RSS

Sistem kadang berjalan apa adanya, kita tak pernah terpikir untuk mengubahnya. Sistem adalah sesuatu yang membantu, pembantu yang berkuasa. Dunia adalah sistem itu. Sejenak berpikir kritis, dunia yang kelam perlahan beranjak estetis.

Our Life is Chemistry


Life is chemistry, there is no life without chemistry
(Prof. M. Utoro Yahya – Dosen Kimia UGM)

    


               Sekilas kalimat tersebut tampak berlebihan. Hidup adalah kimia? Benarkah? Mungkin bagi sebagian orang, hidup itu adalah sesuatu yang tak bisa digambarkan dengan satu kata, namun bagi sebagian orang yang menekuni ilmu kimia, hidup itu adalah kimia. Tubuh, makanan, minuman, dan apa yang ada di sekitar kita adalah kimia. H2O, O2, protein, mineral, juga fotosintesis. Kimia adalah model sederhana dari kehidupan yang tentu sangatlah kompleks.
           Kehidupan itu seperti apa? Secara sederhana, kehidupan itu ada tangis, canda, tawa, masalah, konflik, suka-duka, keruwetan, dan seabrek faktor pelengkap yang lain. Secara sederhana pula, setumpuk hal tadi dapat ditemui di dalam kimia. Seseorang dapat menangis saat pertama kali berkenalan dengan kimia. Canda dan tawa selalu hadir ketika plesetan kata muncul dari Tabel Sistem Periodik Unsur. Masalah dan keruwetan adalah hal umum saat menentukan sebuah mekanisme suatu reaksi. Konflik perebutan elektron tiap atom dalam senyawa adalah hal biasa. Suka-duka karena hasil reaksi yang indah serta kaget karena tumpahnya larutan adalah pengalaman berharga.
                 Harta bisa dianalogikan sebagai elektron. Elektron akan terus beredar kepada siapa saja yang membutuhkan, seperti harta kita yang hanya titipan. Memberi adalah salah satu cara untuk mendapatkan sesuatu. Seperti atom Hidrogen yang biasa memberikan elektronnya ke atom lain, ada saatnya dia mendapatkan sebuah elektron, dan itu adalah keadaan yang sangat istimewa setelah apa yang dia berikan. Ada juga senyawa kompleks. Sifat senyawa ini sangat beragam tiap jenisnya tergantung penyusun dari senyawa tersebut. Kompleks [CoF6]3- dan [Cu(NH3)4]2+ tentu mempunyai sifat yang berbeda, seperti kehidupan yang pastinya berinteraksi dengan berbagai macam orang.
                Sifat istiqomah pun dapat dianalogikan seperti prinsip Buffer. Ibadah baiknya stabil, jika harus turun, penurunannya juga tak boleh banyak. Tapi kenaikan adalah hal yang wajib dicapai. Reaksi fusi dari nuklir juga dapat digunakan untuk menggambarkan keuntungan dari memberi dan waqaf. Sedikit hal yang kita berikan untuk waqaf akan menghasilkan sesuatu yang sangat besar untuk kita yaitu pahala yang terus mengalir. Reaksi berantai istilahnya. Ada juga analogi untuk jodoh. Setiap reaksi mempunyai kecepatan atau kinetika yang berbeda. Begitu juga dengan jodoh yang datangnya tak diketahui waktunya, bisa cepat yaitu orde 2, atau bisa juga orde 0 yang waktunya lambat.
                Model sederhana dari kehidupan, begitulah kimia. Tak melulu keruwetan dan keseriusan, canda pun dapat hadir dari kimia. Seperti senyawa Besi Bromium Iodida yang disusun dari unsur Fe-Br-I. Ya, itu adalah plesetan sebuah nama karena senyawa itu memang belum ada. Namamu juga bisa diplesetkan menjadi senyawa kimia?
                 Plesetan lucu lainnya adalah Natrium Silikat merupakan nama kimia dari nasi. Ya, karena Natrium adalah Na dan Silikat adalah Si, NaSi. Begitu juga dengan nama kimia dari minyak, yaitu B2M. Tak tahu artinya? Sederhana, B2M adalah BBM atau istilah minyak itu sendiri.
               Bukan rahasia lagi bahwa tujuan saintis mengembangkan ilmu adalah untuk lebih mensyukuri kehidupan dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta ilmu. Kimia adalah salah satu ilmu yang secara perlahan membawa kita menemukan hakikat dari kompleksnya hidup. Secara nyata pula kimia dapat mendekatkan kita kepada Sang Pencipta karena hal-hal tentang kimia banyak diulas di dalam Al Qur’an, seperti besi di dalam surah Al Hadiid.
               Hidup kita adalah kimia. Kimia adalah cara untuk mengungkap misteri yang akan tetap misteri (kata seorang dosen Kimia), seperti hidup yang selalu menjadi misteri. Chemistry is still be chemystery. Apa yang terlihat sekarang mungkin hanyalah topeng semata, topeng untuk memperindah persepsi. Kehidupan akan selalu kompleks untuk dijalani. Itu karena…….

Kehidupan nyata tak seindah warna aslinya

(Endang Astuti – Dosen Kimia UGM)
Baca SelengkapnyaOur Life is Chemistry

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Anak Kucing Yang Tak Dianggap


             “Harus seperti ini…..”, “nggak boleh gini…..”, atau “pokoknya harus……” mungkin menjadi kalimat yang sering kita dengar ketika berdiskusi dengan orang yang lebih tua daripada kita. Mungkin juga itu adalah kalimat “sakti” yang digunakan untuk menghentikan sebuah diskusi ketika argumen tidak dapat ditambahkan alasan yang akurat.
                Hal ini sering menjadi tanda tanya, terlebih ketika terjadi di keluarga sendiri. Mengapa mitos dan budaya tak boleh dijelaskan dengan logika atau ilmiah? Mengapa susah untuk membuka pikiran untuk sesuatu yang baru? Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang hingga kini masih tak dapat ditemukan jawabannya.
              Mitos dan budaya memang telah mengakar dan mendarah daging di masyarakat kita. Hingga saat ini sebagian mitos masih menjadi pengetahuan, belum menjadi ilmu. Menghapus mitos dan budaya dapat dianalogikan seperti menghentikan gelombang ombak, sangat susah. Namun bukan hal mustahil untuk meluruskan mitos dan budaya tersebut menjadi hal yang dapat diterima nalar dan logika. Perlu pendekatan dan langkah perlahan supaya tak ada penolakan terhadap apa yang menjadi penjelasan ilmiah dari mitos dan budaya tersebut.
            Pada umumnya, mitos dan budaya yang berkembang sekarang mempunyai beberapa sebab kemunculannya, seperti keterbatasan pengetahuan manusia, keterbatasan penalaran manusia, keingintahuan manusia yang telah terpenuhi sementara, dan keterbatasan alat indera manusia.[1]
            Penolakan penjelasan ilmiah terhadap mitos sering saya alami di keluarga, entah dari ibu maupun nenek. Salah satunya adalah ketika hujan turun. Kata nenek, kalau hujan turun pasti akan ada petir, jadi semua alat elektronik harus dimatikan. Memang benar hujan pasti akan menghadirkan petir, namun itu akan ditentukan oleh seberapa banyak muatan listrik yang dibawa oleh awan. Jika muatan listrik yang dibawa sedikit, maka petir pun akan semakin lemah. Terkadang hujan deras pun tidak ada petir yang nampak karena awan tidak membawa muatan listrik.[2] Hal ini berarti alat elektronik tidak harus dimatikan, asal kita harus cermat mengamati awan saat itu.
            Mitos tentang hujan yang lain adalah saat ada petir televisi harus dimatikan karena petir dapat menyambar antena televisi. Hal ini memang ada benarnya, namun jika melihat keadaan di sekitar rumah yang penuh dengan pohon-pohon tinggi, mitos ini menjadi sedikit janggal. Seperti yang kita tahu, petir akan menyambar benda-benda yang paling tinggi, sedangkan antena televisi mempunyai tinggi yang tak seberapa. Beda cerita kalau rumah kita ada di tengah lapangan.
            Selain mitos, ada juga budaya yang hingga sekarang belum didapat penjelasan yang bisa diterima logika. Seperti contoh, pernikahan adat Jawa. Kata mereka yang pernah memakai, pakaian adat Jawa itu membuat gerah. Kalau memang seperti itu, mengapa masih mau memakai? Kata mereka yang pernah memakai, pakaian adat Jawa adalah budaya yang harus dilestarikan karena sepasang pengantin dianalogikan sebagai raja dan ratu. Ya, budaya dilakukan hanya asal dilakukan, penjelasan mengapa budaya itu harus dilakukan sangat sedikit.
            Artikel ini bukan bermaksud untuk menyerang pihak-pihak tertentu. Uraian di atas hanya ingin memberikan gambaran betapa sering kita menjumpai penolakan terhadap hal-hal ilmiah, bahkan dalam keluarga sendiri. Satu hal yang pasti adalah mitos dan budaya hadir untuk menghindarkan kita dari bencana serta menata kehidupan kita menjadi lebih bermartabat. Berbagai hal seperti ini janganlah menjadi penghambat untuk terus menyebarkan ilmu-ilmu serta penjelasan ilmiah tentang mitos dan budaya di sekitar kita, meskipun mungkin kita akan menjadi anak kucing yang tak dianggap di keluarga sendiri.

Referensi:
Baca SelengkapnyaAnak Kucing Yang Tak Dianggap

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Berkaca Terhadap Jati Diri

           Hidup itu penuh dengan pilihan. Dimulai saat kita masih kecil, kita akan diberi pilihan berlatih berjalan atau langsung berlari. Beranjak dewasa, kita menemui pilihan tentang sekolah. Sekolah favorit, sekolah bagus, atau sekolah rakyat. Tak dapat dipungkiri semua pilihan dalam hidup perlu sebuah pertimbangan untuk menentukan. Pertimbangan berdasar kemampuan, prioritas, juga perkiraan hasil.
         Hal pilih-memilih terus berlanjut hingga kita tiba di jenjang/tingkat yang disebut Mahasiswa. Embel-embel kata "Maha" di depan kata "Siswa" menunjukkan betapa di-"agung"-kannya kita sebagai agent of change. Rakyat secara tidak langsung bergantung pada Mahasiswa untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik berdasar apa yang didapat selama duduk di bangku kuliah.
           Beban di pundak Mahasiswa sebagai agent of change ini terkadang diartikan lain. Fungsi Mahasiswa ini sering diartikan dapat ilmu sebanyak-banyaknya dengan waktu sesingkat-singkatnya. Mahasiswa sering berpikir bahwa nilai bagus adalah mutlak. Apapun cara dianggap pantas untuk mencapai tujuan itu. Seperti menganggap Mahasiswa hanya Kuliah-Makan-Pulang-Belajar-Tidur. Pragmatis mungkin kata yang tepat. Sifat ini cenderung self-oriented karena tujuan yang ada di depannya harus dicapai walau mengorbankan orang lain.
              Di sisi lain, Mahasiswa mempunyai sebuah pegangan atau sering disebut idealisme. Semua dianggap harus sesuai dengan pemikirannya, semua harus sesuai jalurnya. Apapun yang menyimpang akan dianggap salah. Tak dapat dipungkiri, kini idealisme dan pragmatisme sering tercampur aduk sehingga jika ditelaah kita sendiri pun bingung apa yang diharapkan Mahasiswa.
            Seperti contoh Pemira (Pemilihan Raya Mahasiswa) di salah satu universitas di Jogja beberapa bulan yang lalu. Pemira dianggap sebagai jalan tercepat untuk mendapatkan seorang pemimpin. Alasan yang ada adalah struktur masyarakat yang seperti ini kurang mendukung untuk diadakannya sebuah musyawarah. Ya, dapat dianggap ini adalah sebuah pragmatisme. Sedangkan di dalam diri Mahasiswa tentu masih terbersit jiwa untuk membangun Indonesia berdasarkan karakter maupun jati diri bangsa. Seperti yang kita tahu bahwa karakter bangsa adalah tercermin di sila ke-4 Pancasila, "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan". Idealisme Pancasila yang tak akan terlupakan, bahkan oleh Mahasiswa itu sendiri. Tak dapat dielakkan Pemira memunculkan aura persaingan hingga terkadang saling menjatuhkan dengan black campaign.
           Jadi, manakah sebenarnya sosok Mahasiswa kini? Idealis atau cenderung pragmatis? Melihat contoh di atas, pragmatisme dapat diatasi dengan musyawarah. Dimulai dari tingkat terbawah, misal perwakilan prodi atau jurusan, dilanjutkan hingga ke tingkat perwakilan paling atas, universitas. Butuh waktu lama? Pasti. Tapi inilah cara jika idealisme harus tetap dipertahankan. Di sini Indonesia, karakter bangsa timur yang wajib dijunjung.
            Menjadi idealis atau pragmatis itu pilihan. Kembali lagi harus dengan pertimbangan kemampuan, prioritas, serta perkiraan hasil. Secara sederhana, idealis adalah plan oriented, sedangkan pragmatis adalah easy going. Idealis yang harus sesuai jalur yang ditentukan, di luar itu adalah salah. Pragmatis yang nyaman dengan dirinya sendiri, cenderung tak peduli dengan orang lain.
               Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mau menerima budaya luar namun tak meninggalkan budaya sendiri. Jati diri bangsa adalah kesederhanaan sesuai norma yang ada. Idealis dan pragmatis telah berbaur dalam kehidupan sehari-hari. Banyak penjelasan tentang sosok idealis dan pragmatis, terutama di ECC UGM. Bagaimanapun itu, jadilah kita sesuai jati diri kita. Manapun pilihan yang diambil, berkacalah terhadap jati diri kita.
           
Baca SelengkapnyaBerkaca Terhadap Jati Diri

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Superhero Logic, SuperherWOW

          Kembali ke tempat ini. Setelah setengah tahun hilang dari dunia nge-blog, akhirnya bisa kembali lagi. Kayaknya perlu berbenah nich, perlu atur waktu buat nulis lagi. Sarang laba-laba mulai muncul di otakku setelah lama nggak nulis. Ngomong-ngomong tentang sarang laba-laba, jadi pengen mengulang apa yang pernah aku twit di @fbi_1412 lagi dech. Twit GJ lebih dari setahun yang lalu tentang logika para superhero dunia barat :p Ini mereka:

  • Spiderman adalah manusia laba-laba. Jaring bakal keluar dari pantat laba-laba. Tapi kenapa Spiderman jaringnya keluar dari tangan? Untuk men-"sopan"-kan penampilan? It's okay #superherWOW
  • Tahu kan superhero yang nggak pakai topeng? Tepat, Superman. Satu hal yang pasti ditanyakan dari dulu hingga sekarang, kenapa pakai celana dalam di luar? :D Seni mungkin. Satu lagi, meski nggak pakai topeng, tapi identitasnya nggak ketahuan. Bagaimana bisa? Entahlah #superherWOW
  • Manusia serigala atau Werewolf cuma ada saat bulan purnama. Perubahannya menjadi serigala ditandai dengan munculnya bulu lebat di tubuhnya. Jangan-jangan karena gaya tarik bulan purnama yang kuat bulu-bulunya tertarik keluar dari tubuhnya hingga jadi Werewolf #superherWOW
  • Pelari tercepat di dunia, Flash. Lihat betapa cepatnya dia berlari. Tapi yang patut diperhatikan saat dia berbelok. Menurut hukum Fisika, saat dia berbelok dengan kecepatan super, harusnya dia bakal keluar jalur, tersungkur #superherWOW
  • Pengendara sepeda motor? Ya, dia Ghost Rider. Tubuh dan sepeda motornya terbakar. Mungkin si pengendara memang hantu, tapi masak ada motor hantu. Motornya juga nggak terbakar, bannya nggak meleleh #superherWOW
  • Batman, superhero kaya. Lihat saja mobilnya, keren dan canggih. Yang patut jadi pertanyaan, dia nggak bisa terbang tapi pakai jubah di belakang. Beda dengan Superman yang bisa terbang, pakai jubah itu wajar (biar keren, mungkin). Namanya juga Bat (kelelawar). Jangan-jangan dia keluar malam karena malu karena nggak bisa terbang #superherWOW
  • Captain America, adanya cuma di Amerika. Kalau tiap negara punya kapten, di Jepang ada Captain Tsubasa lho :p #superherWOW
  • Superhero hijau? Bukan Kolor Ijo lho. Superhero yang muncul karena kecelakaan laboratorium, Hulk. Dia sebenarnya hanya manusia biasa, tapi saat marah dia akan berubah menjadi besar dan buas. Tiap dia berubah, aku pasti tersenyum. Baju dan semua yang melekat di tubuhnya sobek, tapi kenapa celananya nggak? Elastiskah? #superherWOW
          
    Mungkin itu hanya beberapa superhero yang menurutku di luar logika. Tapi secara keseluruhan, patut diacungi jempol dalam hal kreativitas. Aku tetap menikmati film-filmnya, meski sering senyum-senyum sendiri :D Superhero barat mungkin memang keren, tapi kita jangan lupa dengan superhero kita sendiri yang nggak kalah WOW.
Baca SelengkapnyaSuperhero Logic, SuperherWOW

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Aku, Kamu, dan Perbedaan Kita


              “Lihat aku, aku jadi best seller lho.....” kata sebuah buku novel karya penulis terkenal. “Best seller kalau cuma bikin orang senang berimajinasi, sama aja bohong...” kata buku yang lain. “Aku nich, buku kesehatan pasti banyak orang yang jadi sehat karena aku. Hahaha......” sebuah buku kesehatan tertawa angkuh. Buku yang lain tak kalah angkuh. Mereka saling menyombongkan diri dan menjatuhkan buku yang lain. Riuh di sebuah toko buku.
           Saling mencari kelemahan mungkin adalah hal biasa di jaman sekarang. Saling menjatuhkan untuk berdiri di puncak paling atas. Serta saling sikut untuk buktikan tak ada lagi yang sehebat diri sendiri. Semua diusahakan, dilakukan, dan dipaksakan supaya semua mata memandangnya. Entah mata sinis, setuju, atau acuh.
            Saat kita memandang ke atas, mungkin hanya sebagian kecil yang dapat kita jadikan contoh baik. Sebagian yang lain hanya pendompleng dengan pengakuan bahwa mereka paling peduli. Ke atas, kepada pemerintahan kita. Ada lagi selain saling tuduh, saling hantam, dan saling angkat tangan?
          Aku, kamu, dan perbedaan di antara kita. Tak ada manusia yang tercipta sama, bahkan kembar sekalipun. Kita pun begitu. Tercipta beda dengan karakter yang tak sama. Suatu waktu aku berjalan dan melihatmu berkumpul dengan kalanganmu. Orang mungkin menyebutnya “teknokrat” atau apalah itu. Tapi aku senang menyebutnya sebagai “pemikir yang punya misi”. Di waktu yang lain aku melihat temanmu. Dia “aktivis”, begitu kata orang. Perjuangannya memang tak diragukan. Perjuangan yang harus sesuai sistem dan alur. Perjuangan yang menolak segala non-mainstream, nyleneh, ataupun intermezzo.
          Absurd yang aku ungkapkan di sini? Memang begitulah. Terkadang bicara lugas dan apa adanya sangat ditentang di negeri ini. Lingkunganku tak kalah begitu. Perbedaan akan langsung ditendang, pemikiran akan langsung dibuang. You know that we are different. Kita Indonesia, berbeda tapi tetap satu. So, masih tetapkah kita berselisih?
           Mungkin aku bukan golonganmu, bukan juga kalanganmu. Tapi aku di sini, mendukungmu selalu. Aku tak pernah menjatuhkanmu. Aku hanya kadang berpikir “salahkah jika aku berbeda?”. Kita punya style masing-masing. Kita berjalan dengan kemampuan terpendam kita. Kita tunjukkan bahwa kita dapat saling mendukung, saling melengkapi. Bukan kerja bareng, tapi kerja sama. Saat kau di jalan mainstream, aku berlalu di tapak non-mainstream. Percayalah, kita akan tersenyum bersama karena aku, kamu, dan perbedaan kita ini.
Baca SelengkapnyaAku, Kamu, dan Perbedaan Kita

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Berharganya Waktu Bersama Keluarga

Pernahkah kalian menanyakan kabar anggota keluarga kalian?
"Bagaimana kabarmu ayah, ibu?"
Saya yakin hanya sedikit yang sering melakukannya. Bahkan bisa dibilang jarang ada yang melakukannya. Hanya sekedar menanyakan kabar orang yang kita sayangi pun jarang :(

Kerap kali terbersit rasa bersalah dan nggak enak ketika saya pulang malam dari kampus, entah itu tidak disengaja karena mengerjakan tugas ataupun sedikit disengaja karena terlalu asik dengan teman-teman di kampus. Padahal kita tidak tahu bagaimana kedua orangtua di rumah cemas menanti kedatangan kita. Kita tidak tahu bahwa ibu kita sudah membuat masakan khusus untuk anak tersayangnya. Terkadang kita sudah makan sewaktu di kampus, dan apa yang terjadi? Masakan ibu kita yang dibuat dengan sepenuh hati tidak termakan :(

Belum lagi ketika sesampainya di rumah, kita masih asyik mengerjakan tugas-tugas. Tidak ada waktu yang kita luangkan untuk sekedar berkumpul dan bercengkrama dengan orang tua dan saudara-saudara kita. Waktu seharian sudah kita gunakan di luar rumah, bisa dibilang di rumah kita hanya menumpang makan dan tidur.

Keluarga itu nomor satu dan paling penting. Karena hanya keluarga yang mau menerima kita dalam kondisi seburuk apapun. Sebisa mungkin luangkanlah waktu walaupun sedikit untuk keluarga kita, untuk duduk bersama, bercengkrama hal-hal ringan, atau hanya sekedar menyapa menanyakan kabar. Sebisa mungkin pula gunakanlah waktu weekend untuk berkumpul bersama keluarga. Kita tidak tahu apa yang terjadi esok hari, manfaatkanlah waktu sebaik mungkin bersama orang-orang yang kita sayangi, keluarga kita sendiri.

Love ibu, bapak, dek Fakhri, dan dek Fida..
Baca SelengkapnyaBerharganya Waktu Bersama Keluarga

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nostalgia 7 Tahun Lalu di Pusat Kota


       Yogyakarta, kota kecil yang mempunyai daya tarik tersendiri di mata para wisatawan. Kalau berbicara tentang Yogyakarta, orang awam akan menerka bahwa pusat/tengah kotanya berada di kawasan Malioboro. Memang benar, titik nol kilometer berada di kawasan Malioboro. Tepatnya di perempatan kantor pos besar Yogyakarta. Teringat tujuh tahun lalu, setiap hari saya beraktivitas di lingkup tengah kota karena saya bersekolah di SMP 2 Yogyakarta. Banyak suka duka yang saya alami ketika bersekolah disana.
       Sukanya adalah karena di pusat kota, relatif dekat untuk mencapai tempat-tempat strategis yang dulu. Dan sekolah saya SMP 2 dekat dengan Malioboro, Kantor Pos Besar, Bank Indonesia, Pasar Bringharjo, Shopping, dan Taman Pintar. Seperti dulu ketika sekolah pulang cepat, saya memanfaatkan waktu untuk bermain di sekitar Malioboro. Cukup dengan berjalan kaki dan dalam waktu yang singkat, saya sudah bisa sampai di Malioboro. Walaupun sebenarnya yang saya dan teman-teman lakukan hanyalah hal yang tidak penting. Sekedar windows shopping, lalu membeli es krim di restoran cepat saji. Kalau tidak ke Malioboro, tujuan yang lain adalah menuju Pasar Bringharjo. Dulu ketika SMP, sering ada tugas PKK untuk membuat bunga dari sedotan dan tugas menyulam. Kami bisa mudah mendapatkan bahan-bahannya hanya dengan mengunjungi Pasar Bringharjo.
       Sementara dukanya adalah......................
       Seperti sekarang ketika marak demo tentang kenaikan BBM. Para aktivis atau mahasiswa yang melakukan demo pasti akan memilih tempat yang strategis. Dan titik nol kilometer adalah tempat yang mereka pilih. Alhasil lalu lintas menjadi tidak lancar dan macet. Bus-bus menjadi lambat dan sering mengalihkan jalur seenaknya (saya dulu pulang sekolah naik bis). Kadang kalau tidak dapat bis, saya harus pulang jalan kaki. Lumayan menguras keringat berjalan satu kilometer. Belum lagi ketika “Sekaten” sedang berlangsung. Kawasan Alun-Alun Utara dipadati oleh pengunjung yang berjubel. Hal tersebut juga menyulitkan saya untuk pulang. Sekitar jam 5 sore, pasti jalan menuju Alun-Alun Utara sudah ditutup. Padahal karena aktivitas di SMP, saya harus pulang sore. Alhasil saya tidak bisa pulang naik bus juga dan harus berjalan kaki :(
       Nostalgia 7 tahun yang lalu, mengingatkan ada sisi “rekoso” dalam kehidupan saya. Mungkin kelak akan menjadi pengalaman yang menggelikan untuk dikenang. ^^
Baca SelengkapnyaNostalgia 7 Tahun Lalu di Pusat Kota

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Orang Autis Itu Luar Biasa

Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun. Penyebab autisme adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif. Gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal.

Autisme, ternyata menimpa adik saya, Fakhri Rozan Kurniawan. Gejala awalnya mulai diketahui saat dia berumur 2 tahun. Pada kisaran umur tersebut, anak normal seharusnya sudah bisa berbicara mengucap beberapa patah kata. Tetapi sampai usia 2 tahun, adik saya belum bisa berbicara. Sudah dibawa ke dokter THT, tetapi dokter menyatakan semuanya normal dan tidak ada gangguan. Kemudian diketahuilah bahwa adik saya mengidap autisme.

Dulu adik saya sempat disekolahkan di sekolah khusus autis, yaitu di Bina Anggita (daerah Banguntapan Bantul). Kalau saya nggak salah ingat, waktu itu saya masih sekolah kelas 4 SD. Biayanya pun tidak murah, sebulan harus membayar SPP sekitar 300-400 ribu rupiah. Di sekolah khusus itu, adik saya diajari untuk bicara, menggambar, mencocokkan warna, mencocokkan pola, mencocokkan gambar, serta mengenali bagian tubuhnya sendiri (sampai sekarang dia masih lancar melakukannya). Namun, mengingat biayanya yang cukup mahal, akhirnya orangtua saya memutuskan untuk tidak melanjutkan menyekolahkan adik saya. Dan akhirnya adik saya sehari-hari hanya di rumah.

Di rumah, adik saya tetap diajari untuk mengucapkan kata-kata. Walaupun untuk mengucap kata-kata dia masih harus dituntun, maklum anak autis susah untuk berkonsentrasi. Kata-kata yang paling sering diajarkan untuk ditirukan adalah "Bapak" dan "Ibu" :D
Namun saya merasa adik saya juga punya kelebihan. Pendengarannya sangat peka. Dia bisa hafal suara langkah keluarganya ketika pulang ke rumah, dan dia pasti menyambutnya dengan mengintip ke arah jendela. Dan itu hanya dia lakukan, ketika mendengar langkah kaki keluarganya saja (bapak, ibu, saya, dan adik saya yang satunya lagi). Kemudian kelebihannya yang lain adalah adik saya suka akan keteraturan dan memiliki daya ingat tinggi. Ketika suatu barang tidak pada tempatnya, dia pasti akan mengembalikannya ke tempat semula. Contohnya adalah ketika letak kunci motor saya dan bapak saya tertukar tempatnya, dia pasti akan menukarnya kembali. Pokoknya dia hafal dengan letak semua barang yang ada di rumah. Saya yakin dia luar biasa, dan mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.

Sekarang adik saya hampir berusia 16 tahun. Memang adik saya termasuk yang perkembangannya terlambat, karena di usia yang seharusnya dia sudah bersekolah di SMA, dia bahkan masih belum bisa bicara. Yang anak autis butuhkan adalah perhatian lebih. Anak autis punya kesempatan untuk sembuh. Semoga saya dan keluarga saya selalu diberikan kesabaran untuk terus mendampingi adik saya Fakhri sampai sembuh. Amin :)




Baca SelengkapnyaOrang Autis Itu Luar Biasa

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hukum yang Dihukum


                  Akhir-akhir ini harga sandal jepit melambung tinggi. Tak hanya kisaran puluhan ribu, tapi seharga 5 tahun penjara. Entah bagaimana cara menkonversi 5 tahun penjara sehingga harganya sebanding dengan harga sandal jepit. Tanyakan saja pada rumput yang menggeleng-geleng. Geleng-geleng karena heran dengan hukum yang ada.
                Bukan hanya sekedar isu ataupun gosip yang beredar tertiup angin. Bukan juga seperti kertas yang dibakar lalu tinggal abu dan hilang. Ini fakta, sebuah rahasia umum. Mungkin saat ada 10 orang ditanya pendapatnya tentang hukum di Indonesia, 8 orang di antaranya akan menjawab “omong kosong”. Tak bisa dipungkiri, hukum kini telah menjadi tong kosong yang berbunyi nyaring. Setiap orang sama kedudukannya di depan hukum, benarkah? Setuju? Atau omong kosong?
                 Kasta dan strata adalah pemisah yang abstrak namun nyata saat dirasa. Hukum Indonesia seperti didikte kasta dan strata. Yang miskin semakin sengsara, yang kaya berfoya-foya. Hukum yang bermartabat seharga sandal jepit. Hukum yang bermartabat ini yang membawa seorang anak maju ke meja hijau. Kasus yang terjadi setahun lalu, baru sekarang peradilan berjalan. Mungkinkah adanya kepentingan pihak tertentu? Atau memang hukum memandang setiap orang sama “kedudukannya”, sesuai kasta tentunya. Dalam hal ini saya tak menyalahkan hukum. Hanya pelaksana hukumnya saja yang sedikit abu-abu. Sandal jepit seharga 5 tahun penjara, tapi koruptor seharga 2 tahun penjara plus remisi isi ulang. Pengambilan keputusan dengan hati? Entahlah.
                Setiap kesalahan pasti ada hukumannya, tak diragukan lagi. Meski itu sekecil biji sawi, pasti hukum akan berlaku. Namun , hukum yang adil berdasar pada tingkat kesalahan. Tak pantas pencuri ayam dihukum 5 tahun penjara, sedangkan tukang suap hanya diberi masa inap di penjara selama beberapa bulan. Apa esensinya dewi keadilan membawa timbangan dan ditutup matanya jika simbol itu hanyalah sekedar pajangan di tembok-tembok saksi bisu kotornya hukum. Yang ditakutkan, simbol itu kini diartikan sebagai hukum yang tutup mata akan kotornya diri sendiri, tutup mata terhadap tertindasnya rakyat kecil. Hukum yang dihukum ketika hukum itu tak sesuai kehendak penguasa.
                Sejenak melepas pandangan akan sisi negatif hukum Indonesia, terdapat pula sisi positif hukum itu. Koruptor mulai banyak yang diciduk melalui KPK. Juga kasus-kasus penindasan HAM mulai diusut kebenarannya. Saya tetap yakin hukum di Indonesia akan mampu menyamakan kedudukan tiap orang di depannya. Asalkan para pelaksana hukum tak hanya bisa mendongak, tetapi juga menunduk memahami kaum di bawah. Waktu yang akan menjawab, akankah hukum tetap dihukum atau hukum akan menghukum setiap kesalahan laku di Indonesia.


Gambar: http://obyektif.com/pict/80769589ketok%20palu%20hakim.jpg

Baca SelengkapnyaHukum yang Dihukum

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS