada 150 juta rupiah untuk 150 orang. Jika dihitung selama setahun, ada 1800 orang bertambah kaya 1 juta rupiah. Itu hanya untuk sebuah acara. Jika ada 5 acara saja, maka ada 9000 orang bertambah kaya 1 juta rupiah dalam setahun. Perhitungan ini hanya jumlah hadiah minimal, jika hadiah lebih besar, maka orang yang bertambah kaya juga semakin banyak. Coba bayangkan jika semua acara bertahan minimal untuk 5 tahun saja, maka 45000 orang bertambah kaya 1 juta rupiah dalam 5 tahun. Betapa “wah”nya pengaruh acara-acara tersebut.
                  Jika kita menilik dari rating yang didapatkan acara-acara tersebut, maka hadiah yang dibagikan tersebut seakan tidak ada apa-apanya. Coba bandingkan, iklan 30 detik saja berharga 30 juta rupiah. Jika dalam sebuah acara ada 10 iklan, maka pendapatan acara tersebut adalah 300 juta rupiah. Berbeda jauh dengan hadiah yang dibagikan kepada peserta goyang. Oke, biaya produksi mahal, tapi dalam pandangan subyektif saya, hadiah tersebut jika dibandingkan dengan malu yang didapat sepertinya tidak sebanding.
                Semakin banyak penonton yang menjadi ketergantungan, semakin naik pula rating acara tersebut. Rating naik, maka penonton akan semakin banyak, rating akan semakin naik lagi, sehingga penonton menjadi semakin bertambah dan bertambah. Ini akan menjadi lingkaran rating yang terus berputar. Beberapa orang yang pernah saya ajak berdiskusi berkata bahwa beberapa acara di televisi untuk beberapa tahun terakhir semakin tidak kreatif. Acara-acara tersebut lebih mengedepankan tindakan “mempermalukan” orang daripada nilai-nilai edukasi. Acara semakin tidak kreatif, padahal tim kreatif di dalamnya semakin banyak.
                Saya, atau lebih tepatnya kita, pada dasarnya hanya bisa menikmati setiap acara-acara tersebut. Hal ini disebabkan selagi rating belum turun, acara tidak akan diakhiri penayangannya. Cukup nikmati saja dan tertawalah seperlunya. Bagi peserta yang ingin ikut, sebaiknya jangan jadikan acara-acara tersebut sebagai “mata pencaharian”, jadikanlah sebagai hiburan. Tetap berusaha dan bekerja karena setiap hal itu perlu kerja keras. Lepaskan ketergantungan mendapatkan uang dari acara-acara tersebut. Bukan hanya karena tindakan “mempermalukan” yang dihadirkan, namun juga untuk mendidik masyarakat Indonesia sadar akan tayangan edukasi. Mungkin jika semakin banyak acara goyang muncul, 10 tahun ke depan angka kemiskinan di Indonesia akan menurun signifikan.

Referensi:
Baca SelengkapnyaLatah Kreativitas: Uang Instan dengan Goyang

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Malam Ahad Diko: Diplomasi Karya

               Becek, basah di mana-mana, bahkan di hati yang kering pun begitu. Sabtu sore jalan di depan rumah kecil yang kami anggap kantor ini juga sama, becek. Kucing kecil yang tampak sayu tatapannya hanya bisa mengeong kalem saat melompati genangan air. Sebenarnya kalau kita bisa menghayatinya, itu bukanlah becek, namun hanya kesejukan setelah gersang yang akan lama hilang.
            Hujan terkadang membawa semangat, terkadang juga membawa kesepian. Sore ini suasana kantor cukup sepi, bahkan sangat sepi. Aku yang ndilalahe[1] datang bersamaan dengan Rafi, hanya melihat Aska yang duduk di ruang utama.
                “Mana yang lain?” tanyaku kepada Aska.
            “Nggak tahu, nggak datang mungkin karena hujan,” jawabnya cepat.
            “Baca apa, As?” Rafi tampak penasaran dengan buku yang sedang Aska baca. Tampak di tangan Rafi juga ada buku. Seperti biasa, sketch book.
            “Cuma buku tentang perkembangan politik masa kekaisaran Jepang,” mata Aska tampak berbinar-binar. Mungkin dia merasa akhirnya ada orang yang mau mendengarkannya berbicara tentang perkembangan dunia.
           Aska, seorang yang ceplas-ceplos namun berwawasan luas. Sosoknya mampu membawa suasana setiap kali kami ngantor. Dari politik Asia-Pasifik hingga perkembangan pemerintahan Eropa serta Amerika-Afrika-Australia tidak ada yang dia lewatkan. Pengetahuannya tentang dunia internasional tidak perlu diragukan lagi. Mungkin ini menurun dari ayahnya yang merupakan seorang diplomat kondang.
              “Bro, ada yang tahu kunci kesuksesan Perjanjian Hudaibiyah?” tiba-tiba Kak Maro muncul dari ruang sebelah. Lagi-lagi dengan pertanyaannya.
                “Aha, aku tahu, kak!!!” seru Aska cepat. Ya, urusan perjanjian, isu dunia, juga teknik berbicara dia jagonya.
                “Cobo jelasno![2] Kak Maro tersenyum. Senyum yang sedikit aneh, lagi.
            “Kesuksesan Perjanjian Hudaibiyah terletak pada wakil kaum Muslimin dalam perjanjian itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Rasulullah, seorang diplomat ulung. Walau sekilas perjanjian itu merugikan kaum Muslimin, namun dengan pemikiran mendalam dan kepintaran beliau serta izin Allah, perjanjian itu mendatangkan kemenangan besar bagi kaum Muslimin,” kata Aska panjang lebar.
                Seperti yang kita tahu, Perjanjian Hudaibiyah (6 H) mendatangkan kemenangan yang besar, salah satunya adalah terbukanya dakwah persebaran Islam sehingga banyak orang Arab akhirnya memeluk Islam. Ini merupakan bukti bahwa kecerdasan Rasulullah dalam berdiplomasi tidak dapat disangkal, tidak terlepas dari izin Allah.
                “Rasulullah mempunyai ketenangan dan kesabaran yang sangat tinggi. Tulisan dalam surat yang beliau kirimkan kepada Raja Najasyi sehingga memeluk Islam sangatlah menyentuh hati. Ini bukti ketenangan beliau dalam bertutur. Juga ketika diperlakukan tidak manusiawi oleh penduduk Thaif, beliau sangat bersabar dan menyerahkan segala urusan itu kepada Allah,” ujar Kak Maro berapi-api. “Itu adalah modal seorang diplomat.”
                “Terus gimana kita menerapkan prinsip diplomasi itu? Kita harus perang gitu?” tanyaku.
                “Yo kudu perang, gelut-gelut!”[3] kata Rafi disusul tawanya. Entah kenapa kita mengikutinya tertawa. Hahahaha……..
              “Sabar bro, diplomasi nggak harus perang. Kita bisa lakukan dengan kemampuan kita. Namun kuncinya adalah sabar, seperti Nabi Nuh yang sabar berdakwah selama lebih dari 900 tahun. Tapi kita nggak perlu 900 tahun juga. Emangnya bisa hidup selama itu?” Kak Maro membuat suasana sore itu pecah. Kami tertawa lagi.
                “Terus gimana maksudnya?” tanyaku lagi.
                “Teras-terus kayak tukang parkir aja. Hahaha……,” kata Kak Maro. “Diplomasi dilakukan dengan menyesuaikan medannya. Rasulullah berdiplomasi dalam peperangan karena musuh beliau saat itu nyata. Sedangkan sekarang, musuh kita masih abu-abu. Jadi kita harus hati-hati dalam berperang, jangan salah berdiplomasi. Nah, gimana kita berdiplomasi? Ya, dengan karya kita.”
             “Maksudnya?” Aska juga masih bingung. Aku lihat Rafi juga tampak bingung. Hahaha………aku juga sama.
                “Diplomasi karya. Kemampuan kita, terutama dalam bidang media, akan menghasilkan karya yang dapat kita gunakan sebagai alat diplomasi. Dengan karya, secara halus kita dapat mengajak musuh kita untuk kembali kepada jalan yang lurus, kepada kebenaran,” senyum Kak Maro mengembang lagi.
              “Bahasamu kak kayak main Age of Empire. Emang musuh kita siapa?” tanya Rafi sambil mengernyitkan dahi.
              “Sebenarnya banyak, tapi yang utama adalah dirimu sendiri,” jawab Kak Maro. Jawaban yang cukup sederhana.
               Diplomasi Karya, cara diplomasi yang dapat dilakukan dengan karya kita. Hidup di dunia ini adalah perjuangan menjadi yang terbaik. Dakwah kreatif adalah salah satu perjuangan itu, dengan karya tentunya. Tidak perlu memikirkan terlalu jauh keadaan apa yang ingin kita ubah, tapi lakukan apa yang kita mampu. Kalau kita mampu berdiplomasi dengan karya kita, kenapa tidak kita lakukan? Untuk mengalahkan musuh kita, ya diri kita sendiri.
                “Bro, udah Maghrib. Yang ngantor cuma kita berempat, gara-gara hujan nih,” kataku.
                “Diko, hujan itu berkah. Lihat, pelangi munculnya setelah hujan, kan?!” sahut Aska cepat.
                  “Iya, Bapak Diplomat!” kami pun tertawa bersama.
               Benar, hujan itu berkah dan anugerah. Pelangi akan muncul setelah hujan reda, seperti yang aku sering lihat di matanya.


[1]Kebetulan
[2]Coba jelaskan
[3]Ya harus perang, berkelahi-berkelahi
Baca SelengkapnyaMalam Ahad Diko: Diplomasi Karya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Malam Ahad Diko: Pohon Takwa

                Seperti biasanya, Sabtu adalah jadwal untuk ngantor. Namun tak seperti biasanya, aku sangat terlambat datang. Di rumah kecil tempat biasa kami ngantor ini, telah duduk teman-temanku dengan kesibukannya masing-masing. Yuha, Pino, dan Halan masih coba untuk memeras otak demi tulisan mereka yang baru setengah. Aska seperti biasa, berceloteh ria tentang gejolak politik dunia. Rafi yang tampak suntuk sedang mencorat-coret sketchbook-nya. Di mana Kak Maro? Tumben nggak kelihatan.
                “Assalamualaykum…..,” ucapku sembari masuk.
            “Wa’alaykumussalam….. Kok terlambat?” jawab Rafi. Tangannya masih aktif mencorat-coret.
                “Maaf, tadi habis ngajari adik-adik di sekolah. Saking serunya, jadi lupa kalau harus ngantor. Hahaha…..,”
                “Kebiasaan ihh…..,” Yuha menimpali. Aku hanya bisa tertawa.
                Di ruang sebelah aku lihat Kak Maro sedang ngobrol dengan Kak Ovri dan Kak Bara. Mereka mungkin sedang berdiskusi tentang edisi berikut yang akan terbit, atau sekedar ngobrol nggak jelas yang biasa mereka lakukan. Tak lama, Kak Maro muncul ke ruang utama.
                “Ada yang hafal Surat Al Maa’idah ayat 35?” tanyanya.
                “Yah, lagi deh……,” seru Halan dan Pino hampir berbarengan.
              “Kebiasaan deh nongol langsung tanya-tanya,” wajah Yuha tampak ditekuk sebal, atau memang sudah seperti itu dari sananya?
                “Diko jawab tu, datang terakhir kan,” jawab Aska sambil tertawa. Oiya, dari tadi dia baru diam dari celotehannya. Super sekali…..
                “Sik-sik, tak bukakke Al Qur’an sik,[1] jawabku. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”
               “Nah itu, kita sekarang berkutat di media juga salah satu cara berjihad. Masing-masing dari kalian punya spesifikasi tersendiri. Kalau digabungin, pasti super hasilnya nanti,” urai Kak Maro panjang lebar.
                “Terus kalau masalah takwa?” tanya Rafi. Tangannya tetap tak lepas dari sketchbook-nya.
               “Takwa itu bisa dianggap seperti pohon, sedangkan buahnya adalah akhlak. Nah, kalau pohonnya dirawat dengan baik, pasti buahnya juga enak,” Kak Maro dengan sabarnya menjelaskan. Pantas kalau dijuluki sebagai topic starter di tiap forum yang ada.
               “Mungkin kalau dianalogikan itu kayak abdi dalem kraton ya?” tanya Aska.
                  “Nah, benar. Coba jelaskan, Aska!” pinta Kak Maro.
                “Abdi dalem itu kalau diperintah Sultan pasti langsung meng-iya-kan, nggak pernah membantah. Istilahnya “Sendiko dawuh”.[2] Kalau abdi dalem aja diperintah oleh manusia nggak membantah, masak kita yang diperintah oleh yang menciptakan manusia, yang notabene perintahnya pasti benar, kadang masih nolak, masih mencla-mencle.[3] Apa kata dunia?!” sama, Aska menjelaskannya panjang lebar. Lagi, dia berbicara tentang dunia.
             “Sekarang, sudah dapat gambarannya? Oke para penulis, itu brainstorming untuk tulisan kalian. Yang lain, kerjaan kalian masih banyak, segera selesaikan ya, edisi berikutnya segera terbit,” kata Kak Maro. Senyumnya mengembang.
            Semua kembali pada kesibukannya masing-masing, aku juga, menyelesaikan artikelku. Berjuang sungguh-sungguh untuk merawat pohon takwa yang kelak berbuah enak. Tiba-tiba pintu diketuk.
              “Wah, akhirnya Fani datang,” kataku spontan. Entah kenapa, wajah Yuha bersemu merah.


[1]Sebentar-sebentar, aku bukakan Al Qur’an dulu
[2]Iya, bersedia
[3]Plin-plan
Baca SelengkapnyaMalam Ahad Diko: Pohon Takwa

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Renungan

Teringat seorang teman pernah bilang, "Cinta itu nggak pernah salah. Kalau salah, berarti bukan cinta. Bisa aja nafsu, ambisi, atau apapun itu". Terlepas dari bener atau enggaknya kalimat tadi, saya jadi berpikir "What's wrong about my past? Apakah itu bukan cinta? Atau salah pilih orang?".

Masih dalam masa recovery. Saya berniat, berkomitmen pada diri saya sendiri:

Tutup hati dulu sekarang! Kunci dan gembok rapat-rapat. Buang kuncinya ke somewhere. Tunggu aja sampai ada orang yang menemukan kunci tadi, dan berusaha mencari gembok yang pas, yang masih nyantol di hati saya.

So many things yang bisa saya lakukan sambil nungguin orang yang bakal menemukan kunci tadi. Saya mau sukses dulu. Saya masih ada tanggung jawab sama orang tua dan dua adek saya. Jodoh pasti bertemu kok, kayak lagunya Afgan :)
Baca SelengkapnyaRenungan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bahagia Itu Sederhana: Mencium Asap

(Photo by @imaduddinYH)
             Pekan lalu, tepatnya 17 Oktober 2013, adalah hari dimana sebuah pelajaran hidup dapat diambil. Bermula dari keinginan untuk mengisi hari tasyrik dengan kegiatan yang seru. FYI, hari tasyrik adalah tiga hari tepat setelah Hari Raya Idul Adha. Pada hari itu umat Islam masih berada pada suasana perayaan Hari Raya Idul Adha. Jadi, diharamkan untuk berpuasa.

Sesungguhnya hari itu (tasyrik) adalah hari makan, minum, dan zikrullah
(HR. Muslim)

                Aku dan teman-teman akhirnya berpikir bagaimana kalau bikin kegiatan masak bareng. Inilah yang tidak dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Dengan daging qurban yang didapat tiap keluarga, diputuskan untuk menyisihkan sebagian daging untuk masak bareng ini. Kami sangat antusias, apalagi untuk urusan masak dan makan.
                 Pada awalnya kami kebingungan mau diapakan daging yang kami punya. Dimasak rendang, BBQ, atau digoreng biasa? Kami anggap itu sudah biasa. Tiba-tiba salah satu teman mengusulkan untuk masak bulgogi. Jujur, kami sering mendengar nama itu tapi tak pernah tahu rasanya. Karena penasaran, akhirnya kami langsung setuju begitu saja. Tak terpikir bagaimana rasa masakan nanti.
                Keterbatasan bahan dan bumbu membawa kami improvisasi diri. Karena sebagian daging telah diberi bumbu rendang, maka dibuat bulgogi with rendang flavour and ginger. Inovasi yang pada akhirnya kami tahu ini tak salah dicoba.
              Pada intinya, bulgogi adalah daging yang dimarinet kemudian dipanggang. Karena sesuatu hal, kami menggunakan penggorengan teflon untuk memanggangnya. Bumbu dioles sebanyak yang kami kira selama dipanggang. Dibolak-balik hingga daging menjadi golden browny. Asap yang muncul membawa imajinasi akan lezatnya daging di depan mata kami.
                Asap, sebuah materi yang muncul karena adanya api. Kehidupan ini patutnya dijalani seperti api yang membara, berkobar semangat di jalan-Nya. Usaha yang kita lakukan dapat diperkirakan hasilnya dari asap yang muncul. Bahagia itu sederhana, mencium asap. Jika kita mencium asap dengan aroma yang sangat harum dan lezat, dapat kita perkirakan hasil yang didapat pun akan lezat. Sebaliknya jika asap yang tercium sangat tidak enak, maka hasil usaha kita pun akan tak mengenakkan. Namun sebelum terlambat, kita dapat mengubahnya ke arah yang lebih baik.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada  pada diri mereka. (Ar Ra’d 13:11)

                Seperti memasak bulgogi, daging tak akan matang tanpa usaha kita untuk memanggangnya. Dengan api usaha kita, daging yang keras pun akan lunak. Asap yang muncul adalah indikasi masakan kita lezat atau tidak. Jika asap yang tercium tak mengenakkan hidung, alangkah lebih baik untuk mengubah rencana masak. Siapa tahu jalan yang lain adalah jalan terbaik.
              Mencium asap mungkin adalah langkah antisipasi terhadap usaha hidup yang kita lakukan. Waspada terhadap tindakan akan menghindarkan dari hasil yang tak diinginkan. Usaha yang sungguh-sungguh akan mendatangkan nikmat, seperti bulgogi yang kami masak. Asap yang tercium sangat harum, rasa masakannya pun lezat. Lezat tak sekedar rasa, tapi lezat karena ini hasil usaha tangan sendiri. Cukup bahagia untuk itu, sebahagia mencium asap hasil usaha.
Baca SelengkapnyaBahagia Itu Sederhana: Mencium Asap

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bahagia Itu Sederhana: Meluncur Turun

                
                 Hari Ahad pagi, tepatnya 13 Oktober 2013, adalah hari yang mungkin telah lama ditunggu kedatangannya. Bukan karena ada hadiah jatuh dari langit, bukan karena ada orang spesial, juga bukan karena aku bisa tidur seharian. Hari tersebut adalah hari dimana target atau impian akan dicoba untuk diraih. Bukan impian yang terlalu “wah”, hanya impian kecil demi kesehatan, bersepeda (gO_Owess) dari Kota Jogja menuju Universitas Islam Indonesia (UII) Jalan Kaliurang KM 14,5. Ini adalah target kedua, setelah beberapa bulan sebelumnya gO_Owess menuju Prambanan dengan jarak tempuh total sekitar 40 KM.
             Pagi itu suasana sangat cerah. Perjalanan dimulai dari titik 0 Kota Jogja menuju Timoho. Selanjutnya gO_Owess dilanjutkan menuju Masjid Kampus UGM untuk beristirahat dan berdoa meminta kekuatan dari Sang Pencipta. Kira-kira pukul 09.00 perjalanan menuju UII dilanjutkan. Walaupun jarak tempuh total gO_Owess kali ini hampir sama dengan target gO_Owess pertama, namun medan yang menanjak menjadikannya tantangan tersendiri. Kota Jogja mempunyai ketinggian sekitar 114 m dpl, sedangkan UII mempunyai ketinggian sekitar 350 m dpl. Dapat dibayangkan seberapa menanjak perjalanan yang ditempuh.
                Beberapa kilometer ditempuh, jalan masih cukup landai. Namun, mulai KM 7 jalan mulai menunjukkan peningkatan kemiringan yang cukup signifikan. Kecepatan kayuh dan rotasi pedal mulai menurun. Gear mulai dialihkan ke posisi kecil, napas mulai terengah-engah. Tercatat dua kali istirahat dilakukan untuk sekedar mengisi tenaga dan melemaskan otot kaki yang terisi asam laktat. Perjalanan menanjak laksana perjalanan dalam kehidupan.
                Kehidupan ini laksana bersepeda. Perjalanan menanjak ini seperti kehidupan setiap manusia. Mungkin pada awalnya terasa biasa saja, terasa tak ada beban dan cobaan. Namun, seiring waktu berlalu, perjalanan hidup akan semakin berat dan penuh cobaan.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al Baqarah 2:214)

                Perjalanan gO_Owess yang menanjak pastinya terasa sangat berat, apalagi kaki sudah terasa panas karena asam laktat yang kian menumpuk. Akan tetapi dengan keyakinan bahwa pertolongan Allah itu amat dekat, perjalanan ini pasti akan menemui hasil yang indah. Kayuh, kayuh, dan kayuh, hingga gerbang UII terlihat di depan mata. Sebuah kebahagiaan dan kebanggaan dapat menaklukkan UII yang berada di “khayangan” dengan gO_Owess.
                Kenikmatan memang harusnya dinikmati. Kenikmatan di puncak ini cukup dinikmati untuk sesaat karena tak ada kenikmatan dunia yang abadi. Setelah perjalanan menanjak yang berat, akhirnya ditemui sebuah puncak penuh nikmat, dan kemudian setiap orang harus meluncur kembali ke bawah untuk mulai perjalanan menanjak yang lain. Ya, gO_Owess ini dilanjutkan dengan meluncur turun kembali ke Kota Jogja.
                Bahagia itu sederhana, meluncur turun. Sebuah bayaran yang mahal untuk gO_Owess menuju “khayangan” yaitu meluncur turun tanpa mengayuh sepeda. Semilirnya angin serta pemandangan yang indah menambah kebahagiaan saat meluncur turun. Namun, kebahagiaan juga merupakan sebuah cobaan dari Sang Pencipta karena jika terlena, justru celaka yang ditemui.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Al Anbiyaa’ 21:35)

              Perjalanan gO_Owess menuju UII ini mungkin dapat menjadi analogi sederhana dari perjalanan kehidupan yang sebenarnya. Jalan menanjak, mencapai puncak, kemudian kembali ke bawah untuk memulai perjalanan menanjak yang baru. Kehidupan tak ubahnya sebagai tempat belajar umat manusia. Belajar untuk terus menjadi yang terbaik di hadapan Sang Pencipta. Belajar melalui cobaan-cobaan yang diberikan-Nya hingga suatu saat tiba pada kebahagiaan, yaitu meluncur turun.
               Target kedua telah tercapai. Kebanggaan ada di dalam diri, namun harus aku redam karena perjalanan yang lain masih menanti. Setelah Prambanan dan UII ditaklukkan, target berikutnya adalah Pantai Selatan dengan jarak sekitar 30 KM dan Solo dengan jarak sekitar 60 KM. Apakah target ini akan tercapai? Lihat saja nanti. Pertolongan Allah itu amat dekat.
Baca SelengkapnyaBahagia Itu Sederhana: Meluncur Turun

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sahabat Atau Musuh?

© sharingdisana.com
Sahabat, sebuah kata yang menampakkan ketenangan, kesejukan, dan kebahagiaan. Tenang ketika rasa galau berhasil diusir oleh ekspresi lucunya. Sejuk karena nasihat-nasihatnya dapat mendinginkan hati yang terbakar. Juga bahagia yang terbawa bersama hadirnya di kala senja sore tak bersahabat. Itu yang selalu aku rasakan untuk setiap waktu bersama sahabat, hingga semuanya berubah.
Tak tahu persisnya, yang kutahu hanya akhirnya. Dia mulai menjauh, dia berubah. Meski kebaikannya masih ada, tapi ketenangan, kesejukan, dan kebahagiaan yang selalu dia hadirkan mulai tak tampak lagi. Saat itu, hanya satu pertanyaan yang aku pikirkan, “Ada apakah di antara kita?”. Mungkinkah ada sebuah tembok tak terlihat yang menghalangi semua sifatmu yang dulu? Ataukah mataku mulai rabun akan silaunya semua sifatmu yang dulu? Entahlah.

Musuh, mungkin itu yang aku rasakan setelahnya. Di mataku dia jahat, tak terlalu jahat memang, atau mungkin hanya pendapat subyektifku saja. Di benakku dia keras, seperti tegas yang biasa memang, atau hanya otakku yang mulai mensintesis hormon benci untuknya. Semua di mataku menurut orang lain tak sama di mata mereka. Kata mereka, sahabatku tak berubah. Ucap mereka, sahabatku tetap sama. Entahlah.
Di hari-hariku yang terus berlalu, tak jarang aku hanya diam ketika dia menyapa. Sering kali aku tak menatapnya ketika kita bertemu di lorong sempit menuju kantin. Terkadang aku berpikir, “Dia sahabat atau musuh?”. Jika musuh, dia tidak menjatuhkanku. Namun jika sahabat, aku mulai berpikir negatif tentangnya. Lama aku mencari jawaban itu. Kucoba bertanya kepada langit malam, debu yang membisu, dan beberapa orang yang kuanggap tepat. Hasilnya sama, tak ada jawaban. Kucoba lebih lama untuk berpikir, menyendiri untuk merenung. Hingga aku mulai sadar akan sesuatu. Aku telah dibutakan oleh perhatian.

Sahabatku yang dulu selalu ada untukku. Sahabatku yang dulu selalu bawa hatiku tenang. Sahabatku yang dulu selalu penuhi waktuku dengan perhatian. Perhatian yang bawaku buta akan sebuah kata, “Hilang”. Perhatiannya yang besar telah menggiring pikiranku untuk memandangnya seperti itu. Hingga suatu hari sedikit perhatiannya hilang, dan itu mengacaukan pikiranku. Hanya sedikit perhatiannya padaku yang hilang dan dia berikan kepada sahabatnya yang lain. Aku merasa sangat bodoh dengan ingin merajai perhatiannya. Dia bebas punya berapapun sahabat, begitu juga aku. Sahabat tak boleh dibatasi karena sahabat itu seperti ranting. Semakin kuat kepedulian sebagai batangnya, semakin banyak juga ranting sahabat yang muncul, semakin kokoh pula pohon kehidupan yang kita coba jaga bersama.

Musuh adalah sahabat yang belum jadi, kata Mario Teguh. Kalimat itu benar adanya. Tak dapat dipungkiri, terkadang musuh lebih perhatian daripada sahabat kita sendiri. Musuh akan coba mencari tahu semua kelebihan dan kekurangan kita. Itu semua dilakukan untuk menjatuhkan kita. Namun, tak sedikit musuh yang dapat menjadi sahabat setelah mengetahui kelebihan kita. Anime Pokemon pun mengajariku tentang sahabat. “Musuh hari ini adalah sahabat di esok hari. Tapi sahabat hari ini adalah sahabat untuk selamanya”. Persahabatan tak kenal adanya kasta, harta, maupun tahta. Semua sama, semua adalah kita. Sekarang aku sadar, dia tetap sahabatku. Tak ada istilah “mantan sahabat” bagiku. Bagaimana denganmu? Dia sahabat atau musuhmu? Yang manapun itu, dia tetap sahabat di hatimu.

Cara yang terbaik menghancurkan musuh adalah menjadikannya sahabat
-Abraham Lincoln-

Baca SelengkapnyaSahabat Atau Musuh?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ketika Debu Pun Menjauh

                
                Terkadang hal seperti ini selalu datang. Saat dimana orang-orang di sekitar menganggap remeh diriku. Aku mungkin tak dapat mendengar semua yang mereka ucapkan, tapi sedikit aku tahu yang mereka pikirkan. Perlahan mereka menjauh, perlahan mereka mengeluh, perlahan debu pun menjauh.
                Suatu waktu aku berdiri di depan mereka. Aku coba menjadi pelayan yang baik untuk mereka. Kucoba memberikan apa yang mereka pinta. Kucoba dengan sekuat hati. Namun yang kurasa mereka memandangku sebelah mata. Otoriter, begitu katanya. Egois, juga katanya. Terlalu memaksa, itu pula yang dikatakannya, bahkan mereka.
            Mungkin di saat seperti itu aku terlihat konyol, satu di antara mereka. Tapi yang tak mereka tahu bahwa aku terus mencoba melayani mereka. Mereka yang penuh dengan permintaan, mereka yang penuh dengan prasangka, dan mereka yang penuh dengan perasaan.
            Ketika debu pun menjauh, aku hanya bisa terdiam. Apakah langkahku salah? Apakah tempatku tak tepat? Apakah hidupku ini tak berarti? Kesendirian ini memaksaku menepi, memaksaku untuk mencerna jalan hidupku kembali. Mereka menjauh, bahkan debu pun menjauh. Seakan aku tak dihargai, seakan mereka paling berarti.
          Kini aku hanya ingin membebaskan diri. Melepaskan diri dari prasangka mereka. Prasangka dan persepsi akan membunuh kita jika tak disertai bukti. Kini aku hanya ingin berpikir apa arti hadirku. Apakah aku tak diinginkan? Ataukah aku memang bukan untuk mereka?
                Kesendirian tak selalu menyakitkan. Ada waktu dimana kita dapat merenung tentang diri kita. Sendiri tak selalu berarti tak ada siapapun yang menemani. Masih ada Allah yang selalu menemani, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Waktu yang tersisa ini mungkin adalah waktu yang tepat untuk mulai mengubah prasangka mereka. Aku bukanlah apa yang mereka pikir. Ketika mereka menjauh, ketika debu pun menjauh, prasangka mereka bukanlah kenyataan.

Kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapapun tentang kenyataan
-Pramoedya Ananta Toer-
Baca SelengkapnyaKetika Debu Pun Menjauh

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Random

Suatu sore, galau. Udah niat mau telepon Fai, tapi tak putus karena suatu hal. Dan mendadak dia sms:

"Entah kebaca di mana tiba-tiba inget:
Aku seharusnya bersyukur hanya kehilangan orang yang tidak benar-benar mencintaiku, dia yang harusnya bersedih karena kehilangan orang yang benar-benar mencintainya.
Haha ojo galau neh yo mbak"

Sedikit mengobati, makasih Fai :)
Baca SelengkapnyaRandom

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS